LOGINAku tidak tahu lagi harus bicara apa. Lidahku mendadak kelu, seolah-olah seluruh pasokan udara di sekitarku menguap. Jika dia sampai tahu hubungan yang sebenarnya antara aku dan suaminya... apa yang akan dilakukannya padaku? Apa ia akan membenciku, mengusirku dari sini, atau membongkar semuanya di hadapan Tuan Ananta?"Nyonya... saya hanyalah pelayan di rumah ini," ucapku serak, berusaha sekuat tenaga mempertahankan nada suaraku agar tidak bergetar. "Saya tidak pernah berpikir atau berniat menyimpang dari batas tugas saya."‘Ya Tuhan... maafkan aku Nyonya Salma...’ batinku perih.“Bukan kamu tapi Sinyo, dia bisa menikahiku tapi dia bisa mencintaimu juga...”Aku terdiam kembali, pria itu memang bisa melakukan itu.Salma menatapku lekat-lekat, matanya berkaca-kaca menahan rasa tertekan yang teramat sangat. "Aku harap begitu, Silvia. Karena jika sampai dugaan burukku ini benar... aku benar-benar tidak tahu harus memercayai siapa lagi di mansion ini."Aku meraih tangannya, lalu meyakinkan
“Aku kira kamu sudah mulai sibuk di kantor sejak tiga hari lalu,” gumam Salma lirih, matanya menatap piring di hadapannya sebelum akhirnya beralih menatap Sinyo. “Tiga hari dua malam kemarin kamu bilang ada urusan bisnis di luar kota, kan?”Bara tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dengan gerakan tenang khas Tuan Sinyo, ia meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring porselen. Bunyi denting logam yang beradu dengan keramik membuat Yumna dan Ibu Diana turut menghentikan suapan mereka kemudian menatap suami istri itu.“Ya, memang aku ada urusan ke luar kota... itu sudah selesai kemarin,” sahut Sinyo dingin dari balik topeng hitamnya. “Dan hari ini aku baru benar-benar masuk ke kantor pusat untuk membereskan kekacauan yang dibuat Papa. Ada yang aneh dari itu?”Salma menelan saliva, sedikit tersentak oleh nada bicara suaminya yang tak menyisakan ruang untuk perdebatan. Ia menggeleng pelan, lalu mencoba tersenyum tipis. “Tidak... aku hanya khawatir kamu kelelahan.”“Aku baik-baik saja,
“Aroma pakaian Sinyo kadang tercampur dengan aroma lain.”Kalimat itu bukan sekadar keluhan seorang istri yang merasa diabaikan, melainkan sinyal bahaya bahwa intuisi seorang wanita tidak bisa diremehkan. Salma mungkin tidak memiliki bukti fisik, tetapi indranya telah menangkap kejanggalan. Setiap kali Mas Bara memelukku, menciumku, atau mendekapku erat seperti di penthouse maupun di kamar ini, aroma tubuhku pasti tertinggal dan melekat pada kemeja atau jasnya.Aku terduduk pelan di tepi ranjang, meremas jemariku yang mendadak dingin. Rasa bersalah dan panik bercampur menjadi satu."Aku harus lebih berhati-hati," bisikku lirih pada diri sendiri seraya mengusap perutku.Aku harus menahan diri. Mulai besok, aku tidak boleh membiarkan Mas Bara menyentuhku sembarangan saat berada di area Paviliun Lavender. Kami tidak boleh ceroboh hanya karena merindukan satu sama lain. Permainan sandiwara ini terlalu berisiko jika harus hancur hanya karena kecerobohan sekecil aroma parfum.Pagi harinya,
Tautan bibir kami terlepas seketika. Suasana kamar yang tadinya panas mendadak mendingin oleh ketegangan yang mendadak menyergap. Napas Bara berhembus berat di atas permukaan kulit leherku, dadanya kembang kempis menahan gejolak hasrat yang dipaksa berhenti secara mendadak."Silvia?" suara Salma kembali terdengar dari balik pintu, diikuti ketukan halus yang berulang.“Gimana ini?” tanyaku panik.“Diam saja, ia berpikir kamu sudah tidur,” bisiknya.“Silvia...”Bara sama sekali tidak panik, ia malah menciumi leherku."Boleh aku minta tolong sebentar? Tolong buatkan teh herbal untukku, perutku agak mual."Mataku membelalak lebar. Tatapanku bertemu lurus dengan manik cokelat Mas Bara dalam remang kamar.Dengan gerakan secepat kilat, aku bergeser turun dari pangkuannya. Jemariku yang gemetar bergegas membenahi kemeja Bara yang kancingnya sempat kubuka, merapikan kerahnya dengan panik.Bara meraih tanganku, menahannya sejenak lalu mengusap punggung tanganku lembut mencoba menyalurkan ketena
Suasana mansion besar itu mulai hening setelah pukul sepuluh. Seluruh lampu di lorong utama redup, menyisakan lampu dinding bercahaya kuning temaram. Aku duduk di tepi ranjang kamarku, memandangi perutku sendiri di balik gaun malam yang longgar. Jemariku mengusapnya perlahan seraya tersenyum tipis.Hari ini cukup melelahkan, Nyonya Salma benar-benar memintaku untuk menemaninya seharian. Sebenarnya aku cukup bersyukur karena bisa menghindari pertanyaan menuntut dari Yumna. Ia tidak berani menyela permintaan kakak iparnya sendiri. Tuan Sinyo atau Mas Bara, aku tau dia menahan diri untuk tidak menatapku, tidak menyela istri bisnisnya juga menjauh sementara dari kami.Klek.Suara engsel pintu yang terkuak pelan membuat jantungku melonjak seketika. Aku menoleh cepat ke arah pintu. Sosok tegap melangkah masuk dengan gerakan sangat halus, hampir tanpa suara, lalu merapatkan pintu kembali hingga terkunci rapat.Pria itu sudah melepaskan jas dan topeng hitamnya. Dalam keremangan kamar, paras te
Mobil hitam mewah itu berhenti perlahan tepat di pelataran Paviliun Lavender. Begitu pintu mobil dibuka, sosok pria di sisiku langsung berubah total. Aura hangat dan lembut Mas Bara yang kunikmati dua hari ini mendadak menguap tanpa sisa.Gesturnya kembali tegap, dingin, dan amat mengintimidasi kembali menjadi Tuan Sinyo yang disegani. Ia telah mengenakan topeng hitamnya, sementara aku melangkah mundur dua langkah di belakangnya, siap memainkan peranku kembali sebagai seorang pelayan.Di depan pintu utama, Nona Salma dan Ibu Diana sudah berdiri menanti kedatangan kami.Tanpa ragu sedikit pun, Salma langsung menghambur maju dan memeluk tubuh Tuan Sinyo dengan erat.Tubuhku seketika menegang menyaksikan pemandangan itu secara langsung. Meskipun aku sudah berjanji tidak akan cemburu, dadaku tetap saja berdesir panas. Dari sudut mataku, aku melihat rahang Tuan Sinyo mengeras perlahan di balik topeng hitamnya. Ia tampak menahan diri setengah mati agar tidak menghempaskan atau menepis tanga
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.
‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus







