Mata Mila mulai tidak dapat melihat dengan jelas. Cahaya lampu terasa terlalu terang, menusuk, membuatnya harus menyipitkan mata lebih lama dari biasanya. Kepalanya terasa ringan sekaligus berat, seperti ikut bergoyang mengikuti detak musik yang mengisi ruang apartment Pak Hendra.Gelas di tangannya hampir jatuh. Dengan sigap, Pak Hendra mengambil gelas itu lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur.“Mila..” panggil pria itu.Mila menoleh perlahan, sedikit terlalu lambat, seolah harus memastikan dulu arah suara itu datang. “Pak Hendra..” ucapnya, suaranya lebih lembut dengan nada yang mengayun.Pria itu tertawa, “Hendra, Mil. Kamu sudah sering sama saya, jangan panggil Pak.”Mila balas tertawa. Lalu menyandarkan tubuhnya yang mulai terasa hangat di bahu pria itu.Aroma alkohol menggantung di ruangan apartment Hendra. Setelah ngobrol ringan di Bar tadi, Mila pun mengangguk ketika Hendra mengajaknya bermalam di apartment. Hendra yang memang sering merequest Mila, sudah tidak perlu
더 보기