LOGIN“Bu Sumi! Tolong, Bu!” jerit Lestari, suaranya pecah dan parau. “Dian! Anak saya, Bu!”
Pintu gudang sempit itu terdobrak terbuka. Bu Sumi masuk dengan napas terengah, wajahnya pucat pasi melihat tubuh kecil Dian yang menegang kaku di atas dipan.
“Ya Tuhan! Kenapa ini, Neng?”
“Saya tidak tahu, Bu! Tiba-tiba saja!” isak Lestari, tangannya gemetar hebat saat mencoba menahan kepala Dian agar tidak terbentur.
“Badannya panas sekali dari tadi, terus sekarang… begini.”
“Kejang! Ini step!” seru Bu Sumi, panik di matanya berganti dengan ketegasan. “Jangan dimasukkan apa-apa ke mulutnya! Miringkan badannya!”
Lestari menurut dengan linglung, otaknya kosong. Dunia serasa runtuh. Setelah diusir, kelaparan, dan dihina di jalanan, sekarang ia harus melihat anaknya seperti sedang sekarat di depan matanya.
“Tidak ada waktu!” Bu Sumi berlari keluar, meraih gagang telepon tua di meja kasir. Jarinya yang gemuk bergetar saat menekan serangkaian nomor. “Halo? Halo, Pak Tora? Maaf sekali mengganggu malam-malam begini, Pak. Ini Sumi, dari warung soto dibawah.”
Hening sejenak. Bu Sumi melirik ke belakang, ke arah gudang di mana rintihan Lestari terdengar memilukan.
“Gawat, Pak. Ada anak kecil sakit parah di sini. Kejang. Demamnya tinggi sekali. Ibunya… ibunya tidak punya apa-apa, Pak. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Bawa ke puskesmas juga butuh waktu…”
Suara di seberang terdengar tenang dan dalam, memotong kepanikan Bu Sumi.
“Alamatmu di mana?”
Lima belas menit kemudian, sebuah sedan hitam legam yang tampak asing di jalan sempit itu berhenti tepat di depan warung.
Lampunya menyorot tajam, membelah kegelapan malam. Seorang pria tinggi tegap keluar dari balik kemudi. Wajahnya keras, dipahat oleh sesuatu yang lebih dingin dari angin malam. Tora Wijaya.
Ia tidak membuang waktu. “Di mana anaknya?”
“Di belakang, Pak,” kata Bu Sumi, tergopoh-gopoh menunjuk jalan.
Tora masuk ke gudang pengap itu. Matanya langsung tertuju pada Dian yang kini terkulai lemas dalam pelukan Lestari. Kejangnya sudah berhenti, menyisakan tubuh kecil yang ringkih dengan napas tersengal-sengal.
“Kita ke rumah sakit di kota. Lebih lengkap peralatannya,” kata Tora, suaranya adalah perintah.
“Tapi, Pak… saya…” Lestari menatapnya dengan putus asa, “Saya tidak punya uang.”
“Aku tidak bertanya kau punya uang atau tidak,” balas Tora, nadanya datar, menggemakan kata-kata Bu Sumi beberapa jam lalu, tapi tanpa kehangatan sedikit pun.
“Sekarang, bawa anakmu. Cepat.”
Tanpa menunggu jawaban, Tora berbalik. Lestari, didorong oleh insting, segera membungkus Dian dengan selimut tipis dan mengikutinya. Ransel lusuh ia sampirkan di bahu.
Udara di dalam mobil terasa dingin dan wangi, aroma kopi dan kulit mahal yang membuat Lestari merasa semakin kotor dan tidak pantas.
Perjalanan itu terasa seperti mimpi buruk yang hening. Hanya deru mesin mobil dan napas Dian yang memburu.
Tora tidak bicara sama sekali. Ia hanya fokus menyetir, membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi. Lestari memeluk Dian di kursi belakang, berdoa tanpa henti.
Setelah penanganan darurat di rumah sakit, dokter mengatakan Dian mengalami kejang demam akibat infeksi.
Ia butuh perawatan dan istirahat total. Semua biaya telah dilunasi oleh Tora sebelum Lestari sempat bertanya.
Saat fajar menyingsing, Tora mengantarnya bukan kembali ke warung Bu Sumi, melainkan ke arah perbukitan. Jalanan menanjak, diapit oleh hamparan hijau yang tak berujung. Udara menjadi lebih sejuk, bersih.
“Kita mau ke mana, Pak?” tanya Lestari pelan.
“Ke rumahku.”
Jawaban singkat itu membuat jantung Lestari berdebar.
Tak lama kemudian, mobil itu melambat di depan sebuah gerbang besi tempa raksasa yang menjulang tinggi, dihiasi ukiran daun kopi.
Megah. Seperti gerbang istana dalam dongeng. Seorang satpam berseragam membukanya tanpa bertanya, memberi hormat saat mobil melintas.
Di baliknya terhampar jalanan pribadi yang mulus, menuju sebuah vila modern yang menyatu dengan alam.
Dinding kaca, pilar-pilar kayu kokoh, dan taman yang tertata sempurna. Lestari menelan ludah. Kontras antara kemewahan ini dengan emperan toko tempat ia tidur beberapa malam lalu terasa begitu menyakitkan.
Ia menunduk, memandangi daster kumalnya dan sandal jepit usangnya. Ia merasa seperti noda di atas kanvas yang sempurna.
“Turun,” kata Tora saat mobil berhenti di lobi utama.
Lestari menggendong Dian yang masih tertidur lelap karena obat. Ia melangkah keluar dengan ragu. Udara pagi beraroma bunga dan tanah basah, bercampur dengan wangi kopi yang samar-samar.
“Bu Sumi sudah cerita semuanya,” kata Tora, memecah keheningan. Ia menatap Lestari lekat-lekat, tatapannya tajam, seolah sedang menilai setiap inci dari dirinya.
“Tentang suamimu. Tentang kau di jalanan. Tentang keahlian menjahitmu.”
Lestari hanya bisa mengangguk, tenggorokannya tercekat.
“Anakmu butuh tempat yang layak untuk pulih. Kau butuh pekerjaan.”
“Saya… saya bisa kerja apa saja, Pak. Cuci piring, bersih-bersih… Apa pun akan saya kerjakan untuk bayar utang budi saya pada Bapak.”
Tora menggeleng pelan. “Aku tidak butuh tukang cuci piring. Aku butuh pengasuh.”
Lestari membeku. “Pengasuh?”
“Untuk anakku, Lintang. Usianya tujuh tahun.” Tora berhenti sejenak, matanya menerawang ke arah vila yang hening. “Dia… berbeda. Dia butuh seseorang yang sabar. Seseorang yang mengerti apa itu luka.”
Kata-kata itu menusuk Lestari. Ia menatap wajah pria di depannya. Di balik sikap dingin itu, ia bisa melihat jejak kesepian yang dalam.
“Tapi, Pak, saya tidak punya pengalaman. Saya bukan pengasuh profesional. Saya hanya…”
“Kau seorang ibu,” potong Tora cepat. “Dan kamu... terlihat sangat mencintai anakmu. Itu lebih dari cukup.”
Sebuah martabat yang telah lama hilang tiba-tiba terasa kembali. Ia bukan lagi gelandangan yang meminta belas kasihan. Ia adalah seorang ibu. Keahliannya yang paling berharga akhirnya diakui.
“Kau bisa tinggal di paviliun belakang. Gajimu cukup untuk menghidupi dirimu dan anakmu. Dian bisa dirawat di sini sampai sembuh total,” lanjut Tora, seolah semua sudah ia putuskan.
“Ini bukan amal, Lestari. Ini kesepakatan. Aku memberimu tempat berlindung, kau memberiku waktumu untuk Lintang. menurutku ini adil.”
Lestari menatap Dian yang tidur damai di pelukannya. Wajah pucat itu adalah satu-satunya alasan ia bertahan. Ini adalah sebuah keajaiban. Sebuah jalan keluar yang tidak pernah berani ia mimpikan. Air matanya menggenang.
“Saya… saya terima, Pak. Terima kasih. Terima kasih banyak.”
“Bagus.” Tora mengangguk singkat, seolah baru saja menyelesaikan transaksi bisnis. “Mari, akan kutunjukkan kamarmu. Setelah itu, kau bisa bertemu Lintang.”
Lestari mengikuti langkah Tora yang lebar memasuki vila. Interiornya lebih menakjubkan dari luarnya.
Lantai marmer dingin, perabotan minimalis yang mahal, dan sebuah tangga melingkar yang megah. Semuanya terasa begitu besar, begitu kosong, begitu sunyi.
Mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang senyap. Setiap langkah Lestari terasa berat. Bisakah ia hidup di sini? Di dunia yang begitu berbeda dari dunianya?
Tora berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang tinggi.
“Ada satu peraturan mutlak di rumah ini,” katanya tanpa menoleh, suaranya tiba-tiba berubah menjadi lebih dingin, lebih tajam.
“Satu hal yang tidak boleh pernah kau langgar.”
Lestari menahan napas.
“Jangan pernah bertanya tentang ibunya Lintang. Jangan pernah menyebut namanya. Amelia. Jika kau melakukannya, saat itu juga kau dan anakmu kuusir dari sini. Mengerti?”
Panggilan masa LaluPertanyaan itu menggantung di udara senja yang dingin, lebih pekat dari aroma kopi di cangkir mereka.Sebuah pertanyaan yang menelanjangi, yang meminta akses ke ruang paling rapuh di hatinya. Lestari menunduk, menatap pusaran uap yang naik dari cangkirnya.Selama ini, lukanya adalah miliknya sendiri, sebuah peta kesakitan yang hanya ia yang tahu cara membacanya.“Itu…” suaranya nyaris berbisik, serak. “Cerita yang panjang, Pak. Dan… tidak menarik.”“Aku punya banyak waktu,” sahut Tora pelan, nadanya tidak memaksa, hanya menawarkan.Lestari menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Pak. Sudah lewat. Yang penting sekarang Dian sudah sehat, dan… saya punya pekerjaan.”Ia sengaja menarik garis batas itu lagi. Pekerjaan. Pak. Mengingatkan dirinya sendiri, dan mungkin juga Tora, tentang posisi mereka. Keintiman sesaat di teras ini adalah sebuah anomali, sebuah jeda singkat dari kenyataan.Tora tidak mendesak. Ia hanya mengangguk kecil, seolah mengerti. “Baiklah. Habiskan kopimu.
Bayangan Di TerasGetaran itu menjalar dari tubuh kecil Lintang, merambat ke lantai marmer, hingga Lestari bisa merasakannya di telapak kakinya.Kengerian murni itu begitu pekat, begitu nyata, seolah bukan lagi milik anak kecil itu saja, melainkan telah menjadi entitas sendiri yang mengisi ruangan. Boneka perca yang baru lahir itu tergeletak terlupakan di atas karpet, warnanya yang ceria kini tampak mengejek.“Lintang? Sayang?” bisik Lestari, tangannya terulur ragu. “Tidak apa-apa. Itu cuma…”Ia tidak tahu itu suara apa. Angin? Hewan?Sebelum Lestari sempat menyentuhnya, Lintang menjerit. Bukan jeritan keras, melainkan pekikan tertahan yang lebih mengerikan, suara tercekik dari dasar paru-paru yang seolah sudah terlalu lama diam.Tubuhnya menegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, matanya terpaku pada kegelapan di balik jendela kaca.Langkah kaki yang berat dan cepat terdengar dari koridor. Tora muncul di ambang pintu, wajahnya yang biasanya dingin kini menegang karena cemas
Jarum Dan KainLutut Lestari terasa ngilu menekan marmer yang dingin, tetapi bukan itu yang membuatnya gemetar. Suara Tora, yang lebih dingin dari lantai di bawahnya, menusuk langsung ke tulang punggungnya. Ia menelan ludah, rasa asam memenuhi kerongkongannya. Foto di tangannya terasa membakar.“Saya… saya tidak sengaja, Pak,” bisiknya, suaranya serak karena takut. “Saya hanya mau merapikan… lalu jatuh.”Tora tidak bergerak. Matanya yang tajam terpaku pada foto di genggaman Lestari, lalu beralih ke wajah Lestari yang pucat pasi.Ada kilat berbahaya di sana, kilat yang sama yang pernah ia lihat di mata Dirga sesaat sebelum amarahnya meledak.“Berdiri,” perintah Tora, setiap suku kata diucapkan dengan penekanan yang mematikan.Lestari bangkit dengan kikuk, kakinya terasa seperti jely. Ia masih memegangi foto itu, tidak tahu harus berbuat apa.“Berikan padaku.” Tangannya terulur, telapaknya terbuka. Bukan permintaan, melainkan titah.Dengan tangan gemetar, Lestari meletakkan foto wanita
Keheningan“Mengerti, Pak.” Suara Lestari nyaris tidak terdengar, sebuah bisikan yang ditelan oleh kemegahan lobi yang dingin.Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria itu, takut jika tatapannya dianggap sebagai pembangkangan.Tora tidak merespons. Ia hanya berbalik dan melangkah lebih jauh ke dalam vila, sol sepatunya yang mahal berketuk di atas lantai marmer, menciptakan gema tajam yang seolah mengiris keheningan.“Ikut aku.”Lestari memeluk Dian lebih erat dan mengikuti dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah. Setiap sudut rumah ini menjeritkan kemewahan yang asing.Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan pemandangan kebun kopi yang berkabut. Perabotan kayu gelap tampak kokoh dan sepi, seperti monumen bagi kehidupan yang pernah ada di sini.Tidak ada tawa anak-anak yang menggema. Tidak ada aroma masakan yang hangat. Hanya bau kopi, kayu, dan udara yang terasa tipis.“Paviliun ada di belakang, terpisah dari rumah utama,” kata Tora tanpa menoleh. “Kebutuha
Perkebunan Kopi“Bu Sumi! Tolong, Bu!” jerit Lestari, suaranya pecah dan parau. “Dian! Anak saya, Bu!”Pintu gudang sempit itu terdobrak terbuka. Bu Sumi masuk dengan napas terengah, wajahnya pucat pasi melihat tubuh kecil Dian yang menegang kaku di atas dipan.“Ya Tuhan! Kenapa ini, Neng?”“Saya tidak tahu, Bu! Tiba-tiba saja!” isak Lestari, tangannya gemetar hebat saat mencoba menahan kepala Dian agar tidak terbentur.“Badannya panas sekali dari tadi, terus sekarang… begini.”“Kejang! Ini step!” seru Bu Sumi, panik di matanya berganti dengan ketegasan. “Jangan dimasukkan apa-apa ke mulutnya! Miringkan badannya!”Lestari menurut dengan linglung, otaknya kosong. Dunia serasa runtuh. Setelah diusir, kelaparan, dan dihina di jalanan, sekarang ia harus melihat anaknya seperti sedang sekarat di depan matanya.“Tidak ada waktu!” Bu Sumi berlari keluar, meraih gagang telepon tua di meja kasir. Jarinya yang gemuk bergetar saat menekan serangkaian nomor. “Halo? Halo, Pak Tora? Maaf sekali men
Semangkok Nasi HangatLestari tidak menunggu lebih lama. Ia menyambar ranselnya, menggendong Dian yang mulai merengek pelan di punggungnya, dan berjalan cepat menjauh dari perempatan itu. Rasa takut yang mencekam membuat lambungnya seolah teremas. Ia butuh tempat aman sekarang juga. Bukan cuma hangat, tapi tempat yang bisa membuat mereka aman.Hidungnya menangkap aroma samar. Aroma kaldu ayam dan bawang goreng yang menguar dari sebuah gang kecil. Seperti panggilan sirene bagi perutnya yang kosong, ia mengikuti wangi itu. Di sanalah ia menemukannya: sebuah warung makan sederhana dengan spanduk pudar bertuliskan“Warung Makan Bu Sumi”.Pintunya terbuka. Di dalam, seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal sedang sibuk mengelap meja.Lestari ragu-ragu di ambang pintu. Panas dari dalam warung terasa seperti pelukan.“Cari apa, Neng?” Suara perempuan itu serak tapi ramah.“Anu, Bu…” Lestari menelan ludah, rasa malunya kembali menyerang. Ia menurunkan Dian dari punggungnya. Anak itu terba







