"Duh, Nenek Lampir... lo ngapain sih? Sok-sokan jadi Ratu di gedung ini," buka Boy dengan nada bicara yang tajam. "Tuh, Pak Polisi dibuat semarah itu sama lo. Lo tuh ya, dari zaman bapak gue masih jadi supir keluarga lo sampai sekarang gue jadi lulusan ternama, otak lo isinya kotoran semua. Nggak berubah. Wajar sih, tempat lo emang cocoknya di bawah mulu, kayak tikus selokan."Dian perlahan mendongak, matanya menyipit tajam. Senyum palsunya hilang seketika. "Boy, ngapain kamu di sini? Berani-beraninya kamu masuk tanpa izin ke ruangan pribadi saya.""Nggak, gue cuma mau mampir sebentar. Mau bilang kalau gue udah tahu semuanya," jawab Boy sambil berjalan mendekat, menatap monitor-monitor di meja Dian. "Gue tahu, Dian. Lo yang bebasin Adrian dari RSJ. Lo yang kasih dia celah buat masuk ke kantor ini. Jangan pikir karena lo mainnya halus, nggak ada jejak yang tertinggal.""Banci seperti mu, bisa apa hah?" gumam Dian dengan suara yang sangat rendah namun berbisa. "Kamu kira kamu siapa
더 보기