Share

Bab 6 Jarum Dan Kain

Author: Dakuromansu
last update Last Updated: 2026-03-03 14:22:01

Jarum Dan Kain

Lutut Lestari terasa ngilu menekan marmer yang dingin, tetapi bukan itu yang membuatnya gemetar. Suara Tora, yang lebih dingin dari lantai di bawahnya, menusuk langsung ke tulang punggungnya. Ia menelan ludah, rasa asam memenuhi kerongkongannya. Foto di tangannya terasa membakar.

“Saya… saya tidak sengaja, Pak,” bisiknya, suaranya serak karena takut. “Saya hanya mau merapikan… lalu jatuh.”

Tora tidak bergerak. Matanya yang tajam terpaku pada foto di genggaman Lestari, lalu berali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 8 Panggilan masa Lalu

    Panggilan masa LaluPertanyaan itu menggantung di udara senja yang dingin, lebih pekat dari aroma kopi di cangkir mereka.Sebuah pertanyaan yang menelanjangi, yang meminta akses ke ruang paling rapuh di hatinya. Lestari menunduk, menatap pusaran uap yang naik dari cangkirnya.Selama ini, lukanya adalah miliknya sendiri, sebuah peta kesakitan yang hanya ia yang tahu cara membacanya.“Itu…” suaranya nyaris berbisik, serak. “Cerita yang panjang, Pak. Dan… tidak menarik.”“Aku punya banyak waktu,” sahut Tora pelan, nadanya tidak memaksa, hanya menawarkan.Lestari menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Pak. Sudah lewat. Yang penting sekarang Dian sudah sehat, dan… saya punya pekerjaan.”Ia sengaja menarik garis batas itu lagi. Pekerjaan. Pak. Mengingatkan dirinya sendiri, dan mungkin juga Tora, tentang posisi mereka. Keintiman sesaat di teras ini adalah sebuah anomali, sebuah jeda singkat dari kenyataan.Tora tidak mendesak. Ia hanya mengangguk kecil, seolah mengerti. “Baiklah. Habiskan kopimu.

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 7 Bayangan Di Teras

    Bayangan Di TerasGetaran itu menjalar dari tubuh kecil Lintang, merambat ke lantai marmer, hingga Lestari bisa merasakannya di telapak kakinya.Kengerian murni itu begitu pekat, begitu nyata, seolah bukan lagi milik anak kecil itu saja, melainkan telah menjadi entitas sendiri yang mengisi ruangan. Boneka perca yang baru lahir itu tergeletak terlupakan di atas karpet, warnanya yang ceria kini tampak mengejek.“Lintang? Sayang?” bisik Lestari, tangannya terulur ragu. “Tidak apa-apa. Itu cuma…”Ia tidak tahu itu suara apa. Angin? Hewan?Sebelum Lestari sempat menyentuhnya, Lintang menjerit. Bukan jeritan keras, melainkan pekikan tertahan yang lebih mengerikan, suara tercekik dari dasar paru-paru yang seolah sudah terlalu lama diam.Tubuhnya menegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, matanya terpaku pada kegelapan di balik jendela kaca.Langkah kaki yang berat dan cepat terdengar dari koridor. Tora muncul di ambang pintu, wajahnya yang biasanya dingin kini menegang karena cemas

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 6 Jarum Dan Kain

    Jarum Dan KainLutut Lestari terasa ngilu menekan marmer yang dingin, tetapi bukan itu yang membuatnya gemetar. Suara Tora, yang lebih dingin dari lantai di bawahnya, menusuk langsung ke tulang punggungnya. Ia menelan ludah, rasa asam memenuhi kerongkongannya. Foto di tangannya terasa membakar.“Saya… saya tidak sengaja, Pak,” bisiknya, suaranya serak karena takut. “Saya hanya mau merapikan… lalu jatuh.”Tora tidak bergerak. Matanya yang tajam terpaku pada foto di genggaman Lestari, lalu beralih ke wajah Lestari yang pucat pasi.Ada kilat berbahaya di sana, kilat yang sama yang pernah ia lihat di mata Dirga sesaat sebelum amarahnya meledak.“Berdiri,” perintah Tora, setiap suku kata diucapkan dengan penekanan yang mematikan.Lestari bangkit dengan kikuk, kakinya terasa seperti jely. Ia masih memegangi foto itu, tidak tahu harus berbuat apa.“Berikan padaku.” Tangannya terulur, telapaknya terbuka. Bukan permintaan, melainkan titah.Dengan tangan gemetar, Lestari meletakkan foto wanita

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 5 Keheningan

    Keheningan“Mengerti, Pak.” Suara Lestari nyaris tidak terdengar, sebuah bisikan yang ditelan oleh kemegahan lobi yang dingin.Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria itu, takut jika tatapannya dianggap sebagai pembangkangan.Tora tidak merespons. Ia hanya berbalik dan melangkah lebih jauh ke dalam vila, sol sepatunya yang mahal berketuk di atas lantai marmer, menciptakan gema tajam yang seolah mengiris keheningan.“Ikut aku.”Lestari memeluk Dian lebih erat dan mengikuti dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah. Setiap sudut rumah ini menjeritkan kemewahan yang asing.Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan pemandangan kebun kopi yang berkabut. Perabotan kayu gelap tampak kokoh dan sepi, seperti monumen bagi kehidupan yang pernah ada di sini.Tidak ada tawa anak-anak yang menggema. Tidak ada aroma masakan yang hangat. Hanya bau kopi, kayu, dan udara yang terasa tipis.“Paviliun ada di belakang, terpisah dari rumah utama,” kata Tora tanpa menoleh. “Kebutuha

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 4 Perkebunan Kopi

    Perkebunan Kopi“Bu Sumi! Tolong, Bu!” jerit Lestari, suaranya pecah dan parau. “Dian! Anak saya, Bu!”Pintu gudang sempit itu terdobrak terbuka. Bu Sumi masuk dengan napas terengah, wajahnya pucat pasi melihat tubuh kecil Dian yang menegang kaku di atas dipan.“Ya Tuhan! Kenapa ini, Neng?”“Saya tidak tahu, Bu! Tiba-tiba saja!” isak Lestari, tangannya gemetar hebat saat mencoba menahan kepala Dian agar tidak terbentur.“Badannya panas sekali dari tadi, terus sekarang… begini.”“Kejang! Ini step!” seru Bu Sumi, panik di matanya berganti dengan ketegasan. “Jangan dimasukkan apa-apa ke mulutnya! Miringkan badannya!”Lestari menurut dengan linglung, otaknya kosong. Dunia serasa runtuh. Setelah diusir, kelaparan, dan dihina di jalanan, sekarang ia harus melihat anaknya seperti sedang sekarat di depan matanya.“Tidak ada waktu!” Bu Sumi berlari keluar, meraih gagang telepon tua di meja kasir. Jarinya yang gemuk bergetar saat menekan serangkaian nomor. “Halo? Halo, Pak Tora? Maaf sekali men

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 3 Semangkok Nasi Hangat

    Semangkok Nasi HangatLestari tidak menunggu lebih lama. Ia menyambar ranselnya, menggendong Dian yang mulai merengek pelan di punggungnya, dan berjalan cepat menjauh dari perempatan itu. Rasa takut yang mencekam membuat lambungnya seolah teremas. Ia butuh tempat aman sekarang juga. Bukan cuma hangat, tapi tempat yang bisa membuat mereka aman.Hidungnya menangkap aroma samar. Aroma kaldu ayam dan bawang goreng yang menguar dari sebuah gang kecil. Seperti panggilan sirene bagi perutnya yang kosong, ia mengikuti wangi itu. Di sanalah ia menemukannya: sebuah warung makan sederhana dengan spanduk pudar bertuliskan“Warung Makan Bu Sumi”.Pintunya terbuka. Di dalam, seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal sedang sibuk mengelap meja.Lestari ragu-ragu di ambang pintu. Panas dari dalam warung terasa seperti pelukan.“Cari apa, Neng?” Suara perempuan itu serak tapi ramah.“Anu, Bu…” Lestari menelan ludah, rasa malunya kembali menyerang. Ia menurunkan Dian dari punggungnya. Anak itu terba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status