Jantung Aarick berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia bersandar ke meja, memangkas jarak di antara mereka. Napas Ara tercekat saat tangan Aarick naik, menyentuh rahangnya pelan. Ibu jari Aarick mengusap bibir bawah Ara, lembut dan hati-hati."Jangan bilang kamu gak mau," bisik Aarick, suaranya serak. "Karena matamu bilang sebaliknya."Ara tidak menjawab. Dia hanya menarik kerah baju Aarick, turut memangkas jarak yang tersisa."Aku sangat mau," balas Ara menantang.Bibir Aarick bertemu bibir Ara. Rasanya manis dan memabukkan. Awalnya ragu, dan hanya sentuhan ringan. Tapi detik berikutnya Aarick mengeram pelan, melumatnya lebih dalam. Tangan Ara naik ke tengkuk Aarick, menjambak rambutnya yang pendek. Napas mereka saling bertukar, panas, dan buru-buru. Meja berdecit saat Aarick mendorong Ara hingga terduduk di ujung sofa. Piring berisi kacang goreng tersingkir, berdenting dan isinya tumpah berceceran. Tangan Aarick menjelajah pinggang Ara, meremas bagian-bagian sensitifnya, menunt
Last Updated : 2026-04-26 Read more