Share

Kabur

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-01-29 17:00:11

Raymond menunduk.

Napas hangatnya menyentuh kulit Clara sebelum bibirnya mendarat di lehernya. Ini bukan ciuman yang lembut, melainkan seperti tanda klaim yang dingin dan begitu mendesak.

Aroma alkohol bercampur wangi maskulin menekan kesadarannya.

Clara tersentak.

Refleks, tubuhnya berontak. Tangannya terayun tanpa pikir panjang.

PLAK!

Suara itu pecah di udara.

Raymond terdiam. Tangannya terangkat menyentuh pipinya yang tersambar. Rahangnya mengeras seketika, garis wajahnya menegang.

Clar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bunuh Diri

    “Aku baik padamu…” suaranya mulai pecah. “Aku selalu ada untukmu…” Ia tertawa lagi, tetapi kali ini air mata mulai jatuh membasahi pipinya. “Aku membunuh semua orang yang menyakitimu…” “Itu bukan cinta!” bentak Clara sambil menangis. “Itu obsesi!” Thomas langsung terdiam. “Bahkan kau membunuh Kakek Charly!” Tubuh Thomas menegang. “Kau hampir membunuh Bibi Janeta!” “Itu karena kamu!” bentak Thomas tiba-tiba. Suaranya menggema penuh emosi yang kacau dan tidak stabil. “Aku takut kehilanganmu!” “Karena aku mencintaimu!” “Tidak!” Clara menggeleng keras sambil menangis. “Cinta tidak menghancurkan orang lain! Cinta tidak membunuh!” Wajah Thomas perlahan berubah hancur. Benar-benar hancur. Sementara itu, diam-diam Clara melirik ke bawah sekilas. Raymond mulai berhasil naik sedikit demi sedikit. Tangan dan tubuhnya sudah naik ke atas. Clara langsung kembali menatap Thomas, mencoba mengulur waktu. “Kalau kau benar mencintaiku…” suaranya bergetar pelan, “…kau t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hancurnya Hati Sang Psikopat

    “RAYMOND!!!” Jeritan Clara pecah begitu keras hingga menggema di seluruh atap gedung tua itu, bercampur dengan suara angin laut yang meraung liar di tengah malam. Tubuhnya bergerak spontan tanpa sempat berpikir. Ia langsung berlari menuju tepi gedung dengan napas tersengal dan pandangan yang kabur oleh air mata. “Raymond! Raymond!” Tangannya mencengkeram pembatas beton dingin saat ia menunduk panik ke bawah. Dadanya terasa nyaris berhenti berdetak. Lalu detik berikutnya— “Ah…” Napas Clara tercekat. Beberapa meter di bawah sana, tubuh Raymond terlihat—pria itu masih hidup. Satu tangannya masih mencengkeram batang besi karatan yang mencuat dari sisi gedung. Tubuh pria itu menggantung di udara gelap, hanya bertahan dengan kekuatan lengannya sendiri. Sepatunya sesekali membentur dinding beton kasar, sementara angin malam terus menghantam tubuhnya tanpa ampun. Wajah Raymond penuh luka dan darah. Napasnya terdengar berat bahkan dari atas. Namun matanya masih terbuka, masih menatap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Terjatuh

    Tubuh Clara gemetar hebat. “Tidak…” suaranya hancur. Raymond langsung mengangkat tangan menghentikan semua orang. “Turunkan senjata.” “Tapi Tuan—” “SEKARANG!” Bentakan Raymond membuat seluruh anak buahnya terdiam. Perlahan, satu per satu senjata diturunkan. Thomas tersenyum puas melihat itu. “Bagus…” Namun Raymond tidak memedulikan siapa pun selain Clara. Tatapannya melembut sedikit ketika menatap wanita itu. “Clara…” suaranya rendah dan tenang, jauh berbeda dari amarah di wajahnya tadi. “Lihat aku.” Clara menangis sambil mengangguk kecil. “Aku takut, Ray…” Kalimat itu menusuk dada Raymond begitu dalam sampai napasnya terasa berat. “Tidak apa-apa,” bisiknya lirih. “Aku di sini.” Thomas langsung menatap Raymond penuh kebencian. “Kenapa?” suaranya mulai bergetar. “Kenapa dia selalu memilihmu?” Raymond tetap menatap Clara. “Karena dia mencintaiku.” Kalimat itu seperti menghancurkan sesuatu di dalam diri Thomas. Wajah pria itu langsung berubah. Retak. Marah. Dan hancur

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Atap Gedung

    Suara langkah kaki itu semakin jelas menggema di sepanjang lorong tangga gedung tua yang lembap dan gelap. Dentumannya berat, cepat, dan penuh amarah, bercampur dengan suara napas memburu yang memantul di dinding beton kusam. Tap. Tap. Tap. Thomas langsung menoleh tajam ke arah bawah tangga. Rahangnya mengeras seketika, sementara jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Clara semakin kuat sampai wanita itu meringis kesakitan. Sedangkan Clara membelalak penuh harapan. Lalu suara itu akhirnya terdengar. “CLARA!” Suara Raymond mengguncang seluruh bangunan kosong itu. Tubuh Clara langsung tersentak keras. Air matanya jatuh semakin deras, sementara dadanya terasa sesak karena campuran takut, lega, dan putus asa yang datang bersamaan. “Raymond!” teriaknya tanpa sadar. Dan hanya dalam satu detik, wajah Thomas berubah mengerikan. Sorot matanya yang tadi sudah tidak stabil kini benar-benar dipenuhi emosi brutal. Ada kemarahan, kecemburuan, dan kegilaan yang bercampur menjadi sesu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Monster

    “Bahkan wanita tua itu…” gumam Thomas lirih. “…Bibi Janeta.” Thomas menatap matanya dalam-dalam. “Dia tahu sesuatu tentangku.” Tatapannya berubah menyeramkan. “Dan aku takut kau akan menjauhiku.” Air mata Clara jatuh semakin deras. “Kau menghajarnya…” suaranya pecah. Thomas diam beberapa detik. Lalu perlahan ia mengangguk. “Aku tidak punya pilihan.” “Kau MONSTER!” Suara Clara akhirnya pecah menjadi jeritan. Dan detik berikutnya—BRAKK!! Tangan Thomas menghantam dinding di samping kepala Clara begitu keras sampai serpihan semen berjatuhan. “JANGAN MENYEBUTKU SEPERTI ITU!” bentaknya penuh amarah. Clara langsung gemetar hebat. Napas Thomas naik turun tidak teratur sekarang. Matanya memerah oleh emosi yang mulai kehilangan kendali. “Aku melakukan semuanya untuk melindungimu!” “Tidak!” Clara menangis histeris. “Kau hanya ingin memilikiku!” Kalimat itu membuat Thomas mendadak diam. Sunyi beberapa detik. Hanya suara angin laut dan deburan ombak yang terdengar dari luar gedung

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gedung Tepi Pantai

    Sebuah gedung tua berdiri di tepi pantai seperti bangkai raksasa yang terlupakan. Dindingnya dipenuhi retakan panjang dan bercak lembab berwarna kehitaman. Sebagian jendelanya sudah pecah, menyisakan kaca-kaca tajam yang masih menempel di bingkai berkarat. Angin laut menghantam bangunan kosong itu tanpa henti, menyusup masuk melalui celah-celah dinding dan menciptakan suara siulan panjang yang terdengar menyeramkan di tengah malam. Di kejauhan, ombak menghantam karang dengan keras. Brakkk… Brakkk… Suara itu bercampur dengan deru mesin mobil hitam milik Thomas yang akhirnya berhenti mendadak di depan gedung tua tersebut. Tubuh Clara langsung menegang. Matanya bergerak cepat menatap bangunan gelap di hadapannya, lalu beralih panik ke arah Thomas. “Thomas… jangan…” suaranya bergetar hebat. Namun Thomas tidak menjawab. Pria itu turun lebih dulu, lalu membanting pintu mobil sebelum berjalan memutar ke sisi Clara. Gerakannya cepat dan dingin, seolah emosinya sudah berad

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gudang Tua

    “Di mana aku!?”Clara membuka mata dengan dengungan nyeri memukul pelipisnya. Pandangannya berputar, kabur oleh debu dan gelap yang menyesakkan. Bau besi tua dan kayu lapuk memenuhi hidungnya. Ia mengerang pelan, mencoba bangkit—namun kepalanya kembali berdenyut, memaksanya terduduk terhuyung di

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara Hilang

    Raymond berdiri di balkon keesokan paginya dengan rokok menyala di sela jari. Asap tipis naik lurus sebelum diacak angin. Di bawah sana, halaman mansion tenang, seperti biasanya. Di balik kaca, Clara muncul dengan tas kampus di bahu. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya sedikit pucat. Raymond men

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tanda Merah

    Raymond berbalik perlahan.Asap rokok masih menggantung di udara ketika matanya bertemu Ken. Tatapan itu dingin, terkontrol—tatapan pria yang baru saja mengambil keputusan besar dan tak berniat menyesalinya.“Apa yang kau temukan?” tanyanya.Ken menelan ludah. “Madam Veronika bekerja sama dengan Al

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ranjang Tuan Mafia

    Raymond menatap Clara lebih lama dari yang seharusnya. Tatapan itu bukan sekadar menilai—ia membaca, menguliti, mencari celah. “Kau menginginkan sesuatu,” ucapnya pelan, tapi tajam.Kata-kata itu membuat bahu Clara menegang. Napasnya tertahan sesaat, lalu ia melangkah lebih dekat. Tangannya terangk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status