Kata-katanya sangat tajam. Apa pun yang neneknya katakan, Priya tidak mau mendengar. Tak lama kemudian, Priya langsung keluar dari kamar neneknya.Zavian memandang neneknya. Hari itu, neneknya duduk sendirian di balkon, sangat lama.Soal rumah itu, Zavian tahu di atas kertas memang hanya tertulis nama Lunara. Namun sebenarnya, itu milik tiga orang.Lunara, Priya, dan anak di dalam kandungan Priya yang tidak pernah lahir karena konflik ibu mertua dan menantu.Apa pun yang terjadi, Zavian tidak akan memperebutkan uang itu.Priya mengangguk pelan. "Bukan nggak bisa. Kamu juga susah, setiap hari harus dengar orang tuamu bicara seperti itu."Zavian tersenyum polos. "Nggak apa-apa, aku sudah terbiasa."Lunara mengantar Zavian beberapa langkah. "Kak Zavian, soal Meidy waktu itu sebenarnya gimana?""Orang tuaku kangen sama Meidy. Mereka nggak bilang padaku, langsung menjemputnya. Saskia sampai kaget, dikira aku mau merebut anaknya. Orang tuaku ingin Meidy ganti marga, kembali ke pihakku, tapi
Read more