“Cuma Sabtu Minggu gue. Iya, kebagian sift sore sampe malam.”Telinga Kael menegak mendengar potongan percakapan Rere yang sedang menelepon. Entah ke siapa.Diam-diam lelaki itu makin merapatkan diri. Ingin mendengar lebih banyak. Ya, Kael tahu menguping itu tidak baik. Tapi jiwa keponya meronta-ronta jika itu menyangkut soal Rere.“Hu-um, datang aja. Gue di sana kok. Oke, thanks, gue tunggu, Dri.”Dri? Dri itu maksudnya Drian? Kael mengerjap. Jadi mereka sudah di tahap saling telponan. Tanpa sadar napas Kael berembus kesal. Hidung bangirnya mengembang. Asap bahkan mengebul keluar dari telinganya. “Dasar genit,” gerutunya pelan sebelum bergerak kembali ke kamar. Dia yang akan mengambil minuman di kulkas urung. “Loh, mana minumannya?” tanya Jaya melihat Kael masuk kamar lagi tanpa membawa apapun seperti rencananya. Dengan muka bete, Kael menjatuhkan diri di kursi putarnya. “Ambil sendiri Lo deh, males gue.”“Dih, lo ngapa dah. Angin-anginan banget jadi orang.” “Ngeselin banget si Re
Read more