เข้าสู่ระบบKonferensi pers dilakukan dengan banyak sekali menghadirkan wartawan, sepertinya Andrew ingin semua orang tau kalau hari ini adalah waktunya ia bersinar kembali. Namun, harapannya itu mulai meragukan bahkan untuk dirinya sendiri setelah melihat Megan sudah berdiri di dekatnya, di depan semua wartawan yang Andrew undang. Bahkan, anak buahnya tidak bisa menghentikan Megan saat ini."Perkenalkan," suara Megan bergema di seluruh ruangan, jelas dan tegas. "Aku adalah putri sulung Giorgino Cornelius."Bisik-bisik mulai terdengar di antara para wartawan. Beberapa mulai mengangkat mikrofon lebih tinggi, bersiap menangkap setiap kata yang akan keluar dari mulut perempuan ini."Belasan tahun lalu, setelah pembantaian yang terjadi pada keluargaku, aku dan adikku, Adrian Cornelius, masih hidup. "Kalimat itu melayang di udara seperti bom yang siap meledak. Ruangan mendadak hening, lalu kembali dipenuhi bisik-bisik yang semakin keras."Belasan tahun aku dan adikku hidup di luar tanpa menggunakan
Semua orang melihat ke sumber suara, yang tidak lain adalah Megan.Perempuan itu melangkah maju dari antara kerumunan, membawa sebuah kotak kayu dalam dekapannya. Kotak tua dengan ukiran rumit yang terlihat antik, seperti sesuatu yang disimpan selama bertahun-tahun di tempat tersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk muncul.Megan berjalan dengan langkah mantap menuju panggung. Lampu-lampu sorot mulai bergeser, meninggalkan Andrew yang pucat dan beralih ke arahnya. Semua wartawan, semua kamera, semua mata di ruangan itu kini terfokus pada satu orang.Megan Cornelius.Sebelum Megan melihat para wartawan, ia melihat lebih dulu ke arah Andrew. Bibirnya melengkung membentuk seringai puas, senyum yang mengatakan bahwa kemenangan ada di tangannya.1 hari sebelumnya."Kau masih terlihat tenang, saat Andrew berhasil mengambil stempel itu?" suara Megan naik satu oktaf lebih tinggi.Daniel menoleh, ia baru saja keluar dari ruangan bersama seorang pria, tampak baru saja membicarakan sesuatu yan
Sesuai dugaan Daniel, tiga hari kemudian konferensi pers besar digelar di salah satu hotel ternama di Barcelona. Puluhan wartawan memenuhi ruangan, kamera dan mikrofon mengarah ke panggung tempat Andrew Bosch berdiri dengan setelan hitam yang sempurna. Senyum percaya diri terukir di wajahnya, seolah ia telah memenangkan pertaruhan terbesar dalam hidupnya.Sejak pagi, berita tentang Andrew telah memenuhi berbagai media. Judul-judul besar bermunculan di semua kanal, mengguncang publik yang masih berguncang akibat skandal keluarga Bosch."Andrew Bosch Resmi Menjadi Pewaris Kekayaan Cornelius!""Stempel Keluarga Cornelius Ditemukan, Kekayaan Lama Segera Berpindah Tangan!"Kabar tersebut semakin besar setelah sebelumnya keluarga Bosch diterpa kekacauan akibat kecurangan dunia bisnis dan juga kematian Niel Bosch. Di tengah kehancuran yang hampir membuat nama keluarga itu kehilangan pengaruh, muncul satu kesempatan yang seolah dikirim untuk menyelamatkan mereka.Stempel keluarga Cornelius.B
Megan menatap Andrew dari balik kaca mobil. Pria itu masih berdiri dengan tenang di tengah jalan, pistol terselip di tangannya, seolah kedatangannya malam ini hanya untuk mengambil sesuatu yang sudah menjadi miliknya.Daniel yang terluka berusaha menahan Megan. "Jangan keluar."Namun Megan justru membuka pintu mobil."Megan."Ia turun perlahan, lalu menutup pintu di belakangnya. Tatapannya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Meski tubuhnya masih lelah dan napasnya belum sepenuhnya stabil, ia berdiri tegak beberapa langkah di depan Andrew.Andrew mengangkat alis, kemudian tersenyum miring. "Kau ternyata lebih berani dari yang kukira."Megan mengepalkan kedua tangannya. "Aku tidak akan menyerah."Andrew terkekeh. "Kau yakin?""Aku sudah kehilangan terlalu banyak hal dalam hidupku. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil sesuatu lagi dariku."Tatapan Andrew berubah tajam."Kalau begitu, jangan salahkan aku."Andrew maju lebih dulu.Megan berhasil menghindari pukulan pertamanya, lalu membalas
Malam semakin larut ketika Daniel akhirnya berdiri dari sofa. Beberapa urusan sudah ia selesaikan, dan kini tinggal menunggu waktu sampai semua yang telah dipersiapkannya benar-benar berguna.Megan yang sejak tadi duduk memperhatikannya langsung mengangkat wajah. "Kita mau ke mana?"Daniel mengambil jaket hitam yang tersampir di kursi, lalu mengenakannya dengan tenang. "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.""Apa?"Daniel tidak langsung menjawab. Ia hanya memasukkan cincin ruby itu ke dalam saku dalam jasnya."Sesuatu yang mungkin akan membuatmu tercengang," ucapnya dengan nada setengah bercanda.Megan berdecak, tetapi tetap mengikuti langkah pria itu. "Apa itu berkaitan dengan stempel keluargaku?""Kau pintar menebak."Megan segera berdiri. "Selama bertahun-tahun benda itu disembunyikan. Tidak banyak orang yang tahu keberadaannya, dan kau mengetahuinya? Kalau begitu, kenapa baru sekarang kau memberitahuku?""Karena aku ingin memberitahumu."Daniel berjalan melewatinya menuju pin
Di dalam ruangan yang menghadap ke arah jendela besar, Daniel berdiri. Cahaya bulan malam masuk melalui kaca, menerangi sosoknya yang tegap dan diam. Di tangannya, sebuah cincin tengah ia pegang, cincin yang sama, yang pernah Daniel perintahkan pada Megan untuk mencurinya dari seseorang.Benda kecil itu tampak sederhana di bawah cahaya. Sebuah cincin dengan batu ruby merah tua yang tidak terlalu berkilau, tidak terlalu mencolok. Siapa pun yang melihatnya akan menganggapnya sebagai perhiasan murahan yang tidak bernilai.Tapi Daniel tahu lebih baik.Saat membayangkan sesuatu, mendadak seringai menghiasi bibir Daniel. Senyum yang penuh makna, senyum yang menunjukkan bahwa ia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain."Tidak akan lama lagi, " gumamnya pelan, suaranya nyaris menghilang di antara desiran angin malam.Ia menggenggam cincin itu lebih erat. Mau seperti apa pun, ia tidak boleh kehilangan benda ini. Cincin itu terlihat bukan seperti benda yang mahal, namun sesuatu yang
Seorang pria. Berjalan dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak panik.Namun jelas, mengikutinya.Darah Megan langsung berdesir dingin, panik. Sial! Apakah ia ketahuan?Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Dari cepat… menjadi lari.Sepatu botnya menghantam aspal kasar, nafa
Kata-kata pria itu terus berputar di kepala Megan.Bekerja denganku.Bukan ancaman biasa. Bukan pula sekadar tawaran. Ada sesuatu di balik nada suaranya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Megan berdiri.Kenapa dia tidak melaporkannya?Kenapa justru… menginginkannya?Siapa sebenarnya pria itu?“Megan.
Tiga hari kemudian.Cahaya keemasan membanjiri aula megah tempat pesta ulang tahun Pangeran Andrew digelar. Kristal berkilau dari langit-langit tinggi, musik klasik mengalun lembut, dan tawa para tamu elit berpadu dengan denting gelas anggur.Di balik kemewahan itu, Megan berdiri di antara para pel
Sepanjang hari, jantung Megan tak pernah tenang. Setiap langkah di belakangnya terasa seperti ancaman. Ia yakin sekali saja tertangkap, semuanya berakhir.Namun malam datang… dan tak ada yang mencarinya.Di ruangan sempit, uang berhamburan di atas meja. Trix dan Byne tertawa ringan.“Banyak hari in







