Malam itu belum benar-benar tenang ketika suara bentakan tiba-tiba memecah keheningan, menghantam pintu kamar tanpa ampun. “Althea! Buka pintunya, istri nggak tau diri! Buka!” Disusul ketukan keras yang bertubi-tubi, tidak sabar, nyaris seperti ingin merobohkan pintu. “Kamu tidur, ya? Ah, enak sekali, kamu tidur tenang ya.” Althea yang baru saja memejamkan mata tersentak bangun. Dengan napas masih berat, ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Begitu dibuka, bau alkohol langsung menyengat kuat, membuatnya refleks menahan napas. Di hadapannya, Zayyan berdiri dengan kondisi berantakan, mata merah, dan tubuh sedikit oleng. Zayyan menyeringai miring. “Akhirnya dibuka juga.” Tanpa menunggu, ia masuk begitu saja, langkahnya tidak stabil. Bau alkohol itu semakin terasa menusuk, membuat Althea menoleh sedikit, berusaha menahan mual. “Kamu enak banget, ya,” ucap Zayyan dengan suara kacau. “Tidur… sementara aku—” ia tertawa pendek tanpa arah. “Kamu mabuk,” potong Althea da
続きを読む