Home / Mafia / Obsesi Sang Penguasa / 24. Musuh Lama

Share

24. Musuh Lama

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-03-11 20:12:45

Suara tamparan Ivanka masih menggema di ruangan. Membuat Direktur keamanan itu terhuyung satu langkah ke samping. Borgol di tangannya berdering pelan ketika tubuhnya kehilangan keseimbangan. Pipi kirinya langsung memerah. Namun rasa sakit di wajahnya jelas tidak sebanding dengan ketakutan yang kini memenuhi matanya.

Ivanka berdiri tegak di depannya. Dada wanita itu naik turun cepat. Matanya menyala penuh amarah. “Bajingan,” ulangnya pelan. “Jadi ini semua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   55. Tiga Hari Atau Nyawa Melayang?

    Kini Rendra sudah berdiri, membuat Byakta yang masih berjongkok, harus sedikit mendongak. “Karena nyawanya memang penting!” potong Rival kesal. “Jadi aku tidak penting? Nyawaku tidak penting?” Tidak ada yang menjawab. Ketiga pria itu hanya saling pandang. Byakta menyugar rambutnya, lalu kembali berdiri. Byakta kembali memutar pistol di tangannya, kemudian melirik Rendra dari samping. “Efek obat itu masih terasa?” tanyanya ringan. “Menyiksa, kan?” “Lucu,” lanjutnya pelan. “Kamu selalu ingin berdiri di tempat yang sama denganku, bahkan dalam penderitaan.” Byakta berbalik menatap Rendra seutuhnya. "Kalau memang merasakan sakit yang sama, setidaknya kamu juga menderita sama seprti aku. Tapi kenapa kamu justru berbalik menyerangku, dan mengambil apa yang bukan milikmu?" Rendra tidak menjawab. Namun wajahnya sudah berubah merah padam. Ucapan Byakta sangat menyentil harga dirinya. Dia seperti sedang mengemis perhatian dari semua orang. Walau memang itu kenyataanya, tapi

  • Obsesi Sang Penguasa   54. Korban Yang Terabaikan

    “Kamu memang tidak pernah berubah, Bos.” Rendra memperdalam tatapannya. Dia tahu kalau saat ini, Byakta sedang bimbang. Dia juga tidak menyangkal kemarahan Byakta yang sudah meluap. Namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Rendra juga mengakui kalau Byakta adalah orang baik dan orang paling tulus yang pernah dia kenal. Terlepas dari kata-kata kasar dan juga tekanan yang selalu dia berikan. “Cinta,” gumam Byakta lagi. Dia menempelkan ujung pistol itu di pipi nya. Matanya masih menatap Rendra, menguncinya dengan sangat rapat. “Cinta seperti apa yang kamu maksud? Apa dia juga mencintaimu?” Rendra menuntun dirinya untuk duduk bersila. Dia membalas tatapan Byakta tanpa rasa takut sedikitpun. Lalu tersenyum. “Apa kamu yakin, dia juga mencintaimu?” Byakta kembali berkata. Kali ini pandangannya sedikit turun, tepat ketika gelenyar aneh kembali menyerang kepalanya. “Kamu—” “Cinta tidak membutuhkan balasan, Bos.” Kalimat itu membuat Byakta bersusah payah membuka matanya.

  • Obsesi Sang Penguasa   53. Slot Peluru Pertama Untuk Rendra

    Ivanka tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Byakta lelah. Dia tahu kalau Byakta sudah sangat marah padanya. Sorot mata pria itu tidak begitu bersahabat seperti sebelum-sebelumnya. “Aku tidak akan berkhianat,” gumam Ivanka pelan. “Aku masih banyak pekerjaan.” Tanpa menunggu jawaban, Ivanka langsung melenggang pergi. Menatap Byakta lebih lama, hanya membuat dadanya sesak. Di dalam lift, tubuh Ivanka langsung merosot. Isak tangisnya mengudara disana. Ivanka sampai memukuli dadanya yang terasa begitu sesak. Ini keputusannya. Dia yang ingin Byakta menjauh dan membencinya, sesuai arahan Rendra. Tapi, hatinya sudah terlanjur jatuh hati. Melihat Byakta yang kembali acuh bahkan berkata dingin padanya, membuat dada Ivanka tersayat perlahan. “Kenapa aku harus terjebak dalam situasi serumit ini?” gumam Ivanka lelah. Tepat ketika pintu lift terbuka, wajahnya kembali anggun seperti biasa, seolah kesedihan dan sisa tangisan hilang dalam sekejap mata. Sedangkan di lantai bawah, Bya

  • Obsesi Sang Penguasa   52. Kepergok

    “Astaga, ada aja masalahnya.” Ivanka meremas kepalanya dengan mata yang masih menatap layar pipih di depannya. Sudah hampir empat kali dia membuat dokumen untuk meeting nanti sore, tapi semuanya selalu gagal. Raut wajah Byakta tadi malam, terus terbayang di kepalanya. Ivanka meletakkan wajahnya di atas meja, seraya mendengus kasar. Dia tidak tahu kalau semua pergerakannya di ruang kerja, selalu terpantau oleh Byakta. Ivanka meremas ujung roknya pelan. Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat tatapan dingin pria itu tadi. Tatapan yang untuk pertama kalinya tidak lagi menahannya. Ivanka terkekeh hambar. “Padahal aku yang mulai,” bisiknya. “Tapi aku nggak nyangka, bakal sesakit ini rasanya.” Ivanka memejamkan mata sejenak. “Kamu memang harus menjauh dariku, Byakta.” Baru beberapa detik dia memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba kembali bergetar. Ivanka tidak langsung membukanya. Dia tidak yakin kalau pesan itu datang untuk menghiburnya. Dengan gerakan ragu, Ivanka akhirn

  • Obsesi Sang Penguasa   51. Sama-sama Terluka

    “Ivanka,” bisik Byakta, tepat ketika Rival pergi. “Kamu pasti Ivanka.” Dia terkekeh sambil meringis memegangi kepalanya. Ivanka tidak menjawab, dia membantu Byakta untuk melepas kemeja yang sudah bau alkohol. Pria itu tidak menolak. Dia justru berubah menjadi anjing penurut ketika mabuk. Ivanka berkedip ketika melihat Byakta yang sudah telanjang dada. Dia melenguh ludahnya dengan susah payah. Otot besar yang membentuk, bekas-bekas cambuk yang tidak sepenuhnya hilang, dan bekas luka operasi yang masih ada disana, membuat pria itu terlihat lebih gagah sepuluh tingkat dari sebelumnya. “Eh!” Ivanka kembali menegang ketika Byakta menarik pinggangnya, hingga duduk di pangkuannya. “Kamu melupakan ciuman itu, Ivanka?” bisik Byakta tepat di telinga Ivanka. “Apa kamu melupakan semuanya? Bukankah kamu yang sangat bergairah malam itu?” Ivanka tercekat. Dia kembali mengingat momen memalukan itu. Wajahnya beruba

  • Obsesi Sang Penguasa   50. Kejujuran Byakta

    Pagi menyingsing dengan begitu lambat. Byakta sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. Entah sudah berapa botol bir yang ia tenggak selama semalam suntuk, tapi kesadarannya tetap bertahan. Dia tidak mabuk ataupun mengantuk. Pikirannya masih tertuju pada Ivanka yang entah sedang melakukan apa sekarang. Pintu terketuk pelan. Byakta menoleh tanpa minat. “Masuk,” katanya, sembari memainkan bara rokok di dalam asbak. Wajahnya terangkat ketika Rival masuk. Pria itu juga sepertinya tidak tidur. Terlihat jelas dari wajahnya yang layu dan mata panda yang lumayan mencolok. “Bos,” gumamnya pelan. Rival duduk tepat di depan Byakta. Menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat beserta aroma nikotin yang cukup menggelitik. Dengan mata sayu, Byakta menatap Rival. “Ada perkembangan?” tanya Byakta pelan. “Ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status