Mag-log inDOR!Pintu besi itu bergetar hebat.Raymond berdiri tepat di baliknya.Jas hitamnya sedikit basah akibat hujan. Rambutnya masih menyimpan titik-titik air, tetapi tatapannya sama sekali tidak menunjukkan kelelahan.John berdiri di sebelahnya bersama beberapa pengawal.“Buka pintunya.”Tidak ada jawaban.Raymond mengangkat tangan.“Hitung sampai tiga.”John langsung memberi isyarat.“Satu…”DOR!Sebelum hitungan selesai, salah seorang pengawal menghantam pintu dengan bahunya.Kunci pintu patah.Pintu terbuka keras.Raymond langsung masuk.Matanya bergerak cepat menyapu ruangan.Ken terbaring di atas ranjang.Wajahnya pucat.Di sebelahnya berdiri seorang pria berkemeja putih.Raymond mengenal wajah itu dari kartu identitas yang ditemukan sebelumnya.“Dr. Adrian Cole.”Adrian tidak bergerak.
Hujan mulai turun ketika Raymond meninggalkan ruangan rahasia.Titik-titik air menghantam kaca-kaca tinggi mansion tua itu, menciptakan suara berirama yang justru membuat suasana semakin menekan.John berjalan beberapa langkah di belakangnya.“Tim sudah mulai melacak Dr. Adrian Cole.”“Berapa lama?”“Belum tahu, Tuan.”Raymond berhenti.“Jangan jawab dengan tidak tahu.”John menunduk.“Maaf.”Raymond menatap halaman mansion yang gelap.“Dokter itu menghilang tujuh tahun lalu.”“Ken diculik oleh orang yang menggunakan identitasnya.”“Dan sekarang nama yang sama muncul dalam catatan M-17.”Ia mengusap rahangnya.“Ini bukan kebetulan.”John mengangguk.“Saya juga berpikir begitu.”Raymond kembali berjalan.“Hubungi rumah sakit tempat Ken dirawat.”“Cari semua orang yang pernah menangani operasinya.”
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit.Raymond masih memegang foto lama tersebut. Jemarinya mencengkeram bagian tepinya hingga kertas yang sudah berusia bertahun-tahun itu sedikit melengkung.Tatapannya tidak beralih dari tulisan di belakang foto.AKU TIDAK PERNAH MATI.Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman apa pun.Raymond perlahan mengangkat wajah.“Siapa yang menulis ini?”Tidak ada yang menjawab.Charles berdiri diam.Elena menundukkan kepala.John memperhatikan keduanya dengan waspada.Raymond melangkah mendekati ayahnya.“Aku bertanya sekali lagi.”Suaranya rendah.“Siapa yang menulis ini?”Charles menarik napas panjang.“Aku tidak tahu.”Raymond tertawa hambar.“Menarik.”Ia mengangkat foto tersebut.“Foto ibuku ditemukan di kamar Adriana.”“Di belakangnya
Elena masih berdiri di dekat jendela.Kunci tua itu tersembunyi di dalam genggamannya. Permukaannya dingin, terbuat dari logam tua yang warnanya mulai menghitam dimakan usia.Charles memperhatikannya.“Apa yang kau pegang?”Elena tidak menjawab.Ia justru memasukkan kunci itu lebih dalam ke saku gaunnya.“Tidak ada.”Charles menatapnya curiga.“Jangan bohong kepadaku.”Elena tersenyum tipis.“Bukankah itu yang selama ini kita lakukan?”Charles terdiam.Kalimat tersebut terasa seperti tamparan.Selama bertahun-tahun, Elena telah memberinya cerita tentang Maria. Tentang pengkhianatan. Tentang uang yang disembunyikan. Tentang bagaimana Maria meninggalkan keluarganya.Dan Charles mempercayainya.Terlalu lama.“Aku baru menyadari sesuatu,” ucap Charles pelan.Elena menoleh.“Apa?”“Mungkin selama ini aku tidak pernah me
BAB SELANJUTNYA — KEBENARAN YANG TERSISABagian 2Lorong bawah tanah itu terasa semakin dingin.Raymond berjalan cepat mengikuti John. Suara langkah mereka memantul di antara dinding batu yang lembap, menciptakan gema panjang yang membuat suasana terasa semakin mencekam.Udara berbau tanah basah dan logam tua. Lampu-lampu kecil yang tertanam di dinding menyala redup, beberapa bahkan berkedip seolah sebentar lagi akan mati.“Di depan, Tuan.”John menunjuk sebuah pintu besi yang terbuka setengah.Raymond mempercepat langkah.Dua pengawal berdiri di depan pintu. Begitu melihat Raymond datang, mereka langsung menyingkir.Raymond masuk.Langkahnya mendadak berhenti.Di tengah ruangan, Ken terbaring di lantai batu.Tubuhnya masih mengenakan pakaian rumah sakit. Perban di kepalanya sudah sedikit bergeser, memperlihatkan noda darah kering di dekat pelipis. Kedua tangannya terikat di b
Teriakan John masih menggema di sepanjang lorong bawah tanah.“TUAN RAYMOND!”“KEN DITEMUKAN!”Raymond yang baru saja hendak meninggalkan ruangan rahasia langsung berbalik.Jantungnya berdegup keras.Tanpa membuang waktu, ia berlari mengikuti suara John. Sepatu kulitnya menghantam lantai batu yang lembap, menghasilkan gema panjang di antara dinding-dinding tua. Udara di bawah mansion terasa jauh lebih dingin daripada di lantai atas. Aroma tanah basah, debu, dan sesuatu yang menyerupai obat-obatan memenuhi lorong sempit itu.Beberapa lampu kecil tertanam di dinding, tetapi sebagian berkedip-kedip seolah jaringan listrik bangunan tua tersebut tidak pernah benar-benar diperbaiki.“Di mana dia?” tanya Raymond tanpa memperlambat langkah.“Di ujung lorong, Tuan!”John menunjuk sebuah pintu besi yang terbuka setengah.Dua pengawal berdiri di depannya dengan wajah tegang.Raymond langsung melewati mereka.Begitu memasuki ruangan, langkahnya mendadak terhenti.Ken terbaring di lantai.Tubuhnya
Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T
“Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te
Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj
Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”







