แชร์

Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku
Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku
ผู้แต่ง: Lara Luka

BAB 1 ISTRI PAJANGAN

ผู้เขียน: Lara Luka
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-27 09:48:10

Lampu kristal chandelier di ballroom Hotel Mulia itu membiaskan cahaya yang menyakitkan mata. Kilauannya jatuh tepat di atas gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuhku, membuatnya berkilau seolah aku adalah piala kemenangan yang baru saja dipoles.

Namun, di balik lapisan kain mahal itu, aku merasa seperti manekin etalase. Dingin. Kosong. Dan tak bernyawa.

"Senyum, El. Itu Pak Handoko, investor properti terbesar di Surabaya."

Bisikan Adrian menggelitik telingaku, hangat namun penuh tuntutan. Tangannya melingkar di pinggangku, meremas sedikit terlalu kencang. Bukan pelukan sayang, melainkan peringatan. Jangan permalukan aku.

Aku menarik sudut bibirku, menciptakan lengkungan yang sudah kulatih ratusan kali di depan cermin kamar mandi. Senyum 'Istri Bahagia'. Senyum yang menutupi fakta bahwa pernikahan kami yang baru menginjak tahun kelima ini sudah lama menjadi bangkai yang diberi parfum mahal.

"Selamat malam, Pak Handoko," sapaku. Suaraku terdengar stabil, terpelajar, persis seperti boneka ventriloquist yang dikendalikan tuannya.

Pria tua di hadapan kami tertawa renyah, matanya menyapu tubuhku dari ujung rambut hingga kaki dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan. "Adrian, kamu memang pemenang. Bisnis lancar, istri secantik bidadari. Apa lagi yang kurang?"

Adrian tertawa, suara baritonnya memenuhi ruangan. "Saya hanya beruntung, Pak. Elena adalah jimat keberuntungan saya."

Jimat keberuntungan.

Kata itu terasa asing di lidahku. Jika aku memang jimat, mengapa suamiku sendiri tidak pernah menyentuhku?

Sudah enam bulan sejak terakhir kali Adrian menyentuhku dengan hasrat. Bukan sekadar kewajiban lima menit yang berakhir dengan punggungnya yang berbalik memunggungiku, melainkan sentuhan yang membuat seorang wanita merasa diinginkan. Malam-malamku dihabiskan dengan menatap punggungnya yang naik-turun dalam tidur, sementara aku bertanya-tanya apa yang salah dengan tubuhku. Apakah aku terlalu kurus? Terlalu membosankan? Atau... aku memang wanita yang rusak?

"Sayang, aku mau ambil minum sebentar," Adrian berbisik lagi, membuyarkan lamunanku. Dia mengecup pipiku sekilas—ciuman panggung untuk dinikmati penonton—lalu melangkah pergi menuju bar.

Aku menghela napas panjang, bahuku sedikit merosot saat beban peran itu terangkat sejenak. Mataku menyapu ruangan pesta perayaan ulang tahun pernikahan kami yang megah ini. Bunga mawar putih impor di setiap meja, live music orkestra, dan ratusan tamu elit Jakarta. Semua ini tampak sempurna. Terlalu sempurna.

Seorang pelayan melintas membawa nampan tagihan ke arah manajer katering yang berdiri gelisah di sudut ruangan. Aku tidak bermaksud menguping, tapi posisiku di dekat pilar membuat suara mereka terdengar jelas di antara denting gelas.

"Maaf, Pak," ujar pelayan itu dengan suara rendah, menyerahkan mesin EDC. "Kartunya declined lagi. Kode 51. Insufficient funds."

Jantungku berhenti berdetak sejenak.

Manajer katering itu mengerutkan kening, menatap layar mesin dengan bingung. "Coba gesek sekali lagi. Ini kartu Platinum, masa limitnya habis? Pak Adrian bilang pestanya all out."

"Sudah tiga kali, Pak. Ditolak semua."

Darahku berdesir dingin. Adrian bilang bisnisnya sedang di puncak. Dia baru saja membeli mobil sport dua minggu lalu. Bagaimana mungkin kartu kreditnya ditolak untuk bayar katering?

Aku menoleh cepat mencari sosok Adrian di kerumunan. Dia tidak ada di bar.

Mataku menangkap bayangannya di dekat pintu keluar samping, di area semi- outdoor yang remang-remang. Dia tidak sedang mengambil minum. Dia sedang menelepon. Tubuhnya menghadap ke dinding, bahunya tegang, dan tangan kirinya menjambak rambutnya sendiri—gestur yang hanya ia lakukan saat panik luar biasa.

Kakiku bergerak sendiri mendekatinya. Gaun panjangku menyapu lantai marmer, tapi langkahku tak bersuara.

"...beri aku waktu, Brengsek!"

Suara Adrian terdengar tertahan, mendesis penuh amarah. Aku berhenti di balik tirai beludru tebal, napas tertahan di tenggorokan.

"Tiga hari? Kau gila?!" Adrian mendesis lagi, kali ini suaranya bergetar. Bukan karena marah, tapi takut. "Jangan bawa-bawa istriku... Dengar! Kalau kau berani menyentuh sehelai rambutnya, aku akan—"

Hening sejenak. Adrian terdiam, seolah lawan bicaranya baru saja memotong kalimatnya dengan sesuatu yang mengerikan. Tubuh Adrian merosot, bersandar lemas ke dinding. Ponsel mahal di tangannya nyaris terlepas.

"Oke... Oke..." Suaranya kini terdengar seperti rintihan tikus yang terpojok. "Lima puluh miliar. Tiga hari. Aku akan cari caranya. Jangan bunuh aku."

Dunia di sekitarku terasa berputar.

Lima puluh miliar. Ancaman bunuh.

Pesta mewah di belakangku mendadak terasa seperti pemakaman. Musik orkestra yang merdu berubah menjadi lagu kematian. Aku melihat suamiku, pria yang selama ini kubanggakan sebagai Alpha Male yang sukses, kini tampak begitu kecil dan menyedihkan di bawah bayangan pilar.

Tiba-tiba, Adrian berbalik. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Matanya yang liar bertabrakan dengan mataku.

Untuk sedetik, aku melihat ketakutan murni di sana. Tapi sedetik kemudian, topeng itu kembali terpasang. Adrian memaksakan senyum yang terlihat lebih mirip seringaian kesakitan.

"El? Sejak kapan kamu di situ?" tanyanya, suaranya serak.

Aku menelan ludah, tenggorokanku kering. "Adrian... siapa yang menelepon? Apa maksudnya 'jangan bunuh aku'?"

Adrian melangkah cepat ke arahku, mencengkeram bahuku. Cengkeramannya kali ini sakit. Jari-jarinya menancap hingga ke tulang.

"Bukan siapa-siapa. Cuma salah paham bisnis," desisnya, matanya menyapu sekeliling dengan paranoid. "Jangan tanya apa-apa sekarang. Kembali ke dalam. Tersenyum. Lakukan tugasmu."

"Tapi, Adrian—"

"Masuk, Elena!" bentaknya tertahan.

Aku tersentak. Adrian tidak pernah membentakku di tempat umum. Tidak pernah.

Dia mendorong punggungku pelan namun tegas kembali ke arah cahaya ballroom. Kembali ke panggung sandiwara.

Saat aku melangkah dengan kaki gemetar kembali ke kerumunan tamu yang tertawa dan berdansa, satu hal menghantamku dengan keras: Suamiku bukan hanya sedang dalam masalah. Dia sedang tenggelam.

Dan dia baru saja menarikku ikut bersamanya ke dasar laut yang paling gelap.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 30 KAMAR GELAP & KANVAS PUTIH

    Gedung Dirgantara Tower bukan sekadar kantor. Di lantai paling atas, tersembunyi di balik pintu biometrik yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari Cakra, terdapat sebuah sanctuary.Bukan kamar tidur, melainkan sebuah studio lukis.Ruangan itu luas, berlantai beton ekspos dengan dinding kaca setinggi enam meter yang menghadap matahari terbenam. Di tengah ruangan, sebuah easel (penyangga kanvas) kayu jati berdiri kokoh, menopang kanvas putih besar yang masih kosong. Di sampingnya, meja penuh dengan cat minyak Old Holland—sama persis dengan yang dia kirimkan ke rumahku."Ini... ini kantormu?" tanyaku takjub, langkahku menggema di ruangan sunyi itu."Ini tempat pelarianku," koreksi Cakra. Dia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja. "Dulu aku ingin jadi arsitek, tapi ayahku memaksaku jadi pebisnis. Jadi aku membangun ruangan ini untuk mengingatkanku bahwa aku masih punya sisi manusia."Dia berjalan menuju easel

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 29 KENCAN MAKAN SIANG

    Adrian berangkat ke bandara pukul enam pagi, menyeret koper Louis Vuitton-nya dengan wajah pucat sisa sakit perut semalam. Dia mencium pipiku sekilas—ciuman formalitas yang hambar—lalu masuk ke taksi online."Jaga rumah. Jangan keluyuran," pesan terakhirnya sebelum pintu mobil tertutup.Begitu taksi itu hilang di tikungan, senyumku mengembang.Aku tidak menjaga rumah. Dan aku pasti akan keluyuran.Pukul sebelas siang, aku sudah berdiri di depan cermin, mematut diri. Aku mengenakan gaun midi berwarna cream yang lembut dengan potongan leher sabrina, dipadukan dengan heels cokelat muda. Rambutku kigerai bebas, tidak digelung kaku seperti yang disukai Adrian. Aku menyemprotkan sedikit parfum—bukan yang dipilihkan Adrian, tapi Jo Malone aroma Pear & Freesia yang kubeli diam-diam. Wanginya segar, ringan, dan... bebas.Ponsel hitam di saku tasku bergetar.Cakra:

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 28 PONSEL KEDUA

    "Aduh... Sialan..."Suara erangan Adrian terdengar lagi dari balik pintu kamar mandi, diikuti bunyi flush toilet yang ketiga kalinya dalam satu jam. Rencana kopi "spesial"-ku bekerja lebih efektif dari dugaan. Adrian batal ke kantor, dan jadwal dinasnya ke Surabaya pun terancam mundur."Sayang, kamu masih di dalam?" tanyaku dari depan pintu, menahan senyum puas di balik nada suaraku yang dibuat cemas. "Perlu aku panggilkan dokter?""Nggak usah!" sahut Adrian ketus di sela-sela rintihan. "Cuma salah makan kayaknya. Perutku melilit banget. Tolong cariin obat diare di kotak obat dong!""Iya, sebentar aku carikan."Aku berbalik, melangkah santai menuju lemari di dekat ruang tamu. Rasanya lega sekali tidak melihat wajahnya berkeliaran di sekitarnya.Ting-tong.Bel pintu berbunyi.Aku melirik jam dinding. Pukul sepuluh pagi. Tidak ada jadwal tamu.Aku membuka pintu utama. Seorang kurir bermotor dengan jaket o

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 27 SANDIWARA ISTRI TELADAN

    Sinar matahari pagi menusuk masuk melalui celah gorden ruang tamu, menyoroti kekacauan yang ada di sana.Adrian tertidur di sofa panjang dengan posisi meringkuk, masih mengenakan kemeja pestanya yang kusut dan bernoda tumpahan wine. Sepatu pantofelnya terlempar entah ke mana, satu di bawah meja kopi, satu lagi di dekat rak TV. Bau alkohol basi dan muntahan samar menguar di udara, mengubah ruang tamu mewah ini menjadi tempat sampah.Aku berdiri di ambang pintu, masih mengenakan gaun malamku yang kini terasa lengket. Aku baru saja menyelinap masuk lima menit yang lalu, mencuci muka sebentar di wastafel dapur agar terlihat "bangun tidur", lalu berjalan ke ruang tamu.Aku menatap suamiku.Dulu, pemandangan ini akan membuatku panik. Aku akan lari mengambil air hangat, memijat kepalanya, dan membuatkan sup pereda mabuk. Aku akan khawatir setengah mati pada kesehatannya.Tapi hari ini, aku hanya merasakan... kehampaan."Eungh..." Adrian me

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 26 PAGI SETELAH CIUMAN

    Kembang api terakhir telah padam di langit Jakarta, menyisakan asap tipis yang segera ditelan angin malam. Namun, api di dalam diriku masih menyala, membakar habis sisa-sisa kewarasanku.Cakra melepaskan pelukannya perlahan, memberiku ruang untuk bernapas, meski matanya enggan melepaskan tatapannya dariku.Aku mundur selangkah, menyandarkan punggung pada pagar balkon yang dingin. Tanganku gemetar saat menyentuh bibirku sendiri. Bibir yang baru saja melumat bibir pria lain dengan nafsu yang tidak pernah kuberikan pada suamiku.Realitas menghantamku seperti palu godam.Apa yang baru saja kulakukan?"Elena?" Cakra memanggil, suaranya rendah dan waspada. Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya menjauh."Jangan," cicitku. Napasku memburu, panik mulai merambat naik ke tenggorokan. "Ya Tuhan... aku... aku berzina. Aku istri orang, Cakra. Aku baru saja mengkhianati Tuhan."Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Bayangan ib

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 25 GARIS BATAS DILANGGAR

    Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski malam ini berubah menjadi lautan topeng. Tema pesta perusahaan Adrian tahun ini adalah Venetian Masquerade. Ratusan tamu mengenakan topeng berbulu, berhias permata, dan berlapis emas, menyembunyikan wajah asli mereka di balik kemewahan palsu.Sangat cocok. Karena malam ini, hidupku juga penuh kepalsuan.Aku mengenakan gaun midnight blue yang elegan, wajahku tertutup separuh oleh topeng perak dengan hiasan renda hitam. Di sampingku, Adrian mengenakan topeng emas mencolok, seolah ingin berteriak pada dunia: Lihat aku! Aku raja malam ini!Dan dia memang merasa jadi raja.Sejak kami datang satu jam lalu, Adrian tidak berhenti minum. Dia berkeliling dari satu meja investor ke meja lain, memamerkan kesuksesan semunya, tertawa terlalu keras, dan merangkulku terlalu erat."Ini istriku, Pak Budi!" Adrian berseru dengan napas berbau whisky, menarik pinggangku kasar di depan

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 9 BUKAN PELACUR

    Bunyi klik kunci pintu yang kuputar terdengar nyaring, mengunci nasibku di dalam sangkar emas ini.Aku berdiri mematung di dekat pintu, punggungku menempel pada kayu mahoni yang dingin. Tanganku mencengkeram erat kerah mantel panjangku, satu-satunya perisai yang menutupi lingerie hitam memalukan di

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 10 SENTUHAN MIDAS

    Cakra tidak menyeretku ke ranjang. Dia menuntunku.Tangannya yang besar dan hangat masih mencengkeram daguku lembut, lalu turun perlahan ke tengkukku, menuntunku berdiri dari kursi makan. Kakiku terasa seperti jeli, tapi entah bagaimana, kekuatan dari sentuhannya membuatku tetap tegak.Kami berjala

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status