LOGINUdara di koridor produksi lantai dasar lebih sejuk dan steril dibandingkan lobi utama. Dengung mesin berteknologi tinggi terdengar konstan dari balik dinding kaca tebal. Di sinilah jantung Korporasi Cokro berdetak tangki-tangki pencampur raksasa berbahan stainless steel berdiri kokoh, siap mengolah ribuan liter bahan baku menjadi formula skincare bernilai triliunan rupiah.Kukuh sudah mondar-mandir di luar ruang produksi sejak pagi, berdalih mengecek kebersihan lantai. Troli kuning Kukuh terparkir rapi di sudut lorong, matanya memindai setiap staf pabrik yang berlalu-lalang.Target yang Kukuh tunggu akhirnya muncul.Dari ujung lorong, Hendra melangkah tergesa. Bukan jas rapi seperti kemarin kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, wajah tegang di balik raut angkuhnya yang biasa. Hendra berjalan lurus ke pintu akses berlapis baja, gerbang utama ruang produksi."Selamat pagi, Pak Hendra," sapa pegawai yang berjaga di pos pengecekan akses, sedikit terkejut melihat petinggi R&D
"Ngene, Le Kukuh," suara Pak Kasiman terdengar parau dan sangat berhati-hati, seolah pria tua itu takut ada yang menguping pembicaraan mereka dari alam lain. Tarikan napasnya terasa berat di seberang sambungan telepon. "Sopo seng nduwe bubuk sengon? Sak ngertine Bapak, bubuk sengon iku lek ndak enek tujuan elek yo mung bubuk kayu biasa. Tapi... lek iku maeng digawe gawe tujuan elek, bubuk sengon iku jeneng liyo soko Rajah Sepi."Mendengar nama itu, Kukuh menajamkan pendengarannya. Ia berdiri bersandar di dinding bata kusam di belakang warung kopi, menjauh dari bisingnya jalanan pagi. "Rajah Sepi, Pak?""Iyo, Le. Dadi iku iso nggawe usahane uwong mandek mak bedunduk. Ndak enek seng tuku, rezekine ditutup rapet. Aurane dadi panas, wong seng liwat utowo arep tuku dadi wegah. Usaha opo wae bakal bangkrut sak nalika," jelas Pak Kasiman dengan nada memperingatkan.Otak taktis Kukuh langsung menyusun kepingan teka-teki itu dengan sempurna. Pantas saja pria misterius berjas hitam semalam meny
"Bapak yakin mau turun tangan sendiri malam ini? Bapak kan Kepala Kebersihan yang baru, urusan lembur membersihkan saluran ventilasi AC di lantai tujuh itu biar dikerjakan anak-anak saja, Pak. Capek dan kotornya minta ampun, lho."Suara Pak Joko, pengawas cleaning service giliran malam, terdengar ragu sekaligus segan menatap pemuda di hadapannya. Seragam biru yang Kukuh kenakan tampak biasa dan sedikit kedodoran, tapi emblem "Kepala Kebersihan" di dada kirinya cukup untuk membuat puluhan pekerja kebersihan di menara ini segan.Kukuh tersenyum tipis, menepuk bahu pria paruh baya itu."Tidak apa-apa, Pak Joko. Justru sebagai kepala yang baru, saya harus tahu seberapa berat medan kerja tim kita, dan mengevaluasi langsung standar kebersihan di area vital seperti laboratorium R&D," jawabnya meyakinkan. "Malam ini biar saya yang inspeksi ke atas. Bapak dan tim fokus saja di lobi dan parkiran."Pak Joko mengangguk hormat, kagum dengan bos barunya yang rela pegang alat pel sendiri, lalu menye
"Kamu benar-benar yakin mau berangkat kerja pakai baju itu, Kuh? Padahal semalam kamu baru saja membuat Daniel Kertabumi, salah satu taipan perhiasan paling berkuasa di kota ini, bertekuk lutut memohon bantuanmu di acara pameran miliaran rupiah."Suara Ratih renyah, diselipi keheranan, mengiringi langkah Kukuh ke ruang tengah. Ia duduk santai di meja makan menikmati teh pagi, menatap penampilan suaminya antara takjub dan geli. Bukan jas mewah berlapis merk desainer, bukan kemeja formal berdasi Kukuh justru mengenakan seragam cleaning service biru muda yang kedodoran, lengkap sepatu bot karet hitam setinggi betis.Kukuh tersenyum tipis, tangannya cekatan mengancingkan kerah seragam birunya."Jas mahal bernilai ratusan juta memang bisa menaikkan gengsi, Ratih. Tapi pakaian seperti itu cuma membatasi gerakku dan membuat semua mata tertuju padaku," jawabnya menenangkan. "Di balik seragam biru murah ini, tidak ada yang mempedulikanku. Di situlah kekuatanku yang sebenarnya untuk mengawasi
"Mohon maaf, Pak Daniel. Saya tidak memiliki kenalan orang yang seperti itu," jawab Kukuh dengan nada bariton yang sopan namun mengisyaratkan penolakan mutlak. "Saya ini hanyalah seorang mahasiswa biasa. Apa yang terjadi malam ini hanyalah kebetulan semata karena saya sedikit mengerti tentang dasar-dasar energi, bukan karena saya berprofesi di bidang tersebut."Mendengar jawaban itu, raut wajah Daniel Kertabumi seketika menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Bahu sang taipan perhiasan itu sedikit menurun. Ia baru saja melihat keajaiban mutlak di depan matanya dan berharap bisa mengamankan keselamatan keluarganya melalui koneksi pemuda misterius ini.Namun, sebelum kekecewaan Daniel memuncak, Kukuh menoleh ke arah istrinya dan melanjutkan kalimatnya."Akan tetapi, jika Anda bersedia, mungkin Ratih bisa membantu Anda dalam kapasitas yang berbeda," ucap Kukuh, sengaja mengalihkan lampu sorot dan pusat perhatian kepada gadis cantik di sebelahnya. "Ratih mungkin tidak bisa mengusir entitas
Melihat tiga sekuriti berbadan kekar itu nyaris kehabisan napas hanya untuk membuka satu kepalan tangan pria tua renta, Kukuh menyadari bahwa tenaga fisik manusia biasa tidak akan pernah bisa melawan cengkeraman energi entitas gaib dari pedalaman tersebut. Ia harus menggunakan benda penawar yang memiliki resonansi spiritual tingkat tinggi.Kukuh segera menoleh ke arah istrinya yang berdiri tak jauh dari panggung dengan wajah tegang."Tih, lepas kalungmu yang ada di pergelangan tanganmu sekarang," ucap Kukuh dengan nada cepat dan memerintah.Ratih terkesiap sesaat, namun tanpa banyak bertanya ia langsung memahami maksud suaminya. "Sebentar, Kuh."Dengan cekatan, jari-jari lentik Ratih mengurai lilitan Kalung Bhre Wengker sebuah pusaka kuno pelindung dari marabahaya yang selama ini selalu ia kenakan sebagai gelang di pergelangan tangannya. Begitu terlepas, Ratih langsung menyodorkan benda bertuah itu. "Ini, Kuh."Kukuh menyambar kalung tersebut dan berbalik menghampiri tubuh Pak Lasemo
Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik







