Share

Mabuk

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-01-29 16:59:25

Malam itu Clara hampir tak tidur.

Mimpi buruk datang berulang, seperti pita rusak yang diputar paksa. Ia melihat pisau dan darah. Ia mendengar jeritan ibunya.

Yang paling tidak bisa Clara lupakan adalah wajah Veronika yang dingin menatap seolah tanpa rasa bersalah.

Clara terbangun dengan napas terengah, tubuhnya basah oleh keringat.

Tirai jendela sudah berpendar pucat. Matahari mulai naik.

Ia duduk lama di tepi ranjang, memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan detak jantung.

Clara bang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Thomas Asli

    Ponsel di tangan Clara terus berdering, memecah kesunyian ruang tamu mansion yang sejak tadi dipenuhi ketegangan. Suaranya terdengar begitu nyaring sampai semua orang di ruangan itu tanpa sadar menoleh ke arah layar yang menyala di genggamannya. Nama itu muncul jelas—Hans. Alis Clara langsung berkerut. Dadanya yang sejak tadi sudah terasa sesak kini semakin kacau. Jantungnya berdetak terlalu cepat. “Jangan angkat,” ujar Thomas. Nada suaranya masih sama seperti biasa. Lembut dan stabil. Namun Ckara merasa heran dan bingung. Dan panggilan itu berhenti, tak lama kemudian—Ting! Sebuah pesan masuk. Clara refleks menunduk melihat layar ponselnya. Lalu dalam satu detik, tubuhnya membeku di tempat. 'Clara, ini aku, Raymond, hati-hati jika Thomas datang. Aku akan segera kembali. Thomas pelakunya.' Napas Clara tercekat. Matanya membesar perlahan, membaca ulang pesan itu sekali, dua kali, lalu sekali lagi, seolah otaknya menolak menerima arti dari kata-kata tersebut. 'Thomas pelakun

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mafia Psikopat

    Pintu itu terbuka perlahan, dan cahaya dari luar menyusup masuk, membelah kegelapan ruangan seperti pisau tipis yang tajam. Siluet seseorang berdiri di ambang pintu, tinggi dan tegap, napasnya terdengar berat seolah baru saja menempuh jarak jauh.“Hans…” desis Ken lirih, hampir tak percaya.Raymond tidak berkata apa-apa, tetapi sorot matanya berubah dalam sekejap. Dingin. Keras. Mematikan.Keheningan hanya bertahan sesaat, karena dalam detik berikutnya—Krak.Tali yang mengikat tangan Raymond akhirnya putus.Serpihan kaca yang sejak tadi ia genggam berhasil mengoyak serat terakhir. Tanpa memberi ruang pada siapa pun untuk bereaksi, Raymond langsung bergerak. Tubuhnya yang terluka seakan tak berarti, amarah yang menumpuk mengambil alih segalanya.Ia menerjang ke depan.“TUAN—!” Ken tersentak.BUG!Pukulan pertama mendarat telak di wajah Hans, membuat pria itu terhuyung ke belakang hingga menghantam dinding. Namun Raymond tidak berhenti. Tidak memberi waktu. Tidak memberi napas.Pukulan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Disekap

    Gelap. Bukan sekadar ketiadaan cahaya—melainkan sesuatu yang terasa hidup. Pekat, berat, menekan dari segala arah, seolah udara di dalam ruangan itu sendiri ikut membungkam suara dan harapan. Ken mengerang pelan. Kesadarannya kembali perlahan, seperti ditarik paksa dari dasar jurang yang dalam. Kepalanya berdenyut hebat—tajam, menusuk, seakan ada sesuatu yang retak dari dalam tengkoraknya. Napasnya berat, tersendat, dan tidak teratur. Ia perlahan membuka mata. Cahaya redup langsung menyilaukan. Hanya satu lampu kecil yang menggantung di langit-langit, berayun pelan, menciptakan bayangan yang bergerak liar di dinding lembab. Cahaya itu tidak cukup untuk menerangi ruangan—hanya cukup untuk memperlihatkan betapa sempit dan dinginnya tempat itu. Bau menyengat langsung menusuk hidungnya. Bau besi yang berkarat, dan sesuatu yang lebih tajam—darah. Ken mencoba bergerak. Namun tubuhnya tertahan. Tangannya sudah terikat ke belakang, kakinya juga. Ikatan itu kasar, kuat, dan begitu kenca

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hari H 1

    Hans melangkah masuk lebih jauh ke dalam kamar. Pintu di belakangnya masih terbuka sedikit, membiarkan cahaya dari lorong merayap masuk dan memotong bayangan di lantai. Setiap langkahnya meninggalkan jejak samar—debu halus yang jatuh dari ujung pakaiannya, seolah ia baru saja keluar dari tempat yang jauh. “Clara…” ucapnya lagi, kali ini lebih pelan. Lebih berat. Clara tetap berdiri di tempat. Ada sesuatu yang aneh dalam cara Hans menyebut namanya—bukan sekadar panggilan, tapi seperti tekanan yang tak terlihat. Membuat bulu kuduknya perlahan meremang. “Ada apa, Hans?” tanyanya hati-hati. Hans tidak menjawab. Ia hanya menatap Clara. Tidak hangat seperti biasanya. Tidak juga dingin sepenuhnya. Namun kosong—dalam—sesuatu yang tidak bisa Clara pahami. “Hans…?” suara Clara mulai bergetar. Hans melangkah maju, satu langkah, lalu satu lagi. Jarak di antara mereka menyempit perlahan. Clara tanpa sadar mundur setengah langkah. “Ada apa…?” ulangnya, kali ini hampir berbisik. Hans me

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sesuatu yang Buruk

    Ledakan itu datang tanpa ampun.Satu dentuman besar memecah malam—keras, menggetarkan udara seperti petir yang jatuh tepat di atas kepala. Dalam sepersekian detik, cahaya api meledak dari dalam mobil, menghantam kaca dan rangka logam hingga semuanya terlempar ke segala arah.Mobil itu terangkat sesaat, seolah kehilangan pijakan, lalu terhempas keras ke sisi jalan.Debu, asap, dan serpihan logam berhamburan, membelah kegelapan yang tadi begitu sunyi.Lalu… hening.Hanya suara kecil dari besi yang retak, dan api yang mulai menjilat perlahan, merambat dari kap mesin menuju bagian dalam mobil. Bau bensin bercampur asap hangus memenuhi udara—pekat, menusuk, membuat napas terasa berat.Di tengah kekacauan itu—tubuh Ken terlempar keluar bersama pintu yang terlepas. Ia terguling di tanah, berhenti beberapa meter dari mobil yang kini mulai terbakar.Napasnya tersengal hebat. Darah mengalir dari pelipisnya, hangat dan lengket.“Tuan…” suaranya serak, nyaris tak terdengar.Ia mencoba bangkit, n

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   BOM

    Ken menatap Raymond dengan sorot mata yang berbeda dari biasanya—lebih tajam, lebih dalam. “Apa itu?” tanya Raymond rendah. Ken menarik napas sebentar sebelum akhirnya berkata, “Lokasi, Tuan. Salah satu orang kita menemukan tempat yang kemungkinan besar… berkaitan dengan pelaku.” Clara yang masih berada dalam pelukan Raymond langsung menegang. “Tempat?” ulang Raymond. Ken mengangguk. “Gudang lama di pinggiran kota.” Ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata-kata berikutnya. “…dan ada sesuatu di sana.” Raymond menyipitkan mata. “Sesuatu?” “Jejak,” jawab Ken. “Dan kemungkinan… dia pernah berada di sana.” Hening sejenak. Clara perlahan melepaskan pelukannya, meski tangannya masih mencengkeram jas Raymond, seolah enggan benar-benar membiarkannya pergi. “Kau mau ke sana?” tanyanya pelan. Raymond menatapnya. “Aku harus ke sana,” jawabnya tanpa ragu. Clara langsung menggeleng cepat. “Jangan.” Satu kata itu keluar lirih, namun sarat ketakutan. Raymond menghela napas pelan, lal

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Romantis

    Beberapa hari setelah kejadian itu, suasana di rumah sakit perlahan berubah. Bau obat-obatan yang semula terasa menyesakkan, kini tidak lagi terlalu menakutkan. Monitor jantung Raymond sudah dilepas. Infus di tangannya tinggal satu. Wajahnya juga tidak sepucat hari pertama ia sadar. Meski begitu,

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Saat Clara Pergi

    Clara menutup mulutnya, dan seketika air matanya kembali jatuh, dadanya terasa sesak—seolah ada sesuatu yang menekan begitu kuat hingga ia sulit bernapas. “Jadi… kondisinya berbahaya?” tanyanya dengan suara pecah. Dokter itu terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan. “Kami masih berusaha me

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Di Telan Bumi

    DOR! Suara tembakan itu memecah keheningan seperti petir yang menyambar terlalu dekat. Dinding kamar bergetar halus, dan dalam sekejap—suasana yang tadinya hangat dan rapuh berubah menjadi tegang dan mencekam. Clara tersentak. Matanya membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Refleks, ia lan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kelembutan Sang Mafia

    Ken tidak membuang waktu. Dengan gerakan kasar, ia dan dua orang petugas keamanan menyeret pria pelaku itu ke arah mobil. Tangan pria itu sudah terikat ke belakang, wajahnya penuh keringat, matanya liar dipenuhi ketakutan. Sepatu pria itu terseret di lantai, meninggalkan bunyi gesekan yang parau d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status