Se connecterPagi datang terlalu cepat. Cahaya pucat masuk lewat celah tirai tebal, membangunkan aku dari tidur yang tidak nyenyak. Aku bahkan tidak yakin aku benar-benar tidur. Setiap kali mata terpejam, yang terlihat adalah wajah Carmen. Senyumnya yang mengejek. Kata-katanya yang menusuk."Dia menikahimu bukan karena cinta."Tentu saja aku tahu itu.Aku menatap langit-langit kamar. Ukiran rumit di kayunya terlihat seperti pola tak berujung. Seperti pikiranku. Berputar tanpa arah jelas.Kamar terkunci. Rahasia Dillard. Peringatan Lincoln."Jangan pernah buka pintu itu."Ketukan keras di pintu membuatku tersentak."Duchess, sarapan sudah siap."Suara pelayan terdengar dari luar. Sopan tapi datar. Tanpa kehangatan yang biasanya ada saat berbicara dengan atasan.Aku bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang terasa berat. Kepala berdenyut sakit. Mata perih—bekas menahan air mata semalam. Tapi aku tidak menangis. Aku tidak boleh menangis.Duchess tidak boleh terlihat lemah.Aku berjalan ke cermin b
Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan. Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud yang tadi terasa indah sekarang hanya terasa dingin. Aku memeluk diri sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang menggigil—tapi bukan karena cuaca. Ada yang salah di dadaku. Kosong. Seperti ada yang hilang.Musik masih terdengar dari dalam. Tawa. Gelas beradu. Pesta terus berlanjut seolah tidak ada yang terjadi. Seolah Duke tidak baru saja pergi meninggalkan istrinya sendirian di acara besar pertama mereka sebagai pasangan.Aku harus kembali. Aku tahu itu. Para tamu pasti sudah memperhatikan ketidakhadiran kami. Mereka pasti sudah berbisik. Bertanya-tanya. Membuat asumsi.Aku tarik napas dalam. Tegakkan bahu. Angkat dagu. Seperti yang Dillard ajarkan. Seperti yang Madame Jourdain latih berk
Seluruh aula terdiam.Celestine berdiri dengan napas terengah; seperti baru berlari jauh. Gaun perjalanannya basah, berlumpur di bagian bawah. Rambut lepas dari jepit, jatuh berantakan di bahu.Tapi matanya… matanya menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.Penyesalan."Juliet..." Suaranya pecah. "Maafkan aku. Aku datang untuk bawa kau pulang."Bisikan keras meledak di seluruh ruangan. Dillard melangkah ke depanku; menghalangi. Tubuhnya tegang seperti siap menyerang."Kau tidak punya hak datang ke sini.""Aku punya hak." Celestine angkat dagu. "Karena seharusnya aku yang menikah denganmu. Bukan adikku."Bisikan semakin keras. Mata-mata tajam menatap kami bertiga.Lord Harrigan melangkah maju. "Duke Donoughoe, apa maksudnya ini? Apa benar Celestine pengantin aslimu?"Dillard diam. Rahangnya mengeras sampai otot di pipi bergerak. Celestine manfaatkan keheningan itu. Dia tatap semua orang dengan suara keras."Ya! Aku pengantin aslinya! Tapi aku kabur karena Duke Dono
Malam pesta tiba dengan cepat. Madame Jourdain memasangkan korset terlalu ketat. Aku hampir tidak bisa bernapas. Gaun merah marun dengan rok mengembang lebar—berat, menekan bahu. Rasanya mau pingsan."Angkat dagumu, Juliet. Kau Duchess."Tapi aku tidak merasa seperti Duchess. Aku merasa seperti boneka yang didandani untuk dipamerkan. Perhiasan berlian dingin di leher. Rambut ditarik ketat ke atas, terasa sakit menarik kulit kepala."Sempurna." Madame Jourdain tersenyum tipis. "Ingat—jangan gugup. Jangan tunjukkan kelemahan."Ketukan di pintu.Dillard masuk.Setelan hitam formal dengan jas berekor. Kemeja putih rapi. Dasi kupu-kupu hitam. Rambut disisir sempurna ke belakang—mempertegas rahang keras dan tulang pipi tajam.Matanya menyapu tubuhku dari atas ke bawah. Lambat. Teliti. Berhenti sebentar di leher. Di belahan dada yang terbuka. Turun ke pinggang yang ditekan korset.Napasnya tampak tercekat. Apakah ia terpesona melihatku?Dadaku ikut sesak. Bukan karena korset. Tapi karena car
Ruang makan keluarga Brieris sepi. Hanya ada tiga orang—Ayah di ujung meja, Ibu di samping, dan Celestine berdiri di depan perapian.Lilin-lilin menyala redup. Bayangan bergerak di dinding."Jadi kau yakin dengan ini?" tanya Ayah. Suaranya rendah.Celestine berbalik. Matanya berbinar. "Sangat yakin."Ibu meletakkan cangkir teh. "Tapi Celestine, kau yang kabur. Kau yang meninggalkan Duke Dillard.""Aku tahu." Celestine duduk dengan punggung tegak. "Dan itu kesalahanku. Aku tidak tahu Duke Dillard seberharga itu."Ayah mengerutkan dahi. "Maksudmu?""Kastilnya, tanahnya, kekuasaannya." Celestine tersenyum tipis. "Aku dengar dia sudah kembali ke posisi teratas di wilayah utara. Bahkan kerajaan mulai mengandalkannya lagi."Ibu menghela napas. "Jadi kau mau dia hanya karena kekuasaan?""Bukan hanya itu." Celestine berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja. "Tapi juga karena aku pantas jadi Duchess. Bukan Juliet."Ayah menggebrak meja pelan. "Tapi Juliet sudah sah jadi istrinya!""Pernikahan
Bab 3Malam datang dengan angin dingin. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk lutut. Tubuhku masih terasa panas; terutama di tempat Dillard menyentuhku tadi sore.Cara dia menatapku. Cara tangannya mengencang di pinggangku. Cara napasnya menyapu wajahku. Lalu tiba-tiba dia pergi; seolah menyentuhku adalah kesalahan besar.Kenapa? Apa yang salah?Ketukan pelan di pintu."Duchess?"Aku buka pintu. Pelayan muda berdiri di sana dengan amplop putih."Ada surat untuk Anda."Amplop dengan stempel keluarga Brieris. Jantung langsung berdegup cepat. Aku ambil surat itu dengan tangan gemetar. Menutup pintu. Membuka amplop perlahan.Tulisan tangan Celestine.Juliet,Maafkan aku. Aku tahu ini tidak adil. Tapi aku tidak punya pilihan.Dillard Donoughoe bukan orang baik. Dia menikahimu untuk balas dendam. Ayah dulu menghancurkan keluarganya; mengambil tanah mereka, merusak nama baik mereka. Ibunya meninggal karena itu.Dillard tidak akan pernah melupakan itu. Dia akan menghancurkanmu, Juliet.Kabu






