LOGIN“Clark membangun seluruh kekuasaannya untuk Thomas,” lanjut Ken. “Dan sekarang dia kehilangan satu-satunya pewaris.” Tatapan Raymond mengeras sedikit. “Orang yang kehilangan segalanya biasanya jadi paling berbahaya.” Sore harinya, Raymond akhirnya tiba di sebuah hotel mewah di pusat kota. Gedung tinggi itu menjulang megah di tengah langit mendung yang mulai gelap. Lantai lobby pribadi dipenuhi marmer hitam mengilap, sementara lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang elegan namun dingin. Raymond baru berjalan beberapa langkah ketika langkahnya tiba-tiba berhenti. Karena di ujung lorong— Tuan Clark sudah berdiri di sana. Sendirian. Pria tua itu mengenakan setelan hitam elegan dengan tongkat kayu gelap di tangannya. Rambut putihnya tersisir rapi ke belakang, membuat wajah kerasnya terlihat semakin tajam. Tatapannya tenang. Namun dingin menusuk. Ken langsung refleks menegang. “Biarkan,” ucap Raymond rendah. Para pengawal segera mundur. Kini lorong panjang itu
Tatapan Raymond langsung berubah dingin begitu melihat ekspresi Ken di depan pintu kamar. Seketika, suasana hangat yang sejak tadi memenuhi ruangan terasa menghilang begitu saja. Cahaya matahari pagi masih masuk lembut melalui jendela besar kamar mereka. Aroma parfum Clara dan kopi hangat masih samar terasa di udara. Namun dalam satu detik, semuanya berubah menegangkan. Raymond perlahan melepaskan tangan Clara sebelum menatap Ken tajam. “Ada apa?” tanyanya rendah. Nada suaranya tenang. Dan Ken tahu persis—itu pertanda buruk. Pria itu sempat melirik sekilas ke arah Clara sebelum kembali memusatkan perhatian pada Raymond. “Anak buah kita menemukan sesuatu,” jawabnya serius. “Sepertinya ini ulah Tuan Clark.” Nama itu langsung membuat tubuh Clara menegang tanpa sadar. Jantungnya terasa turun sesaat. Bayangan pria tua dengan rambut memutih dan tatapan dingin yang datang ke pesta pernikahan mereka kemarin langsung muncul di kepalanya. Ayah Thomas. Pria yang bahkan tidak menunjuk
Menjelang siang, suasana mansion berubah jauh lebih santai dibanding biasanya. Para pengawal Raymond tetap berjaga di luar dengan pakaian hitam dan alat komunikasi di telinga mereka, tetapi aura mencekam yang dulu selalu menyelimuti rumah itu perlahan memudar. Kini vas bunga segar menghiasi meja-meja sudut. Musik piano instrumental mengalun pelan dari ruang tengah. Bahkan beberapa pelayan mulai berani bercanda kecil satu sama lain saat bekerja. Di balkon lantai dua, Clara berdiri sambil menikmati teh hangat ketika sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. Ia tersenyum kecil tanpa perlu menoleh. “Kau diam-diam sekarang?” “Aku di rumah sendiri,” jawab Raymond santai sambil menyandarkan dagunya di bahu Clara. “Kau tetap mengejutkanku.” Raymond menarik Clara sedikit lebih dekat ke tubuhnya. “Sedang memikirkan apa?” “Bulan madu.” Pria itu mengangkat sebelah alis. “Oh?” Clara menoleh sedikit sambil menyipitkan mata curiga. “Kau serius mau membawaku per
Pagi pertama setelah pernikahan mereka membawa suasana yang terasa asing bagi seluruh penghuni mansion. Namun, keasingan itu bukan sesuatu yang buruk. Justru hangat. Hidup. Seolah rumah besar yang selama bertahun-tahun dipenuhi dingin dan ketegangan akhirnya kembali bernapas. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi berbingkai emas, memantul lembut di lantai marmer putih yang mengilap. Tirai tipis berwarna krem bergerak perlahan tertiup angin pagi, sementara aroma kopi hitam hangat bercampur roti panggang dan mentega memenuhi udara. Dari arah dapur terdengar suara para pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan. Namun berbeda dari biasanya, pagi itu mereka tidak lagi berjalan dengan wajah tegang dan langkah hati-hati. Sesekali bahkan terdengar tawa kecil. Para pelayan diam-diam saling bertukar pandang dengan ekspresi tak percaya. Karena untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun… Mansion itu terasa seperti rumah. Di ruang makan utama yang luas, Noah duduk di kursin
Raymond masih menahan tubuh Clara di bawahnya ketika keheningan malam perlahan memenuhi kamar pengantin itu. Cahaya lilin berpendar lembut di seluruh ruangan, memantulkan bayangan hangat di dinding kamar yang luas. Tirai putih tipis di dekat balkon bergerak perlahan tertiup angin malam, sementara aroma mawar dan vanilla masih memenuhi udara. Napas mereka belum benar-benar tenang setelah ciuman panjang tadi. Clara bisa merasakan dada Raymond naik turun pelan di atas tubuhnya. Detak jantung pria itu berdetak kuat dan stabil, begitu dekat sampai terasa jelas di ujung jemarinya. Raymond menatap Clara lumayan lama. Tatapannya perlahan turun menyusuri wajah wanita yang kini menjadi istrinya itu—mata beningnya yang masih sedikit basah, pipinya yang memerah malu, hingga bibirnya yang masih bergetar kecil karena gugup. Dan untuk pertama kalinya sejak Clara mengenalnya… Tatapan seorang mafia dingin itu benar-benar terlihat sangat lembut. “Aku membuatmu gugup?” bisiknya rendah. Suara b
Ciuman mereka semakin dalam. Semua orang bersorak sambil tepuk tangan. Kue di tangan Noah jatuh ke lantai, matanya terbelalak lebar, Bu Eli refleks menutup mata Noah dengan kedua tangannya. Tak lama kemudian, MC kembali mengambil alih acara dengan semangat. "Wah, pengantin kita ternyata tak sabaran." Sontak semua orang tertawa. “Baik! Sekarang waktunya lempar buket!” lanjut MC. Beberapa tamu wanita langsung bersorak antusias. Clara tertawa kecil saat buket bunga putih diberikan padanya. “Awas jangan curang!” teriak salah satu tamu sambil bercanda. Clara berdiri membelakangi kerumunan wanita-wanita yang sudah siap menangkap buket. Veil panjangnya jatuh anggun menyentuh lantai marmer putih. “Satu…” Ia tersenyum sambil menggenggam bunga lebih erat. “Dua…” Para tamu mulai bersiap heboh. “Tiga!” Clara melempar buket itu ke belakang. Dan seketika aula langsung dipenuhi jeritan serta tawa riuh. Salah satu wanita muda berhasil menangkap bunga itu sambil mel
Bibir mereka bertemu tanpa peringatan.Segalanya terjadi begitu cepat hingga Clara bahkan tidak sempat memberontak. Tangan Raymond yang besar dan kuat tiba-tiba menarik lehernya, menahan tubuhnya agar tetap dekat. Ciuman itu bukan ciuman yang lembut—tidak ada keraguan di dalamnya.Bukan pula sekad
Suasana lobby yang sebelumnya dipenuhi bisikan dan senyum licik seketika berubah menjadi hening. Tidak ada yang menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Raymond. Termasuk Clara, ia sendiri membeku di tempatnya. Ia bahkan belum sempat memproses apa yang baru saja ia dengar.“Tu… Tuan?” suarany
Ken mematung.Butuh beberapa saat sebelum ia benar-benar memahami maksud kalimat itu.“Dia…?” Ken mengernyit. “Maksud Anda…?”Raymond tidak langsung menjawab. Ia kembali menggaruk lehernya yang dipenuhi ruam merah, lalu berjalan pelan menuju meja. Tatapannya jatuh lagi pada gelas kristal yang masih
Raymond menatap gelas kristal di tangannya.Cairan keemasan di dalamnya bergetar pelan, memantulkan cahaya lampu kamar. Pantulan itu berkilau di dinding kaca gelas, seolah tampak tenang—terlalu tenang untuk sesuatu yang tiba-tiba membuat alis Raymond berkerut.Ada sesuatu yang aneh.Perasaan itu mu







