Share

Bab 2 Tanpa Arah Tujuan

Author: Dakuromansu
last update Last Updated: 2026-03-02 13:46:36

Tanpa Arah Tujuan

Kita akan berjalan lurus saja, Sayang. Terus, jangan menoleh ke belakang.”

“Tapi, Bu, rumah kita…”

“Sssst... Rumah kita ada di depan sana.”

“Di mana?”

“Nanti kita cari sama-sama.”

Malam pertama adalah yang terdingin. Hujan perlahan mereda, menyisakan genangan air kotor yang memantulkan cahaya lampu jalan yang sakit-sakitan.

Mereka berjalan tanpa tujuan, hanya menjauh. Setiap langkah terasa seperti menarik beban berat, bukan ransel basah di punggung Lestari, melainkan beban dari sebuah kehidupan yang baru saja direnggut paksa.

Mereka berakhir di emperan sebuah toko kelontong yang sudah tutup. Pintunya terbuat dari besi gulung yang dingin.

Lestari melepas ranselnya, mengeluarkan satu-satunya selimut tipis bergambar kartun. “Duduk sini, Nak. Ibu peluk biar hangat.”

Dian meringkuk, tubuhnya masih gemetar. “Ayah masih marah?”

Lestari menarik napas, udara malam terasa tajam di paru-parunya. “Ayah sedang tidak enak badan, Sayang. Kita biarkan Ayah istirahat dulu.”

“Tapi aku mau pulang.”

“Besok kita cari rumah baru yang lebih bagus, ya? Yang ada tamannya.”

“Janji?”

“Janji.” Lestari mencium kening Dian yang terasa dingin. Ia berbohong. Kebohongan pertama dari rentetan kebohongan lain yang akan ia ciptakan untuk melindungi hati kecil itu.

Pagi datang dengan kejam. Hiruk pikuk kota terbangun, orang-orang berjalan cepat, melirik mereka dengan tatapan aneh.

Ada yang iba, ada yang jijik, ada yang acuh tak acuh. Lestari merasakan pipinya panas karena malu. Ia menarik Dian lebih dekat, seolah ingin menyembunyikannya dari dunia.

“Ibu, aku lapar,” bisik Dian saat aroma roti dari toko seberang jalan menusuk hidung mereka.

Lestari merogoh saku dasternya yang lembap. Beberapa lembar uang lima ribuan yang lecek. Cukup untuk dua bungkus nasi dan sebotol air. “Tunggu di sini sebentar, jangan ke mana-mana.”

“Ibu mau ke mana?”

“Beli sarapan. Ibu tidak akan lama.”

Hari kedua, mereka menemukan tempat yang lebih baik: sebuah halte bus yang jarang dipakai di pinggir jalan besar.

Setidaknya ada atap, meski angin malam tetap menusuk. Hari ketiga, uang mereka mulai menipis. Lestari hanya membeli satu bungkus nasi untuk dibagi dua.

“Ibu tidak lapar?” tanya Dian, melihat ibunya hanya memakan sedikit.

“Ibu sudah kenyang lihat Dian makan lahap.” Bohong lagi. Perutnya melilit perih.

Pada hari keempat, Dian mulai batuk. Batuk kering yang terdengar menyakitkan.

“Cuma masuk angin biasa, Sayang,” kata Lestari sambil mengusap punggung anaknya. “Nanti juga sembuh.”

Tapi batuknya justru tidak berkurang. Malamnya, tubuh Dian terasa hangat. Demam. Lestari panik. Ia memeluk Dian semalaman, mencoba mentransfer sisa kehangatan tubuhnya, berdoa dalam hati agar panas itu turun.

Hari kelima adalah neraka. Demam Dian semakin tinggi. Ia meracau dalam tidurnya, memanggil ayahnya.

Lestari hanya bisa menangis dalam diam, air matanya jatuh ke rambut Dian yang lengket oleh keringat. Uang mereka hanya tersisa lima ribu rupiah. Hanya  cukup untuk sebotol air dan sebungkus roti.

“Bu… dingin…” keluh Dian, matanya setengah terpejam. Padahal tubuhnya sepanas bara.

“Iya, Sayang. Sebentar lagi hangat.” Lestari membungkusnya lebih rapat dengan selimut tipis.

Ia tahu, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Harga dirinya, rasa malunya, semua harus ia buang jauh-jauh. Anaknya sekarat.

Pagi hari keenam, Lestari menggendong Dian yang lemas di punggungnya. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan tatapan putus asa.

Setiap orang yang ia lewati terasa seperti hakim. Ia mencoba meminta-minta, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa.

Lalu ia melihat. Di sudut perempatan, seorang pengamen muda sedang memetik gitar bututnya. Suaranya sumbang, tetapi penuh semangat.

Yang menarik perhatian Lestari adalah kemeja flanelnya yang sobek di bagian lengan. Sebuah ide gila terlintas di benaknya. Di dalam ranselnya, di antara baju-baju Dian, ada satu set alat jahit kecil yang selalu ia bawa.

Ia mendekat perlahan, jantungnya berdebar kencang. Ia merasa seperti pencuri. “Permisi, Mas.”

Pengamen itu berhenti bernyanyi, menatapnya dengan curiga. “Apa?”

“Maaf mengganggu… Itu… kemeja Mas sobek.”

Pria itu melirik lengannya. “Terus kenapa? Mau kasih duit? Sini.”

Lestari menggeleng cepat. “Bukan, Mas. Saya… saya bisa menjahit. Saya bisa perbaiki.”

Alis pengamen itu terangkat. “Oh ya? Berapa bayarannya? Aku tidak punya uang.”

“Bukan uang, Mas,” kata Lestari, suaranya bergetar. Ia menunjuk bungkusan nasi di samping kotak gitar pria itu.

“Saya cuma minta… sedikit nasi itu. Untuk anak saya. Dia sakit.”

Pengamen itu menatap Dian yang terkulai lemas di punggung Lestari. Wajahnya yang semula keras sedikit melunak. Ia mengamati Lestari dari atas ke bawah. Perempuan putus asa dengan mata memohon.

“Kamu serius bisa jahit?”

“Bisa, Mas. Saya jamin rapi. Seperti baru.”

Pengamen itu berpikir sejenak, lalu mengedikkan bahu. “Oke. Buka bajuku sekarang?”

“Tidak perlu, Mas. Jahit dari luar saja bisa.”

“Ya sudah, kerjakan.”

Lestari menurunkan Dian dengan hati-hati, menyandarkannya ke dinding. “Dian, tunggu sebentar ya, Nak. Ibu kerja dulu.”

Ia mengeluarkan jarum dan benang dari ranselnya. Tangannya sedikit gemetar, tetapi instingnya mengambil alih.

Jarinya bergerak dengan lincah dan cepat, menyatukan kembali kain yang robek dengan jahitan yang rapi dan kuat.

Orang-orang yang lewat melirik sekilas, lalu melanjutkan perjalanan mereka. Di dunia yang sibuk ini, penderitaannya hanyalah sebuah pertunjukan kecil yang tidak menarik.

Saat ia sedang fokus pada jahitan terakhir, sebuah bayangan besar menutupi. Lestari tidak mengangkat kepalanya, mengira itu hanya pejalan kaki yang berhenti sejenak.

“Sendirian aja, Mbak?”

Suara itu berat dan serak. Terlalu dekat.

Lestari membeku. Jarum di tangannya berhenti bergerak. Ia perlahan mengangkat wajahnya. Seorang pria bertubuh besar dengan senyum menyeringai menatapnya lekat-lekat.

Matanya liar, menjelajahi tubuh Lestari dari atas ke bawah, sebelum akhirnya berhenti pada Dian yang terbaring lemah.

“Anaknya sakit, ya?” bisik pria itu, nadanya pura-pura prihatin. “Kasihan. Perlu bantuan, mungkin?”

“Bantuan apa, Mas?” Suara Lestari bergetar, lebih karena dingin daripada keberanian. Ia menarik tubuh Dian yang terkulai di punggungnya lebih dekat, sementara jemarinya yang lain masih memegang jarum.

Pria besar itu menyeringai, tidak terpengaruh oleh pengamen yang kini menatapnya dengan waspada. “Bantuan apa saja, Mbak. Siapa tahu perlu tempat hangat? Atau… teman ngobrol?”

“Dia tidak butuh bantuanmu,” sela si pengamen, suaranya serak. Ia meletakkan gitarnya dan berdiri. Tubuhnya kurus, tapi matanya menyala.

“Pergi.”

“Heh, bocah! Tidak usah ikut campur!” bentak pria itu, perhatiannya teralihkan.

“Ini lapakku. Dia tamuku,” balas pengamen itu, dagunya terangkat menantang. “Kalau tidak mau aku teriak copet, mending kamu cari mangsa lain.”

Pria besar itu mendengus, menimbang-nimbang. Melawan bocah kurus ini mudah, tapi keributan akan menarik perhatian. Ia melirik Lestari sekali lagi, tatapannya menjijikkan, lalu meludah ke aspal.

“Dasar gelandangan sok jagoan.”

Ia berbalik dan melenggang pergi, menghilang di antara kerumunan.

Lestari melepas napas yang tidak sadar ia tahan. Jantungnya masih berdebar kencang.

“Mbak tidak apa-apa?” tanya pengamen itu, nadanya kembali normal.

Lestari menggeleng, terlalu terguncang untuk bicara. Ia buru-buru menyelesaikan jahitan terakhir, menyimpul benang dengan jari gemetar.

“Sudah, Mas. Ini.”

Pengamen itu memeriksa hasil jahitannya. Matanya melebar sedikit. “Wah… bagus rapi banget. ” Ia mengambil bungkusan nasinya tanpa ragu.

“Ini, Mbak. Ambil. Harusnya aku kasih dua, tapi punyaku cuma ini.”

“Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih…” bisik Lestari.

“Hati-hati di jalan, Mbak. Orang seperti tadi banyak di sini,” katanya sebelum kembali memetik gitarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 8 Panggilan masa Lalu

    Panggilan masa LaluPertanyaan itu menggantung di udara senja yang dingin, lebih pekat dari aroma kopi di cangkir mereka.Sebuah pertanyaan yang menelanjangi, yang meminta akses ke ruang paling rapuh di hatinya. Lestari menunduk, menatap pusaran uap yang naik dari cangkirnya.Selama ini, lukanya adalah miliknya sendiri, sebuah peta kesakitan yang hanya ia yang tahu cara membacanya.“Itu…” suaranya nyaris berbisik, serak. “Cerita yang panjang, Pak. Dan… tidak menarik.”“Aku punya banyak waktu,” sahut Tora pelan, nadanya tidak memaksa, hanya menawarkan.Lestari menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Pak. Sudah lewat. Yang penting sekarang Dian sudah sehat, dan… saya punya pekerjaan.”Ia sengaja menarik garis batas itu lagi. Pekerjaan. Pak. Mengingatkan dirinya sendiri, dan mungkin juga Tora, tentang posisi mereka. Keintiman sesaat di teras ini adalah sebuah anomali, sebuah jeda singkat dari kenyataan.Tora tidak mendesak. Ia hanya mengangguk kecil, seolah mengerti. “Baiklah. Habiskan kopimu.

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 7 Bayangan Di Teras

    Bayangan Di TerasGetaran itu menjalar dari tubuh kecil Lintang, merambat ke lantai marmer, hingga Lestari bisa merasakannya di telapak kakinya.Kengerian murni itu begitu pekat, begitu nyata, seolah bukan lagi milik anak kecil itu saja, melainkan telah menjadi entitas sendiri yang mengisi ruangan. Boneka perca yang baru lahir itu tergeletak terlupakan di atas karpet, warnanya yang ceria kini tampak mengejek.“Lintang? Sayang?” bisik Lestari, tangannya terulur ragu. “Tidak apa-apa. Itu cuma…”Ia tidak tahu itu suara apa. Angin? Hewan?Sebelum Lestari sempat menyentuhnya, Lintang menjerit. Bukan jeritan keras, melainkan pekikan tertahan yang lebih mengerikan, suara tercekik dari dasar paru-paru yang seolah sudah terlalu lama diam.Tubuhnya menegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, matanya terpaku pada kegelapan di balik jendela kaca.Langkah kaki yang berat dan cepat terdengar dari koridor. Tora muncul di ambang pintu, wajahnya yang biasanya dingin kini menegang karena cemas

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 6 Jarum Dan Kain

    Jarum Dan KainLutut Lestari terasa ngilu menekan marmer yang dingin, tetapi bukan itu yang membuatnya gemetar. Suara Tora, yang lebih dingin dari lantai di bawahnya, menusuk langsung ke tulang punggungnya. Ia menelan ludah, rasa asam memenuhi kerongkongannya. Foto di tangannya terasa membakar.“Saya… saya tidak sengaja, Pak,” bisiknya, suaranya serak karena takut. “Saya hanya mau merapikan… lalu jatuh.”Tora tidak bergerak. Matanya yang tajam terpaku pada foto di genggaman Lestari, lalu beralih ke wajah Lestari yang pucat pasi.Ada kilat berbahaya di sana, kilat yang sama yang pernah ia lihat di mata Dirga sesaat sebelum amarahnya meledak.“Berdiri,” perintah Tora, setiap suku kata diucapkan dengan penekanan yang mematikan.Lestari bangkit dengan kikuk, kakinya terasa seperti jely. Ia masih memegangi foto itu, tidak tahu harus berbuat apa.“Berikan padaku.” Tangannya terulur, telapaknya terbuka. Bukan permintaan, melainkan titah.Dengan tangan gemetar, Lestari meletakkan foto wanita

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 5 Keheningan

    Keheningan“Mengerti, Pak.” Suara Lestari nyaris tidak terdengar, sebuah bisikan yang ditelan oleh kemegahan lobi yang dingin.Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria itu, takut jika tatapannya dianggap sebagai pembangkangan.Tora tidak merespons. Ia hanya berbalik dan melangkah lebih jauh ke dalam vila, sol sepatunya yang mahal berketuk di atas lantai marmer, menciptakan gema tajam yang seolah mengiris keheningan.“Ikut aku.”Lestari memeluk Dian lebih erat dan mengikuti dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah. Setiap sudut rumah ini menjeritkan kemewahan yang asing.Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan pemandangan kebun kopi yang berkabut. Perabotan kayu gelap tampak kokoh dan sepi, seperti monumen bagi kehidupan yang pernah ada di sini.Tidak ada tawa anak-anak yang menggema. Tidak ada aroma masakan yang hangat. Hanya bau kopi, kayu, dan udara yang terasa tipis.“Paviliun ada di belakang, terpisah dari rumah utama,” kata Tora tanpa menoleh. “Kebutuha

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 4 Perkebunan Kopi

    Perkebunan Kopi“Bu Sumi! Tolong, Bu!” jerit Lestari, suaranya pecah dan parau. “Dian! Anak saya, Bu!”Pintu gudang sempit itu terdobrak terbuka. Bu Sumi masuk dengan napas terengah, wajahnya pucat pasi melihat tubuh kecil Dian yang menegang kaku di atas dipan.“Ya Tuhan! Kenapa ini, Neng?”“Saya tidak tahu, Bu! Tiba-tiba saja!” isak Lestari, tangannya gemetar hebat saat mencoba menahan kepala Dian agar tidak terbentur.“Badannya panas sekali dari tadi, terus sekarang… begini.”“Kejang! Ini step!” seru Bu Sumi, panik di matanya berganti dengan ketegasan. “Jangan dimasukkan apa-apa ke mulutnya! Miringkan badannya!”Lestari menurut dengan linglung, otaknya kosong. Dunia serasa runtuh. Setelah diusir, kelaparan, dan dihina di jalanan, sekarang ia harus melihat anaknya seperti sedang sekarat di depan matanya.“Tidak ada waktu!” Bu Sumi berlari keluar, meraih gagang telepon tua di meja kasir. Jarinya yang gemuk bergetar saat menekan serangkaian nomor. “Halo? Halo, Pak Tora? Maaf sekali men

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 3 Semangkok Nasi Hangat

    Semangkok Nasi HangatLestari tidak menunggu lebih lama. Ia menyambar ranselnya, menggendong Dian yang mulai merengek pelan di punggungnya, dan berjalan cepat menjauh dari perempatan itu. Rasa takut yang mencekam membuat lambungnya seolah teremas. Ia butuh tempat aman sekarang juga. Bukan cuma hangat, tapi tempat yang bisa membuat mereka aman.Hidungnya menangkap aroma samar. Aroma kaldu ayam dan bawang goreng yang menguar dari sebuah gang kecil. Seperti panggilan sirene bagi perutnya yang kosong, ia mengikuti wangi itu. Di sanalah ia menemukannya: sebuah warung makan sederhana dengan spanduk pudar bertuliskan“Warung Makan Bu Sumi”.Pintunya terbuka. Di dalam, seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal sedang sibuk mengelap meja.Lestari ragu-ragu di ambang pintu. Panas dari dalam warung terasa seperti pelukan.“Cari apa, Neng?” Suara perempuan itu serak tapi ramah.“Anu, Bu…” Lestari menelan ludah, rasa malunya kembali menyerang. Ia menurunkan Dian dari punggungnya. Anak itu terba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status