Diyani menelan ludah kepayahan. Alih-alih ikut menolong menantunya, dia malah mematung dengan tubuh gemetar. Sementara Kael sudah teriak-teriak memanggil papanya yang sedang panen stroberi di lajur lain. “Ada apa, Kael?!” seru Reyga yang tidak lama kemudian muncul. Dia bergegas setelah mendengar teriakan putranya. Lelaki itu datang diikuti Reyhan di belakangnya. “Mama, Pa. Mama berdarah.” Reyga segera merangkul lengan istrinya yang tengah menahan sakit. Wajah wanita itu sudah seputih kapas saat dia datang. “Sayang, apanya yang sakit?” tanya lelaki itu dengan wajah yang tambak begitu cemas. “Perutku sakit, Rey. Sakit banget,” keluh Kalla nyaris tak terdengar. Ujung matanya mulai basah. Bukan hanya sakit, ada rasa takut yang menyusup ke hatinya. Dia merangkul leher Reyga. “Bawa istri kamu ke rumah sakit, Rey. Cepat,” perintah Reyhan, membuyarkan kepanikan putranya. “I-iya, Pa.” Meskipun agak gemetar, Reyga membopong sang istri dengan dua tangannya sendiri menuju parkir mobil.
続きを読む