Dari kejauhan, Andrew menyandarkan tubuhnya pada mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan. Sebatang rokok terjepit di antara jari-jarinya, asap tipis membumbung ke udara dingin Barcelona. Sepasang mata tajam yang tidak pernah kehilangan target, kini tertuju pada sebuah bangunan tua di ujung jalan.Bangunan yang sejak kemarin ia lacak keberadaannya.Dan kini, dari balik pintu besi yang berkarat, ia melihat Megan keluar.Perempuan itu berjalan dengan langkah waspada, matanya bergerak cepat mengamati sekeliling. Seperti kucing liar yang selalu siap melarikan diri. Tapi kali ini, Megan tidak sendirian.Di belakangnya, dua pria bertopi hitam berjalan dengan langkah tegas, satu di sisi kanan, satu di sisi kiri. Wajah mereka tertutup masker, menyisakan hanya sepasang mata yang gelap dan sulit dibaca.Andrew menyipitkan matanya.Rokoknya berhenti di tengah jalan, tidak lagi ia hisap."Siapa mereka?" batinnya.Dengan gerakan lambat, ia mengangkat telepon. Jari-jarinya menekan nomor yang suda
閱讀更多