Home / Mafia / Tertawan oleh Don Mafia / Membayar Kesalahan

Share

Membayar Kesalahan

last update publish date: 2026-06-14 19:14:22

"O-om minta maaf," ucap Octavian dengan nada lemah dan sedikit terbata-bata. Dia menelan ludah susah payah. Matanya terpejam beberapa detik, sebelum kembali terbuka. "Maafkan Om soal James."

"Kau tahu dengan jelas, bukan itu yang ingin aku dengar."

"Biarkan Om bicara dengannya. Om janji, ini tidak akan terjadi."

Iris bisa melihat tekanan, kegelisahan dan ketidakmampuan untuk menolak yang terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu. Itu bukan takut, tapi seperti sebuah keterpaksaan. Seolah ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan oleh Don Mafia   Musuh atau Sekutu?

    Raphael. Raphael Valenfort. Nama itu muncul di hasil pencarian teratas ketika Iris mencoba mencari tahu soal pria dalam video tersebut.Wajahnya terpampang jelas dan Iris semakin yakin jika pria itu memang orang yang sama yang pernah ditabraknya beberapa hari lalu. Raphael sempat berkeliaran di wilayah apartemen Lona.Iris tidak tahu apa tujuannya, tapi yang jelas, dia tidak bisa berhenti mencari tahu orang yang berani melawan Silas. Sampai beberapa detik setelahnya, dia tertegun ketika matanya melihat sebuah gambar di salah satu artikel online yang membahas Raphael. Sebuah logo yang tampak tak begitu asing. Tangannya menggulir touchpad dan segera memperbesar gambar itu. Hingga akhirnya, Iris bisa melihatnya dengan jelas. Logo itu berwarna emas dengan gambar kepala singa.Beberapa detik, tubuhnya membeku. Sebelum kemudian matanya membulat dan Iris terkesiap. Dia melotot tak percaya. "Tidak mungkin!"Logo itu... mirip dengan lencana singa emas yang dulu ditemukan Silas setelah peny

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penantang

    Hari itu, Iris baru bangun jam satu siang setelah tertidur karena lelah dengan aktivitas semalam. Nyawanya belum terkumpul sempurna saat dia bersandar di sofa dengan ekspresi lesu. Di tengah suasana tenang itu, perutnya tak disangka berbunyi. Cukup keras untuk membuatnya langsung sadar jika dia kelaparan. "Berta, aku lapar," ucap Iris sambil mengusap perutnya. Suaranya sedikit keras, tapi tidak ada yang menyahut. Sampai detik selanjutnya, kesadarannya terkumpul. Pupil matanya melebar dan tubuhnya spontan terduduk tegak. Kepalanya refleks menoleh. Menatap sekeliling dan menyadari dia ada di apartemen milik Lona. Bukan rumah besar Silas. Bibirnya mendesis. Dia tertunduk sambil memijat pangkal hidungnya. "Sial. Aku lupa."Iris mengusap wajahnya kali ini. Kesadarannya pulih. Dia menyadari dirinya hanya sendirian sekarang. Tidak ada Berta yang biasa bertanya dia mau makan apa hari ini. Dia menghembuskan napas kasar. Dadanya terasa mencelos saat dia tiba-tiba teringat dengan Berta. Pa

  • Tertawan oleh Don Mafia   Lebih Paranoia?

    "Huh?""Kau tahu dari mana soal itu?"Iris tertegun. Kerutan di keningnya yang sempat terlihat, mendadak lenyap, ketika dia mengamati ekspresi khawatir di wajah Lona. Sekilas, kegelisahan terlihat di sana. Cara tangan temannya meremas ujung kemejanya. Matanya menyipit penuh curiga. "Kau tahu sesuatu? Kau tahu soal rumor ini, Lona?"Pertanyaannya yang terus terang, berhasil membuat Lona memutus kontak mata dan melihat ke arah lain. Lona tidak menjawab, tapi tampak beberapa kali dia membasahi bibirnya. Makanan di atas meja tampak bukan lagi sesuatu yang penting. Tidak lagi menarik rasa laparnya. "Itu... itu bukan sesuatu yang penting. Maksudku, itu hanya rumor. Aku pernah mendengarnya, tapi tidak ada kejelasan soal faktanya. Tidak ada berita yang jelas.""Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?" desak Iris. Suaranya terdengar kesal dan sedikit naik. Hingga Lona tampak tersentak dan kembali menatapnya. Kali ini, kegelisahan itu lenyap. Digantikan oleh rasa bersalah dan ekspresi menyesal

  • Tertawan oleh Don Mafia   Rumor Orang Hilang

    "Shiftmu sudah berakhir, kau bisa pulang sekarang." Suara berat seorang pria terdengar, bersamaan dengan kemunculan karyawan shift pagi. Iris yang melamun di balik meja kasir langsung tersadar. Matanya melirik ke luar melalui kaca jendela. Fajar telah menyingsing. Menggantikan pekatnya malam yang sepi saat dia menjaga supermarket sendirian. "Ah, iya, Pak." Iris menganggukkan kepalanya kaku. Menatap manager supermarket yang baru datang dan berdiri di depan kasirnya. Ada perasaan lega yang terbayar ketika akhirnya dia berhasil melewati shift pertamanya tanpa hambatan. Meski semalam, dia sempat dibuntuti. Beruntung setelahnya, pekerjaannya berjalan lancar. "Kau baik-baik saja? Semua lancar kan?" Pertanyaan basa-basi itu dijawab Iris dengan senyum kecil dan anggukan kepala. "Iya, semuanya lancar. Tidak ada masalah. Saya sudah mengisi stock kosong dan yang Anda minta semalam." Manager mengangguk dan tersenyum bangga saat mendengar jawaban Iris. "Bagus, kau melakukan tugas yang

  • Tertawan oleh Don Mafia   Dibuntuti

    Keesokan malamnya. Iris akhirnya nekat untuk tetap pergi bekerja. Dia berdiri di depan cermin ketika melihat penampilannya. Jam di dinding tampak menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam. Pintu ruangan terbuka dan Lona masuk dengan langkah santai. Menatap Iris yang baru selesai merapikan diri. "Iris, kau benar-benar serius mau kerja sekarang? Kau yakin?"Iris mendekat sambil tersenyum kecil. Tangannya menepuk pundak Lona. "Kau bicara seperti kau lupa, kita ini pernah shift malam bersama. Ini hal biasa bagi kita, jangan terlalu serius."Meski Iris menjawab demikian, jauh di lubuk hatinya, dia merasakan ketakutan. Kekhawatiran jika ada sesuatu yang tidak dia duga. "Aku tahu, tapi kondisinya beda sekarang. Gimana kalau kau tidak usah bekerja di sana? Aku coba bicara dengan manajer kafe lagi. Siapa tahu—""Tidak. Tidak, Lona." Iris menggeleng cepat. Memotong ucapan Lona. "Aku ingin sesuatu yang baru dan kurasa, aku menemukannya di pekerjaan ini."Dia menolak untuk bicara jujur, jika

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tawa yang Kembali

    "Iris, kau tidak apa-apa?"Lona mendekat. Dia merangkul bahu Iris dan mencoba menyandarkannya di sofa. "Hei, tenanglah. Bernapaslah perlahan. Tidak ada apa-apa. Tarik napas dan buang."Lona sedikit menggeser tubuhnya. Memberi ruang bagi Iris yang tampak memegangi dadanya kesakitan. Wajah pucat dan menahan sakit tampak jelas terlihat. Namun dia tidak berhenti menenangkannya. Sampai perlahan, napas Iris mulai beraturan. Raut wajahnya yang menahan sakit, mulai rileks. Lona bisa melihat pegangan tangan Iris tidak lagi mencengkeram dadanya. Spontan, dia menggenggam tangan itu dan meremas pelan. "Kau baik-baik saja. It's okay, Iris," ucap Lona dengan nada lembut. Tangannya mengusap kening Iris yang tampak berkeringat. Mata itu terpejam beberapa saat, sebelum kembali terbuka. Iris tidak langsung bicara. Hanya menatap lekat Lona. Menyadari keadaan membaik, Lona melepaskan genggaman tangannya. "Tunggulah, aku akan membuatmu minum."Lona berdiri dan hendak beranjak ke dapur, tapi belum semp

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sisa Harga Diri

    "Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Perlawanan

    "Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status