Ruang rawat itu terlalu terang untuk sebuah pagi yang seharusnya tenang. Tirai tipis hanya menahan cahaya setengah hati. Bau antiseptik menggantung, bersih dan dingin. Nayla tertidur setelah obat penurun panas bekerja. Napasnya teratur, pipi masih sedikit merah, tapi tidak lagi sepanik semalam. Di sisi ranjang, Satria duduk dengan satu kaki menyilang, punggung tegak, ponsel di tangan. Layarnya penuh pesan masuk; pelabuhan, kantor, satu kapal yang akhirnya mendapat tanda tangan. Ia membaca tanpa ekspresi. Menjawab seperlunya. Dari sudut ruangan, Nadine memperhatikannya. Rambutnya tersisir rapi. Wajahnya bersih, nyaris tanpa rias berlebihan; cantik dengan cara yang disengaja. Ia membawa dua gelas kopi dari vending machine rumah sakit, satu ia letakkan di meja kecil, satu ia pegang sendiri. “Kopinya pahit,” katanya pelan, seolah tak ingin mengganggu tidur Nayla. “Kayak yang kamu biasa minum.” Satria menoleh singkat. “Makasih.” Ia mengambil gelas itu, menyesap sekali, lalu kembali
Last Updated : 2026-01-30 Read more