LOGINByakta kembali memejamkan mata ketika rasa sakit itu perlahan menghilang. Rasa sakit yang memuakkan, dia datang dan pergi dengan membawa getaran aneh di kepalanya. Seperti sesuatu yang dicabut paksa dari pangkal rambutnya. Tak lama, pintu diketuk. Rival datang dengan membawa air hangat dan juga tablet di tangannya. Alih-alih membantu Byakta pindah duduk di tempat yang lebih nyaman, dia justru ikut duduk ngesot di lantai dengan tubuh bersandar di tepi ranjang. “Minum dulu air hangatnya,” katanya pelan. Byakta tersenyum, tangannya yang bergetar meraih gelas itu dengan susah payah. Melihat itu, Rival hanya membuang muka. Dia tidak tega melihat pria ini perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. “Untuk apa tablet itu?” tanya Byakta akhirnya. “Aku hanya sedang memasang alat penyadap di ponsel Ivanka dan juga di kamarnya,” katanya. “Tinggal sinkronisasi, dan semuanya selesai.” Byakta kembali terkekeh. Dia tahu
“Dia mau kemana?” Di lobby, Ivanka tidak sengaja berpapasan dengan Byakta. Pria itu melihatnya, tapi dia tidak menyapa atau sekedar tersenyum seperti biasanya. Agak sakit memang, tapi Ivanka justru tersenyum karena rencananya sudah berjalan lancar. Byakta mulai menjauh dan membencinya. Tanpa dia sadari, ada banyak rencana yang sedang di atur di kepala pria itu. “Mana kuncinya—” Ivanka melihat Byakta yang sudah mengulurkan tangan pada supirnya. Wajah pria itu tetap dingin dan menyeramkan. Dari jarak ini, Ivanka merasa dia tidak lagi bisa menyentuhnya. “Tapi bos, Pak Rival meminta saya—” “Siapa yang membayarmu?” potong Byakta dingin. “Aku bilang… mana kuncinya. Aku butuh waktu sendiri.” Baru hendak melangkah menghampiri, Rival tiba-tiba memanggilnya Ivanka. Dia dan Byakta sempat bertemu tatap sebentar, tapi lagi-lagi, Byakta mengabaikannya. Pria itu langsung pergi dengan langkah besar. Ivank
Kini Rendra sudah berdiri, membuat Byakta yang masih berjongkok, harus sedikit mendongak. “Karena nyawanya memang penting!” potong Rival kesal. “Jadi aku tidak penting? Nyawaku tidak penting?” Tidak ada yang menjawab. Ketiga pria itu hanya saling pandang. Byakta menyugar rambutnya, lalu kembali berdiri. Byakta kembali memutar pistol di tangannya, kemudian melirik Rendra dari samping. “Efek obat itu masih terasa?” tanyanya ringan. “Menyiksa, kan?” “Lucu,” lanjutnya pelan. “Kamu selalu ingin berdiri di tempat yang sama denganku, bahkan dalam penderitaan.” Byakta berbalik menatap Rendra seutuhnya. "Kalau memang merasakan sakit yang sama, setidaknya kamu juga menderita sama seprti aku. Tapi kenapa kamu justru berbalik menyerangku, dan mengambil apa yang bukan milikmu?" Rendra tidak menjawab. Namun wajahnya sudah berubah merah padam. Ucapan Byakta sangat menyentil harga dirinya. Dia seperti sedang mengemis perhatian dari semua orang. Walau memang itu kenyataanya, tapi
“Kamu memang tidak pernah berubah, Bos.” Rendra memperdalam tatapannya. Dia tahu kalau saat ini, Byakta sedang bimbang. Dia juga tidak menyangkal kemarahan Byakta yang sudah meluap. Namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Rendra juga mengakui kalau Byakta adalah orang baik dan orang paling tulus yang pernah dia kenal. Terlepas dari kata-kata kasar dan juga tekanan yang selalu dia berikan. “Cinta,” gumam Byakta lagi. Dia menempelkan ujung pistol itu di pipi nya. Matanya masih menatap Rendra, menguncinya dengan sangat rapat. “Cinta seperti apa yang kamu maksud? Apa dia juga mencintaimu?” Rendra menuntun dirinya untuk duduk bersila. Dia membalas tatapan Byakta tanpa rasa takut sedikitpun. Lalu tersenyum. “Apa kamu yakin, dia juga mencintaimu?” Byakta kembali berkata. Kali ini pandangannya sedikit turun, tepat ketika gelenyar aneh kembali menyerang kepalanya. “Kamu—” “Cinta tidak membutuhkan balasan, Bos.” Kalimat itu membuat Byakta bersusah payah membuka matanya.
Ivanka tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Byakta lelah. Dia tahu kalau Byakta sudah sangat marah padanya. Sorot mata pria itu tidak begitu bersahabat seperti sebelum-sebelumnya. “Aku tidak akan berkhianat,” gumam Ivanka pelan. “Aku masih banyak pekerjaan.” Tanpa menunggu jawaban, Ivanka langsung melenggang pergi. Menatap Byakta lebih lama, hanya membuat dadanya sesak. Di dalam lift, tubuh Ivanka langsung merosot. Isak tangisnya mengudara disana. Ivanka sampai memukuli dadanya yang terasa begitu sesak. Ini keputusannya. Dia yang ingin Byakta menjauh dan membencinya, sesuai arahan Rendra. Tapi, hatinya sudah terlanjur jatuh hati. Melihat Byakta yang kembali acuh bahkan berkata dingin padanya, membuat dada Ivanka tersayat perlahan. “Kenapa aku harus terjebak dalam situasi serumit ini?” gumam Ivanka lelah. Tepat ketika pintu lift terbuka, wajahnya kembali anggun seperti biasa, seolah kesedihan dan sisa tangisan hilang dalam sekejap mata. Sedangkan di lantai bawah, Bya
“Astaga, ada aja masalahnya.” Ivanka meremas kepalanya dengan mata yang masih menatap layar pipih di depannya. Sudah hampir empat kali dia membuat dokumen untuk meeting nanti sore, tapi semuanya selalu gagal. Raut wajah Byakta tadi malam, terus terbayang di kepalanya. Ivanka meletakkan wajahnya di atas meja, seraya mendengus kasar. Dia tidak tahu kalau semua pergerakannya di ruang kerja, selalu terpantau oleh Byakta. Ivanka meremas ujung roknya pelan. Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat tatapan dingin pria itu tadi. Tatapan yang untuk pertama kalinya tidak lagi menahannya. Ivanka terkekeh hambar. “Padahal aku yang mulai,” bisiknya. “Tapi aku nggak nyangka, bakal sesakit ini rasanya.” Ivanka memejamkan mata sejenak. “Kamu memang harus menjauh dariku, Byakta.” Baru beberapa detik dia memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba kembali bergetar. Ivanka tidak langsung membukanya. Dia tidak yakin kalau pesan itu datang untuk menghiburnya. Dengan gerakan ragu, Ivanka akhirn







