Efek kurang tidur dan rasa lelah yang menderanya, Aarick tertidur lagi di taksi yang mereka tumpangi, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.Hennah yang melihatnya hanya bisa mengusap lembut puncak kepala Aarick. "Hanya doa dan harapan yang bisa ibu panjatkan untukmu, semoga kamu mendapatkan kehidupan yang lebih baik!"Usapan tangan sang ibu membuat Aarick semakin nyenyak, dan mimpi sialan itu tiba-tiba datang lagi, seperti luka yang dikoyak sepanjang hidupnya.Aarick saat itu berusia 15 tahun, berbadan cungkring, berdiri kaku di ruang tamu pengap. Di meja makan, Bismar menandatangani kertas dengan tangan gemetar. Di depannya, madam Velove duduk anggun, senyumnya manis tapi matanya menelan. Di balik pintu, dua adik perempuan Aarick, Maurin 9 tahun, dan Laila 7 tahun mengintip sambil menggigit jari, air mata jatuh tanpa suara, ketakutan melihat banyaknya anak buah sang madam. “Ini buat lunasi utang, Rick,” kata Bismar tanpa berani menatap Aarick. “Kamu ikut Madam Velove ya. Biar ki
Last Updated : 2026-04-20 Read more