Share

Bab 5 Keheningan

Author: Dakuromansu
last update Last Updated: 2026-03-02 14:14:26

Keheningan

“Mengerti, Pak.” Suara Lestari nyaris tidak terdengar, sebuah bisikan yang ditelan oleh kemegahan lobi yang dingin.

Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria itu, takut jika tatapannya dianggap sebagai pembangkangan.

Tora tidak merespons. Ia hanya berbalik dan melangkah lebih jauh ke dalam vila, sol sepatunya yang mahal berketuk di atas lantai marmer, menciptakan gema tajam yang seolah mengiris keheningan.

“Ikut aku.”

Lestari memeluk Dian lebih erat dan mengikuti dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah. Setiap sudut rumah ini menjeritkan kemewahan yang asing.

Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan pemandangan kebun kopi yang berkabut. Perabotan kayu gelap tampak kokoh dan sepi, seperti monumen bagi kehidupan yang pernah ada di sini.

Tidak ada tawa anak-anak yang menggema. Tidak ada aroma masakan yang hangat. Hanya bau kopi, kayu, dan udara yang terasa tipis.

“Paviliun ada di belakang, terpisah dari rumah utama,” kata Tora tanpa menoleh. “Kebutuhanmu dan anakmu akan dipenuhi di sana. Ada dapur kecil dan kamar mandi sendiri.”

“Baik, Pak.”

“Setiap pagi jam tujuh, kau harus sudah di rumah utama untuk menyiapkan Lintang. Sarapan jam setengah delapan. Sekolahnya jam delapan.”

“Siap, Pak.”

“Aku tidak suka pengulangan. Aku harap kau cepat belajar.”

“Saya akan berusaha, Pak.”

Mereka tiba di sebuah bangunan yang lebih kecil, terhubung dengan rumah utama melalui selasar beratap kaca. Sama mewahnya, hanya skalanya lebih manusiawi.

Tora membuka pintu. Di dalamnya ada satu kamar tidur dengan dua ranjang, sebuah ruang duduk kecil, dan dapur mungil yang berkilauan. Semuanya bersih, steril, dan tidak berjiwa.

“Letakkan anakmu. Istirahatlah sebentar. Setengah jam lagi, temui aku di ruang keluarga. Aku akan mengenalkanmu pada Lintang.”

“Terima kasih, Pak.”

Tora pergi tanpa sepatah kata lagi, menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Suara klik kunci itu terdengar final.

Lestari akhirnya bisa bernapas. Ia membaringkan Dian di salah satu ranjang. Selimutnya tebal dan lembut, sangat berbeda dengan selimut kartun tipis mereka.

“Kita di sini dulu ya, Nak,” bisiknya pada Dian yang masih tertidur pulas. “Tempatnya bagus. Kamu pasti cepat sembuh. Ibu janji, kita tidak akan kedinginan lagi.”

Ia mengelus kening Dian, panasnya sudah jauh berkurang. Ia menatap sekeliling ruangan. Jendela besar menghadap taman pribadi kecil.

Semuanya sempurna. Terlalu sempurna. Ia merasa seperti boneka pajangan yang ditempatkan di sebuah rumah boneka raksasa.

Dua puluh lima menit kemudian, setelah berganti pakaian dengan satu-satunya daster bersih yang ia punya, Lestari berjalan kembali ke rumah utama.

Jantungnya berdebar. Ia akan bertemu dengan alasan mengapa ia ada di sini. Ia menemukan Tora berdiri di sebuah ruangan luas dengan sofa-sofa besar berwarna kelabu.

Di tengah ruangan, di atas karpet tebal, duduk seorang anak perempuan. Punggungnya lurus, tangannya diam di pangkuan. Ia sedang menatap kosong ke arah televisi yang mati.

“Lintang,” panggil Tora. Suaranya lebih lembut, tapi tetap terasa berjarak.

Anak itu tidak menoleh.

“Lintang, ini Bu Lestari. Dia akan menemanimu mulai sekarang.”

Lestari mendekat perlahan, berjongkok agar tingginya sejajar dengan anak itu. “Halo, Lintang. Nama Tante, Lestari.”

Gadis kecil itu akhirnya menoleh. Matanya besar dan hitam, tetapi kosong. Tidak ada cahaya, tidak ada rasa ingin tahu.

Hanya kekosongan yang dalam dan sunyi, seperti sumur tua tak berdasar. Ia menatap Lestari selama beberapa detik, lalu kembali memalingkan wajahnya ke layar televisi yang gelap. Tidak ada anggukan. Tidak ada senyum. Tidak ada apa-apa.

“Dia… begitu,” kata Tora, ada nada getir yang coba ia sembunyikan. “Tugasmu adalah menemaninya. Pastikan dia makan. Pastikan dia mandi. Pastikan dia tidak sendirian.”

“Apa… apa dia suka sesuatu, Pak? Mainan? Buku?” tanya Lestari, berusaha memecah keheningan yang canggung.

“Dulu dia suka menggambar.” Tora menunjuk sebuah meja kecil di sudut ruangan. “Semua peralatannya ada di sana. Tapi sudah berbulan-bulan tidak disentuhnya.”

“Saya mengerti, Pak.”

“Aku harus bekerja.” Tora melirik jam tangannya. “Makan siang jam satu. Bi Asih, juru masak, yang akan menyiapkannya. Pastikan Lintang makan.”

Lagi-lagi, ia pergi begitu saja. Meninggalkan Lestari berdua dengan keheningan dan seorang anak perempuan yang seolah terbuat dari porselen.

Lestari duduk di lantai, tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. “Hai lagi, Lintang. Tante bawa teman buat Lintang.”

Ia mengeluarkan boneka perca kecil dari saku dasternya. Boneka yang ia jahit semalam di warung Bu Sumi untuk menenangkan hatinya sendiri.

“Lihat? Namanya… Kiki. Dia sedikit pemalu, sama seperti Tante.”

Lintang tidak bereaksi.

“Dian, anak Tante, juga punya boneka. Mungkin nanti kalian bisa main sama-sama kalau Dian sudah sembuh.”

Keheningan.

“Kamu mau Tante ceritakan dongeng?”

Hening lagi...

Lestari menghela napas. Ini akan lebih sulit dari yang ia bayangkan. Ia menatap sekeliling ruangan, mencari sesuatu—apa saja—yang bisa menjadi titik awal.

Matanya tertuju pada rak buku tinggi yang menjulang di salah satu dinding. Mungkin ada buku cerita anak-anak di sana.

“Tante lihat buku sebentar, ya?” katanya, lebih untuk dirinya sendiri.

Ia berdiri dan mendekati rak buku itu. Isinya bukan buku anak-anak. Melainkan buku-buku tebal tentang bisnis, kopi, dan novel-novel bersampul gelap. Saat tangannya menyusuri punggung buku, sikunya tidak sengaja menyenggol sebuah bingkai foto kecil yang terselip di antara dua buku besar.

Prang!

Bingkai itu jatuh ke lantai marmer, kacanya pecah berderai. Suara itu terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian vila.

Lestari membeku, jantungnya serasa berhenti berdetak. Dari sudut matanya, ia melihat Lintang akhirnya menoleh, matanya yang kosong kini sedikit melebar karena terkejut.

“Maaf! Aduh, maaf!” Lestari panik. Ia berlutut dan buru-buru memunguti pecahan kaca dengan tangan gemetar.

Ia takut Tora akan mendengar dan mengusirnya saat itu juga. Ia baru saja melanggar sebuah benda di istana ini.

Di antara serpihan kaca, foto di dalamnya terlepas. Sebuah foto seorang wanita muda yang cantik. Senyumnya lembut, tetapi matanya… matanya memancarkan kesedihan yang familier.

Kesedihan yang sama dengan yang ia lihat di dasar mata Tora. Kesepian yang sama dengan yang terpancar dari kekosongan Lintang.

Amelia. Pasti ini dia.

Tangan Lestari gemetar saat memungut foto itu. Ia menatap wajah wanita itu, merasakan duka yang begitu pekat menyelimuti rumah ini, duka yang menjadi sumber dari semua keheningan dan tatapan kosong.

Ia begitu terhanyut hingga tidak menyadari sepasang sepatu mahal telah berhenti tepat di belakangnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Suara Tora terdengar dingin, lebih dingin dari es. Setiap katanya adalah bilah pisau yang tajam.

Lestari tersentak. Ia masih berlutut di lantai, memegang foto Amelia di tangannya yang gemetar, dikelilingi oleh pecahan kaca dari rahasia yang baru saja ia bongkar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 8 Panggilan masa Lalu

    Panggilan masa LaluPertanyaan itu menggantung di udara senja yang dingin, lebih pekat dari aroma kopi di cangkir mereka.Sebuah pertanyaan yang menelanjangi, yang meminta akses ke ruang paling rapuh di hatinya. Lestari menunduk, menatap pusaran uap yang naik dari cangkirnya.Selama ini, lukanya adalah miliknya sendiri, sebuah peta kesakitan yang hanya ia yang tahu cara membacanya.“Itu…” suaranya nyaris berbisik, serak. “Cerita yang panjang, Pak. Dan… tidak menarik.”“Aku punya banyak waktu,” sahut Tora pelan, nadanya tidak memaksa, hanya menawarkan.Lestari menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Pak. Sudah lewat. Yang penting sekarang Dian sudah sehat, dan… saya punya pekerjaan.”Ia sengaja menarik garis batas itu lagi. Pekerjaan. Pak. Mengingatkan dirinya sendiri, dan mungkin juga Tora, tentang posisi mereka. Keintiman sesaat di teras ini adalah sebuah anomali, sebuah jeda singkat dari kenyataan.Tora tidak mendesak. Ia hanya mengangguk kecil, seolah mengerti. “Baiklah. Habiskan kopimu.

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 7 Bayangan Di Teras

    Bayangan Di TerasGetaran itu menjalar dari tubuh kecil Lintang, merambat ke lantai marmer, hingga Lestari bisa merasakannya di telapak kakinya.Kengerian murni itu begitu pekat, begitu nyata, seolah bukan lagi milik anak kecil itu saja, melainkan telah menjadi entitas sendiri yang mengisi ruangan. Boneka perca yang baru lahir itu tergeletak terlupakan di atas karpet, warnanya yang ceria kini tampak mengejek.“Lintang? Sayang?” bisik Lestari, tangannya terulur ragu. “Tidak apa-apa. Itu cuma…”Ia tidak tahu itu suara apa. Angin? Hewan?Sebelum Lestari sempat menyentuhnya, Lintang menjerit. Bukan jeritan keras, melainkan pekikan tertahan yang lebih mengerikan, suara tercekik dari dasar paru-paru yang seolah sudah terlalu lama diam.Tubuhnya menegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, matanya terpaku pada kegelapan di balik jendela kaca.Langkah kaki yang berat dan cepat terdengar dari koridor. Tora muncul di ambang pintu, wajahnya yang biasanya dingin kini menegang karena cemas

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 6 Jarum Dan Kain

    Jarum Dan KainLutut Lestari terasa ngilu menekan marmer yang dingin, tetapi bukan itu yang membuatnya gemetar. Suara Tora, yang lebih dingin dari lantai di bawahnya, menusuk langsung ke tulang punggungnya. Ia menelan ludah, rasa asam memenuhi kerongkongannya. Foto di tangannya terasa membakar.“Saya… saya tidak sengaja, Pak,” bisiknya, suaranya serak karena takut. “Saya hanya mau merapikan… lalu jatuh.”Tora tidak bergerak. Matanya yang tajam terpaku pada foto di genggaman Lestari, lalu beralih ke wajah Lestari yang pucat pasi.Ada kilat berbahaya di sana, kilat yang sama yang pernah ia lihat di mata Dirga sesaat sebelum amarahnya meledak.“Berdiri,” perintah Tora, setiap suku kata diucapkan dengan penekanan yang mematikan.Lestari bangkit dengan kikuk, kakinya terasa seperti jely. Ia masih memegangi foto itu, tidak tahu harus berbuat apa.“Berikan padaku.” Tangannya terulur, telapaknya terbuka. Bukan permintaan, melainkan titah.Dengan tangan gemetar, Lestari meletakkan foto wanita

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 5 Keheningan

    Keheningan“Mengerti, Pak.” Suara Lestari nyaris tidak terdengar, sebuah bisikan yang ditelan oleh kemegahan lobi yang dingin.Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria itu, takut jika tatapannya dianggap sebagai pembangkangan.Tora tidak merespons. Ia hanya berbalik dan melangkah lebih jauh ke dalam vila, sol sepatunya yang mahal berketuk di atas lantai marmer, menciptakan gema tajam yang seolah mengiris keheningan.“Ikut aku.”Lestari memeluk Dian lebih erat dan mengikuti dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah. Setiap sudut rumah ini menjeritkan kemewahan yang asing.Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan pemandangan kebun kopi yang berkabut. Perabotan kayu gelap tampak kokoh dan sepi, seperti monumen bagi kehidupan yang pernah ada di sini.Tidak ada tawa anak-anak yang menggema. Tidak ada aroma masakan yang hangat. Hanya bau kopi, kayu, dan udara yang terasa tipis.“Paviliun ada di belakang, terpisah dari rumah utama,” kata Tora tanpa menoleh. “Kebutuha

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 4 Perkebunan Kopi

    Perkebunan Kopi“Bu Sumi! Tolong, Bu!” jerit Lestari, suaranya pecah dan parau. “Dian! Anak saya, Bu!”Pintu gudang sempit itu terdobrak terbuka. Bu Sumi masuk dengan napas terengah, wajahnya pucat pasi melihat tubuh kecil Dian yang menegang kaku di atas dipan.“Ya Tuhan! Kenapa ini, Neng?”“Saya tidak tahu, Bu! Tiba-tiba saja!” isak Lestari, tangannya gemetar hebat saat mencoba menahan kepala Dian agar tidak terbentur.“Badannya panas sekali dari tadi, terus sekarang… begini.”“Kejang! Ini step!” seru Bu Sumi, panik di matanya berganti dengan ketegasan. “Jangan dimasukkan apa-apa ke mulutnya! Miringkan badannya!”Lestari menurut dengan linglung, otaknya kosong. Dunia serasa runtuh. Setelah diusir, kelaparan, dan dihina di jalanan, sekarang ia harus melihat anaknya seperti sedang sekarat di depan matanya.“Tidak ada waktu!” Bu Sumi berlari keluar, meraih gagang telepon tua di meja kasir. Jarinya yang gemuk bergetar saat menekan serangkaian nomor. “Halo? Halo, Pak Tora? Maaf sekali men

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 3 Semangkok Nasi Hangat

    Semangkok Nasi HangatLestari tidak menunggu lebih lama. Ia menyambar ranselnya, menggendong Dian yang mulai merengek pelan di punggungnya, dan berjalan cepat menjauh dari perempatan itu. Rasa takut yang mencekam membuat lambungnya seolah teremas. Ia butuh tempat aman sekarang juga. Bukan cuma hangat, tapi tempat yang bisa membuat mereka aman.Hidungnya menangkap aroma samar. Aroma kaldu ayam dan bawang goreng yang menguar dari sebuah gang kecil. Seperti panggilan sirene bagi perutnya yang kosong, ia mengikuti wangi itu. Di sanalah ia menemukannya: sebuah warung makan sederhana dengan spanduk pudar bertuliskan“Warung Makan Bu Sumi”.Pintunya terbuka. Di dalam, seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal sedang sibuk mengelap meja.Lestari ragu-ragu di ambang pintu. Panas dari dalam warung terasa seperti pelukan.“Cari apa, Neng?” Suara perempuan itu serak tapi ramah.“Anu, Bu…” Lestari menelan ludah, rasa malunya kembali menyerang. Ia menurunkan Dian dari punggungnya. Anak itu terba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status