Dari tempat duduknya, Gio tidak langsung menyahut. Sepasang matanya menyipit, mengunci tangan kiri Arka yang menggantung di sisi kursi minibar. Kepalan tangan itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Kekehannya perlahan lenyap, digantikan rasa penasaran yang terusik oleh reaksi tak biasa dari sahabatnya itu.Gio bangkit dari sofa, lalu melangkah lebar menghampiri minibar. "Menunggu undanganku tapi tanganmu seperti ingin menghajar orang, Arka?" godanya sambil bertumpu di seberang meja bar dengan sorot mata menyelidik. "Ekspresimu tidak bisa bohong. Kamu sebenarnya kenal di mana dengan Miranda?"Arka menarik napas pendek, menekan paksa gejolak di dadanya sebelum mengangkat wajah. Topeng dinginnya kembali terpasang sempurna. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat santai, ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana, memutus fokus perhatian Gio."Bukan urusanmu," jawab Arka dingin.Bukannya takut, Gio justru mendengus geli. Ia menegakkan tubuh, melipat kedua tangan di dada
اقرأ المزيد