“Nginep?” Mila sampai harus bertanya ulang.Riven tertawa kecil, menyadari pertanyaannya yang ambigu.“Gue ada kamar tamu, lo bisa tidur di situ.”Mila ikut tertawa sambil memegang dadanya, “Jantung gue hampir copot, loh.”“Lo dan pikiran kotor lo,” celetuk Riven, teringat dengan pertama kali ketika mereka juga berbeda cara menangkap arti kata ‘spot’Mila tersenyum, membalas. “Lo dan kelakuan aneh lo.”***Kehidupan tidak berhenti ketika segalanya tampak sedang baik-baik saja. Hari itu Mila bekerja sampai sesinya selesai. Perasaannya ringan, moodnya baik. Semua tampak berjalan dengan lancar.“Mil,” panggil Toni dari ambang pintu ruang lockernya.Mila yang sedang bersiap pulang menoleh. Ponselnya sudah terbuka, siap memesan ojek online.“Lo ditungguin Hans,” lanjut Toni dengan wajah serius.“Hah?” tany
続きを読む