LOGINKepala Megan berdenyut saat ia membuka mata.Sakit.Bukan sakit biasa, tapi sakit yang menusuk, seperti ada palu kecil yang memukul-mukul bagian dalam tengkoraknya. Penglihatannya kabur, dunia berputar perlahan sebelum akhirnya mulai terasa lebih nyata.Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kotor, retak, dengan noda-noda kelembaban yang membentuk pola-pola aneh. Lampu di atasnya menyala redup, berkedip-kedip sesekali seperti sedang sekarat.Kemudian, baunya.Bau rokok menyengat di dalam ruangan tersebut. Asap yang sudah tua, yang telah meresap ke dinding-dinding, ke karpet-karpet kotor, ke setiap serat kain di ruangan itu. Berpadu dengan aroma alkohol murah yang tidak nyaman, baunya seperti tempat yang sudah lama tidak dibersihkan, tempat di mana orang-orang datang untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka ingat di pagi hari.Megan mengerjap.Keningnya mengernyit. Ia mencoba menggerakkan kepalanya, mencoba mencari siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.Kosong.Tidak
Keesokan harinya, Megan masih menemani Daniel bekerja. Jadwal padat, pertemuan bisnis yang membosankan, dan senyum sopan yang ia kenakan seperti topeng, semuanya berjalan seperti biasa. Seolah malam-malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Seolah tubuhnya tidak masih mengingat sentuhan Daniel di setiap inci kulitnya.Dan malam harinya, mereka kembali melakukan rutinitas intim.Tanpa kata-kata.Tanpa janji.Tanpa penjelasan.Hanya tubuh yang saling mencari, hanya kehangatan yang mereka bagi diantara seprai sutra yang dingin.Hingga akhirnya, tanpa terasa, hari ketiga mereka di New York tiba.Malam itu, di atas tempat tidur yang luas untuk dua orang yang tidak saling memiliki, Daniel memacu dirinya di atas tubuh Megan.Gerakannya ritmis, penuh hasrat, namun juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Sesuatu yang ia tunjukkan melalui setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap kali tubuhnya bersatu dengan tubuh perempuan di bawahnya.Ia menikmati setiap keha
"Mereka tidak menargetkan dirimu, tapi kenapa kita yang dikejar-kejar?"Megan melepaskan sepatunya dengan kesal, bukan karena marah pada Daniel, tapi karena frustasi. Hari pertamanya di New York, dan sudah harus berlarian di gang-gang gelap seperti sedang berada di film laga murahan. Kakinya pegal, dadanya masih sesak, dan keringatnya masih membasahi seluruh tubuh.Ia melempar sepatunya ke sudut ruangan, lalu menatap Daniel dengan tatapan yang menuntut jawaban.Daniel menoleh sekilas.Sejak ia tiba di New York, sebenarnya ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Musuhnya ada di mana-mana, dan mereka pasti sudah menyelidikinya. Mereka tahu jadwalnya. Mereka tahu rutenya. Mereka tahu apa yang ia coba lindungi, dan siapa yang ia coba lindungi."Tidak bisa dibiarkan. Mereka pasti sudah mulai mengetahuinya."Batinnya berkecamuk. Jika mereka sudah mulai menyelidiki Megan, maka semuanya akan lebih rumit. Jika mereka tahu siapa Megan sebenarnya, maka pertaruhan ini bukan lagi tentang bisnis.In
New YorkSetelah menempuh perjalanan beberapa jam dari Boston, melewati jalan tol yang membosankan, pemandangan pinggir jalan yang berulang-ulang, dan keheningan yang canggung di dalam mobil, mereka akhirnya tiba di New York sekitar pukul enam sore.Matahari mulai tenggelam dibalik gedung-gedung pencakar langit, menciptakan siluet keemasan yang megah. Kota yang tidak pernah tidur itu menyambut mereka dengan hiruk-pikuknya, klakson mobil, suara orang-orang yang berlalu lalang, dan gemerlap lampu neon yang mulai menyala satu per satu.Megan merenggangkan tubuhnya yang berjam-jam duduk di mobil. Punggungnya terasa kaku, lehernya pegal, dan matanya lelah karena menatap jalanan selama berjam-jam. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, merentangkan tubuhnya dalam gerakan yang terasa sangat menyenangkan setelah berjam-jam terkurung.Ujung mata Daniel melihat Megan melakukan itu. Sorot matanya berhenti sejenak di tubuh Megan yang melengkung, tapi ia tidak berkomentar banyak hal. Hanya senyum
Ciuman Daniel tidak berhenti begitu saja.Setelah pria itu mulai mencium Megan tanpa permisi, ia terus melangkah lebih jauh. Seolah satu ciuman tidak cukup untuk memuaskan dahaga yang selama ini ia pendam. Seolah ia sudah menunggu terlalu lama, dan sekarang tidak ada yang bisa menghentikannya.Bibirnya masih menempel pada bibir Megan, hangat dan mendominasi, saat tangannya mulai bergerak. Satu tangan merayap ke pinggang Megan, menariknya lebih dekat, kini menyentuh kulit Megan dengan lembut yang hampir menipu.Megan merasakan tubuhnya terangkat.Kakinya tidak lagi menapak di lantai.Daniel mengangkatnya dengan mudah, seperti mengangkat sehelai bulu, lalu mendudukkannya di atas meja kerja kayu mahoni, meja yang sama yang biasa ia gunakan untuk menandatangani kontrak kematian.Sekarang, meja itu menjadi panggung untuk sesuatu yang sama sekali berbeda.Perempuan itu duduk di tepi meja, tubuhnya setengah berbaring, dengan Daniel yang berdiri di antara kedua kakinya. Pria itu mulai meraba
Waktu berjalan begitu cepat hingga Megan sendiri nyaris tidak menyadarinya.Sudah hampir dua bulan sejak ia mulai bekerja untuk Daniel.Dua bulan tinggal di Boston. Dua bulan hidup di tengah dunia yang penuh rahasia, bahaya, dan orang-orang yang tidak pernah benar-benar bisa ia percaya.Namun dari semua hal yang mengganggu pikirannya, hanya ada satu yang terus menghantuinya setiap malam.Adrian.Selama dua bulan itu, Megan tidak pernah mendengar suara adiknya secara langsung.Tidak sekali pun.Terakhir kali ia melihat Adrian, adiknya masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit Barcelona, tubuhnya dipenuhi selang medis dan mesin pemantau kehidupan.Daniel memang pernah mengatakan bahwa kondisi Adrian membaik. Bahwa Adrian sudah sadar dari komanya. Tapi bagi Megan, itu tidak cukup.Selama ia belum melihatnya sendiri, selama ia belum mendengar suara Adrian dengan telinganya sendiri, ia tidak akan pernah benar-benar tenang.Tiga minggu terakhir berjalan relatif damai.Tidak ada penye
Ingatan masa kecilnya memang banyak yang hilang.Terlalu banyak bagian yang kosong.Seperti buku dengan halaman-halaman yang disobek, ia tahu ceritanya, tapi ia tidak bisa membaca detailnya. Ada lubang-lubang hitam yang menganga di mana seharusnya ada kenangan tentang wajah ayahnya, tentang suara i
Di luar, langit tampak mendung. Kelabu pekat menggantung rendah, menekan kota Boston seperti beban yang tak terlihat. Hujan sudah turun sejak satu jam yang lalu, deras, konsisten, seolah alam sedang ikut menyembunyikan sesuatu. Butir-butir air membasahi jendela kaca, mengaburkan pemandangan kota ya
Dunia kerja Megan kembali.Seperti roda yang terus berputar meski porosnya retak, hidup kembali berjalan dengan rutinitas yang hampir membuat Megan lupa bahwa beberapa hari lalu ia hampir mati ditembak.Ia kembali bertugas sebagai sekretaris Daniel. Meja kecil di luar ruang kerja pria itu menjadi p
Langit malam terbentang gelap di atas rumah megah itu, gelap seperti beludru yang menutupi sesuatu yang belum siap dilihat dunia.Tidak ada bulan yang bersinar. Hanya ribuan bintang yang bertaburan, menghiasi langit seperti berlian kecil yang berkilauan di antara pekatnya malam. Cantik. Tenang. Men







