Belinda tersenyum melihat semangat menyala di mata sahabatnya. Ia memanjat ke atap mobil bersama Keisha, berdiri sejajar, menatap mentari senja di langit Jakarta yang mulai meredup. Dengan tangan terangkat, Belinda berseru, “Aku akan membuka usaha perhiasan bersama sahabatku, Keisha, dan membantunya menabung untuk rumah impiannya!”Kenangan itu masih hidup jelas di benak Belinda, seolah baru terjadi kemarin sore. Namun segalanya kini telah berubah.Menarik napas panjang, Belinda kembali ke masa kini di mana ia berdiri di depan sebuah rumah besar. Perasaannya bercampur aduk. Ia bertanya-tanya, apakah ini rumah seperti yang dibicarakan Keisha? Rumah yang menjadi impian masa mudanya?Sejak kecelakaan itu, Belinda telah bersumpah pada dirinya sendiri, ia akan mencari cukup banyak uang agar bisa membantu Keis
Mehr lesen