Share

Bab 3 Semangkok Nasi Hangat

Author: Dakuromansu
last update Last Updated: 2026-03-02 13:56:12

Semangkok Nasi Hangat

Lestari tidak menunggu lebih lama. Ia menyambar ranselnya, menggendong Dian yang mulai merengek pelan di punggungnya, dan berjalan cepat menjauh dari perempatan itu. Rasa takut yang mencekam membuat lambungnya seolah teremas. Ia butuh tempat aman sekarang juga. Bukan cuma hangat, tapi tempat yang bisa membuat mereka aman.

Hidungnya menangkap aroma samar. Aroma kaldu ayam dan bawang goreng yang menguar dari sebuah gang kecil. Seperti panggilan sirene bagi perutnya yang kosong, ia mengikuti wangi itu. Di sanalah ia menemukannya: sebuah warung makan sederhana dengan spanduk pudar bertuliskan

“Warung Makan Bu Sumi”.

Pintunya terbuka. Di dalam, seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal sedang sibuk mengelap meja.

Lestari ragu-ragu di ambang pintu. Panas dari dalam warung terasa seperti pelukan.

“Cari apa, Neng?” Suara perempuan itu serak tapi ramah.

“Anu, Bu…” Lestari menelan ludah, rasa malunya kembali menyerang. Ia menurunkan Dian dari punggungnya. Anak itu terbatuk lagi, batuk kering yang menyakitkan.

Mata Bu Sumi langsung tertuju pada Dian yang pucat dan berkeringat. “Lho, anaknya sakit?”

Lestari mengangguk pelan. “Demam, Bu.”

“Sudah dibawa ke dokter?”

Lestari menggeleng lagi, matanya mulai berkaca-kaca.

Bu Sumi menghela napas, tatapannya melembut. Ia bisa membaca cerita dari daster kumal, wajah lelah, dan tatapan putus asa itu.

“Duduk dulu. Di dalam lebih hangat.”

Lestari menuntun Dian ke sebuah kursi kayu di sudut. Ia mendudukkan anaknya dengan hati-hati.

“Tunggu sebentar.” Bu Sumi menghilang ke dapur, lalu kembali dengan semangkuk nasi panas mengepul dengan kuah sup bening dan suwiran ayam. Aroma itu membuat perut Lestari melilit hebat.

“Ini, kasih anakmu makan selagi hangat,” kata Bu Sumi sambil meletakkan mangkuk itu di meja.

“Tapi, Bu… saya… saya tidak punya uang,” desis Lestari, suaranya nyaris tak terdengar.

Bu Sumi melipat tangannya di dada, menatap Lestari lekat-lekat. “Saya tidak tanya kamu punya uang atau tidak. Saya bilang, kasih makan anakmu.”

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Lestari buru-buru menyekanya. “Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak.”

Ia mengambil sesendok nasi dan kuah, meniupnya pelan, lalu menyuapkannya ke mulut Dian. “Makan ya, Sayang. Biar cepat sembuh.”

Dian membuka mulutnya dengan lesu, mengunyah perlahan. Setelah beberapa suap, sedikit warna kembali ke pipinya. Lestari terus menyuapi anaknya sampai nasi di mangkuk itu tersisa sedikit.

“Kamu tidak makan?” tanya Bu Sumi yang sejak tadi mengamati dari balik meja kasir.

“Saya sudah kenyang, Bu,” bohong Lestari.

Bu Sumi mendecakkan lidah. “Jangan bohong sama orang tua. Perutmu itu keroncongan dari tadi saya dengar. Habiskan sisanya.”

Lestari ragu sejenak, tapi rasa lapar mengalahkan segalanya. Ia menghabiskan sisa nasi dan kuah itu dalam tiga suapan besar.

Rasanya seperti makanan paling lezat yang pernah ia makan seumur hidupnya. Kehangatan sup itu menjalar ke seluruh tubuhnya, mengusir sedikit rasa dingin dan putus asa.

Saat itulah matanya menangkap tumpukan pakaian  di sudut ruangan. Beberapa kancingnya lepas, ada yang robek di bagian ketiak. Sebuah ide terlintas di benaknya.

“Bu,” panggil Lestari setelah meletakkan mangkuk kosong. “Terima kasih banyak untuk makanannya. Saya… saya ingin membayarnya.”

“Sudah, tidak usah dipikirkan.”

“Saya serius, Bu. Saya tidak punya uang, tapi saya punya keahlian.” Ia menunjuk tumpukan pakaian itu.

“Pakaian itu robek. Saya bisa memperbaikinya. Saya penjahit, Bu. Jahitan saya kuat dan rapi. Saya bisa pasang kancingnya juga.”

Bu Sumi mengangkat alisnya, tampak terkesan. Ia berjalan mendekat dan mengambil satu pakaian yang sobek. “Kamu yakin bisa?”

“Saya jamin, Bu. Lebih bagus dari yang baru.” Ada secercah kebanggaan dalam suara Lestari. Ini adalah satu-satunya hal yang ia miliki: harga dirinya sebagai seorang penjahit.

Bu Sumi mengamatinya sejenak, dari mata yang jujur hingga tangan yang kapalan karena kerja keras. “Baiklah. Kerjakan di sini. Di belakang ada kamar kecil kosong, bekas gudang. Kamu bisa istirahat di sana sama anakmu malam ini. Jangan di jalanan, bahaya.”

Hati Lestari terasa mencelos karena lega. Ia ingin menangis lagi, tapi ditahannya. “Terima kasih, Bu. Semoga Tuhan membalas kebaikan Ibu.”

“Sudah, jangan banyak drama. Cepat kerjakan,” kata Bu Sumi, nadanya pura-pura galak, tapi matanya menyiratkan kehangatan.

Lestari mengeluarkan peralatan jahitnya. Tangannya bergerak dengan lincah, seolah menemukan kembali tujuannya.

Sambil menjahit, ia mendengarkan obrolan Bu Sumi dengan pelanggan yang datang dan pergi. Ia mendengar tentang harga cabai yang naik, tentang sinetron tadi malam, dan tentang gosip di lingkungan sekitar.

“Kasihan sekali itu Pak Tora,” kata seorang ibu-ibu pelanggan. “Sudah setahun lebih istrinya meninggal, anaknya jadi aneh begitu.”

“Aneh bagaimana?” tanya Bu Sumi.

“Jadi tidak mau ngomong, Sum! Bisu mendadak. Padahal dulu anaknya ceria sekali. Sudah dibawa ke mana-mana katanya, tetap saja diam.”

Lestari pura-pura tidak mendengar, tapi telinganya menangkap setiap kata.

“Namanya juga trauma,” sahut Bu Sumi. “Dengar-dengar sekarang lagi cari pengasuh khusus buat anaknya itu. Tapi ya siapa yang betah? Anaknya diam seribu bahasa, bapaknya dingin kayak es batu.”

Jarum di tangan Lestari berhenti sejenak. Pengasuh?

Setelah warung tutup dan pelanggan terakhir pergi, Bu Sumi menghampiri Lestari yang sudah menyelesaikan separuh dari tumpukan seragam.

“Sudah, istirahat saja dulu,” kata Bu Sumi. “Itu anakmu tidurnya gelisah sekali.”

Lestari menoleh. Dian memang tertidur di kursi, tapi napasnya terdengar berat dan tubuhnya kembali panas.

“Ini, kompres dulu keningnya.” Bu Sumi memberikan sebuah baskom kecil berisi air dan sepotong kain bersih.

Lestari membawa Dian ke kamar kecil di belakang. Ruangan itu sempit, hanya ada sebuah dipan kayu tua dan satu jendela kecil, tapi terasa seperti istana baginya. Ia membaringkan Dian, menyelimutinya, dan dengan telaten mengompres keningnya yang panas.

“Kamu dengar obrolan di depan tadi?” tanya Bu Sumi yang bersandar di pintu.

Lestari mengangguk.

“Pak Tora itu pemilik perkebunan kopi di atas bukit sana. Orang kaya, tapi hidupnya kosong. Dia butuh orang yang sabar buat urus Lintang, anaknya.” Bu Sumi menatap Lestari.

“Kamu kelihatannya sabar. Dan kamu butuh pekerjaan. Butuh tempat tinggal yang layak buat anakmu.”

“Saya, Bu?” Lestari menunjuk dirinya sendiri. “Mana mungkin orang seperti saya diterima?”

“Kenapa tidak? Aku lihat kamu jujur, pekerja keras. Itu lebih berharga dari ijazah mana pun.” Bu Sumi merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas.

“Ini alamatnya. Besok pagi coba saja ke sana. Bilang saja tahu dari saya. Siapa tahu nasib baik berpihak padamu.”

Lestari menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Sebuah alamat. Sebuah harapan. Mungkinkah ini jalan keluarnya?

“Sekarang tidurlah. Kamu pasti lelah sekali,” kata Bu Sumi sebelum menutup pintu perlahan.

Lestari duduk di tepi dipan, menatap wajah Dian yang memerah karena demam. Ia menggenggam kertas di tangannya erat-erat.

Harapan itu terasa begitu nyata, sekaligus begitu rapuh. Ia harus kuat. Demi Dian. Besok adalah hari penentuan.

Ia mengelus rambut putrinya yang basah oleh keringat. “Dian… Sayang… dengar Ibu?” bisiknya lembut.

Tidak ada jawaban. Napas Dian terdengar semakin pendek dan cepat.

“Dian?” Lestari menepuk-nepuk pipinya pelan. “Nak, bangun…”

Mata Dian masih terpejam rapat. Lestari menempelkan telinganya ke dada kecil itu. Detak jantungnya lemah. Panik mulai merayap di pembuluh darahnya.

“Dian! Dian, jangan bikin Ibu takut!” serunya, suaranya naik satu oktaf.

Ia mengguncang bahu anaknya sedikit lebih keras. Tiba-tiba, mata Dian terbuka, tapi hanya bagian putihnya yang terlihat. Bibirnya membiru. Tubuh kecil itu mulai kejang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 8 Panggilan masa Lalu

    Panggilan masa LaluPertanyaan itu menggantung di udara senja yang dingin, lebih pekat dari aroma kopi di cangkir mereka.Sebuah pertanyaan yang menelanjangi, yang meminta akses ke ruang paling rapuh di hatinya. Lestari menunduk, menatap pusaran uap yang naik dari cangkirnya.Selama ini, lukanya adalah miliknya sendiri, sebuah peta kesakitan yang hanya ia yang tahu cara membacanya.“Itu…” suaranya nyaris berbisik, serak. “Cerita yang panjang, Pak. Dan… tidak menarik.”“Aku punya banyak waktu,” sahut Tora pelan, nadanya tidak memaksa, hanya menawarkan.Lestari menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Pak. Sudah lewat. Yang penting sekarang Dian sudah sehat, dan… saya punya pekerjaan.”Ia sengaja menarik garis batas itu lagi. Pekerjaan. Pak. Mengingatkan dirinya sendiri, dan mungkin juga Tora, tentang posisi mereka. Keintiman sesaat di teras ini adalah sebuah anomali, sebuah jeda singkat dari kenyataan.Tora tidak mendesak. Ia hanya mengangguk kecil, seolah mengerti. “Baiklah. Habiskan kopimu.

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 7 Bayangan Di Teras

    Bayangan Di TerasGetaran itu menjalar dari tubuh kecil Lintang, merambat ke lantai marmer, hingga Lestari bisa merasakannya di telapak kakinya.Kengerian murni itu begitu pekat, begitu nyata, seolah bukan lagi milik anak kecil itu saja, melainkan telah menjadi entitas sendiri yang mengisi ruangan. Boneka perca yang baru lahir itu tergeletak terlupakan di atas karpet, warnanya yang ceria kini tampak mengejek.“Lintang? Sayang?” bisik Lestari, tangannya terulur ragu. “Tidak apa-apa. Itu cuma…”Ia tidak tahu itu suara apa. Angin? Hewan?Sebelum Lestari sempat menyentuhnya, Lintang menjerit. Bukan jeritan keras, melainkan pekikan tertahan yang lebih mengerikan, suara tercekik dari dasar paru-paru yang seolah sudah terlalu lama diam.Tubuhnya menegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, matanya terpaku pada kegelapan di balik jendela kaca.Langkah kaki yang berat dan cepat terdengar dari koridor. Tora muncul di ambang pintu, wajahnya yang biasanya dingin kini menegang karena cemas

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 6 Jarum Dan Kain

    Jarum Dan KainLutut Lestari terasa ngilu menekan marmer yang dingin, tetapi bukan itu yang membuatnya gemetar. Suara Tora, yang lebih dingin dari lantai di bawahnya, menusuk langsung ke tulang punggungnya. Ia menelan ludah, rasa asam memenuhi kerongkongannya. Foto di tangannya terasa membakar.“Saya… saya tidak sengaja, Pak,” bisiknya, suaranya serak karena takut. “Saya hanya mau merapikan… lalu jatuh.”Tora tidak bergerak. Matanya yang tajam terpaku pada foto di genggaman Lestari, lalu beralih ke wajah Lestari yang pucat pasi.Ada kilat berbahaya di sana, kilat yang sama yang pernah ia lihat di mata Dirga sesaat sebelum amarahnya meledak.“Berdiri,” perintah Tora, setiap suku kata diucapkan dengan penekanan yang mematikan.Lestari bangkit dengan kikuk, kakinya terasa seperti jely. Ia masih memegangi foto itu, tidak tahu harus berbuat apa.“Berikan padaku.” Tangannya terulur, telapaknya terbuka. Bukan permintaan, melainkan titah.Dengan tangan gemetar, Lestari meletakkan foto wanita

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 5 Keheningan

    Keheningan“Mengerti, Pak.” Suara Lestari nyaris tidak terdengar, sebuah bisikan yang ditelan oleh kemegahan lobi yang dingin.Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria itu, takut jika tatapannya dianggap sebagai pembangkangan.Tora tidak merespons. Ia hanya berbalik dan melangkah lebih jauh ke dalam vila, sol sepatunya yang mahal berketuk di atas lantai marmer, menciptakan gema tajam yang seolah mengiris keheningan.“Ikut aku.”Lestari memeluk Dian lebih erat dan mengikuti dari belakang, menjaga jarak beberapa langkah. Setiap sudut rumah ini menjeritkan kemewahan yang asing.Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan pemandangan kebun kopi yang berkabut. Perabotan kayu gelap tampak kokoh dan sepi, seperti monumen bagi kehidupan yang pernah ada di sini.Tidak ada tawa anak-anak yang menggema. Tidak ada aroma masakan yang hangat. Hanya bau kopi, kayu, dan udara yang terasa tipis.“Paviliun ada di belakang, terpisah dari rumah utama,” kata Tora tanpa menoleh. “Kebutuha

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 4 Perkebunan Kopi

    Perkebunan Kopi“Bu Sumi! Tolong, Bu!” jerit Lestari, suaranya pecah dan parau. “Dian! Anak saya, Bu!”Pintu gudang sempit itu terdobrak terbuka. Bu Sumi masuk dengan napas terengah, wajahnya pucat pasi melihat tubuh kecil Dian yang menegang kaku di atas dipan.“Ya Tuhan! Kenapa ini, Neng?”“Saya tidak tahu, Bu! Tiba-tiba saja!” isak Lestari, tangannya gemetar hebat saat mencoba menahan kepala Dian agar tidak terbentur.“Badannya panas sekali dari tadi, terus sekarang… begini.”“Kejang! Ini step!” seru Bu Sumi, panik di matanya berganti dengan ketegasan. “Jangan dimasukkan apa-apa ke mulutnya! Miringkan badannya!”Lestari menurut dengan linglung, otaknya kosong. Dunia serasa runtuh. Setelah diusir, kelaparan, dan dihina di jalanan, sekarang ia harus melihat anaknya seperti sedang sekarat di depan matanya.“Tidak ada waktu!” Bu Sumi berlari keluar, meraih gagang telepon tua di meja kasir. Jarinya yang gemuk bergetar saat menekan serangkaian nomor. “Halo? Halo, Pak Tora? Maaf sekali men

  • Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati   Bab 3 Semangkok Nasi Hangat

    Semangkok Nasi HangatLestari tidak menunggu lebih lama. Ia menyambar ranselnya, menggendong Dian yang mulai merengek pelan di punggungnya, dan berjalan cepat menjauh dari perempatan itu. Rasa takut yang mencekam membuat lambungnya seolah teremas. Ia butuh tempat aman sekarang juga. Bukan cuma hangat, tapi tempat yang bisa membuat mereka aman.Hidungnya menangkap aroma samar. Aroma kaldu ayam dan bawang goreng yang menguar dari sebuah gang kecil. Seperti panggilan sirene bagi perutnya yang kosong, ia mengikuti wangi itu. Di sanalah ia menemukannya: sebuah warung makan sederhana dengan spanduk pudar bertuliskan“Warung Makan Bu Sumi”.Pintunya terbuka. Di dalam, seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal sedang sibuk mengelap meja.Lestari ragu-ragu di ambang pintu. Panas dari dalam warung terasa seperti pelukan.“Cari apa, Neng?” Suara perempuan itu serak tapi ramah.“Anu, Bu…” Lestari menelan ludah, rasa malunya kembali menyerang. Ia menurunkan Dian dari punggungnya. Anak itu terba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status