Suara gelas pecah memantul keras. Satria langsung berlari dan mendapati pemandangan yang membuat jantungnya mencelos. Gelas air putih jatuh di lantai, pecah berserakan. Sheza setengah duduk di ranjang, napasnya terengah, tangannya gemetar, selang infus tertarik sedikit. “Zee,” panggil Satria cepat. “Mau ke mana?” Pandangan Satria menyapu serpihan kaca yang masih berserak di lantai, sementara Sheza duduk di tepi ranjang dengan kaki terjulur. “Aku baru minum, Mas,” jawab Sheza pelan. Suaranya masih lemah. “Maaf … aku jatuhin gelasnya.” Ia menarik napas sebentar. “Nggak apa-apa …,” kata Satria dengan pandangan menyapu lantai. “Sekarang … aku mau ke toilet.” Sheza menyibak selimut. Namun sebelum telapak kakinya menyentuh lantai, Satria sudah berdiri di depannya. “Ada serpihan kaca,” katanya tenang tapi nadanya tegas. “Nanti aku panggil Mbak Tuti buat beresin.” Ia berhenti sejenak, lalu meraih kantong infus dan meletakkannya ke pangkuan Sheza. “Sekarang biar aku….” Satria menu
Last Updated : 2026-01-21 Read more