Share

Balas Dendam?

Penulis: Koran Meikarta
last update Tanggal publikasi: 2026-06-09 18:25:58
"Ravenshade?"

Iris yang sebelumnya diam, seketika bersuara saat nama itu disebut. Dia spontan melepaskan tangan Silas dan mendekat.

Wajahnya yang masih pucat karena kekurangan oksigen, hanya bisa menatap nanar penyusup itu. Saat nama Ravenshade disebut, pikirannya langsung terkoneksi pada Octavian, Isolde dan Lyra. Tiga orang yang pernah menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan.

Namun satu hal yang tidak dia pahami sama sekali, Ravenshade adalah keluarga yang dekat dengan kelu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bertahan Sebisa Mungkin

    Mata Iris berkedip. Dia mematung di tempat saat mendengar perkataan Silas. Lalu melirik peti kecil itu dan Silas secara bergantian. Berharap jika Silas sedang bercanda, tapi pria itu tidak pernah bercanda. Matanya kemudian kembali tertuju pada perhiasan di peti tersebut. Ada kalung, gelang, jepit rambut, sampai anting. Semua itu adalah benda yang tidak terpasang di tubuhnya sekarang. Tepatnya nyaris tidak pernah dia gunakan, meski sebenarnya perhiasan semacam itu telah disediakan Silas. Berta juga beberapa kali mencoba menawarkan diri untuk memasangkannya, tapi dia selalu menolak. Iris hanya benar-benar memakainya saat Silas memaksanya mengajak keluar seperti ke pesta gala. "Untukku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Suaranya terdengar seperti sebuah bisikan. Ada rasa kaget dan sorot tak percaya terpancar di matanya. Selain karena perhiasan itu tampak berbeda dari yang diberikan Silas sebelumnya, perhiasan tersebut juga diberikan langsung oleh Silas sendiri. Iris tidak

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sebuah Hadiah?

    Tubuh Iris membeku mendengar jawaban Silas. Matanya berkedip beberapa kali. "P-pulau pribadi?"Pandangannya dengan cepat kembali menatap sekeliling. Mencoba melihat ujungnya, tapi pulau itu terlalu luas. Bukan pulau kecil yang hanya seluas apartemen. Karena di sana, Iris melihat ada beberapa bangunan permanen yang berdiri. Nilainya jelas tidak akan murah. Apalagi jika berada di dekat area pelabuhan yang menjadi jalur perdagangan di kawasan. Iris menelan ludah kasar. Berta tidak bilang soal pulau pribadi. Dia kira, wilayah kekuasaan Silas hanya sebatas pelabuhan saja. Namun tampaknya, tidak ada yang benar-benar bisa menebaknya secara pasti. Tangannya mengepal erat di kedua sisi. Ada rasa waspada yang sedikit berbeda di sana. Bukan gugup, tapi lebih ke rasa takut. Iris tidak melihat Silas mengajaknya ke sana untuk liburan. Tempat itu juga bukan tempat untuk bersenang-senang secara pribadi, tapi tampak seperti gudang di bawah kendali Silas. "Berhenti melamun."Iris tersentak saat me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pulau Pribadi

    Dua hari kemudian. Iris tidak bisa membuat Silas mengurungkan niat untuk pergi. Silas terlihat baik-baik saja. Wajahnya segar, nyaris tidak memperlihatkan bekas luka yang beberapa hari lalu membuat Iris kehilangan kesabaran. Sangat. Hingga dia merasa kesal sendiri. Walau di sisi lain, Iris juga tidak bisa menampik, dia penasaran ke mana Silas akan membawanya kali ini. "Aku tidak melihat Elliot dua hari ini," ucap Iris yang berjalan santai menyusuri jalanan di pelabuhan. Matanya melirik Silas yang berjalan lebih dulu. Santai, tanpa ada yang mengganggu. Pelabuhan itu adalah tempat publik, di mana semua orang dari berbagai negara berkumpul, tapi Silas tampak sangat tenang, seolah itu tempat paling aman. Meski beberapa waktu lalu, pria itu diserang. Sialnya, Iris juga harus mengakui, tempat itu terasa dijaga lebih ketat. Jauh sebelum dia datang. "Dia sibuk.""Sibuk? Memang dia sibuk apa selain mengikutimu sepanjang waktu?" tanyanya setengah menyindir, tapi Silas tidak merespons, pri

  • Tertawan oleh Don Mafia   Khawatir atau Bukan?

    "Lusa? Ke mana?"Iris spontan menatap serius Silas saat pria itu tiba-tiba mengajaknya pergi. Alisnya berkerut dalam. Tidak bisa tidak langsung curiga kalau pria itu memiliki rencana. Dia melepaskan paksa tangan pria itu yang menggenggamnya. "Kau akan tahu nanti."Mata Iris menyipit. Dia ingin memprotes, tapi merasa itu semua percuma. Penolakannya tidak akan pernah didengar. "Kau bahkan masih dalam keadaan terluka dan kau berpikir untuk mengajakku pergi? Kau mau musuhmu datang dan membunuhmu?"Silas yang sedang merapikan ikatan perban di lengannya, tampak berhenti sejenak. Mata birunya menatap Iris sebelum kembali tertuju pada perban di lengan. "Ini hanya luka kecil." Mulut Iris terkatup. Dia tidak bisa menyangkal kalau perkataan Silas benar. Itu hanya luka kecil, karena jauh sebelum itu, Silas pernah terluka akibat serpihan blm dan pria itu masih hidup! Meski sekarang lengannya tampak robek dan jejak darah bisa terlihat di lantai, tetap belum seberapa dari yang dialaminya waktu it

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Penyusup

    Iris memutar tubuhnya. Menghadap tepat ke arah Silas dengan wajah ditekuk. Dia tidak yakin Silas benar-benar berpikir dia adalah penyusup. Apalagi dengan baju tidur dan tanpa alas kaki. Hanya dengan melihat punggungnya saja, harusnya pria itu sudah tahu. "Mana ada penyusup masuk ke lorong utama. Kau pikir bisa membodohiku?" Tangan Iris mengepal di kedua sisi. Dia berdecak, tapi tidak terlihat rasa bersalah di wajah Silas. Pria itu juga tidak menjelaskan apa pun. Hanya keheningan malam yang mengisi suasana di antara mereka. Sampai detik selanjutnya, Iris membuang napas kasar dan berbalik untuk pergi. Tetapi, belum selangkah dia berjalan, lengannya digenggam. Ditarik mundur hingga punggungnya menabrak tubuh di belakangnya. "Siapa yang menyuruhmu pergi?"Iris tersentak dan bergidik saat merasakan embusan napas Silas di telinganya. Tubuhnya seketika menjadi kaku. Sejenak dia mengalami disorientasi. Sampai beberapa detik kemudian, Iris kembali tersadar. Dia bisa merasakan detak jantu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Cemburu

    Tiga hari berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Elara. Iris tidak bisa berhenti memikirkannya. Tidak juga bisa menanyakan langsung pada Silas. Pria itu sibuk dan hampir belum pulang ke rumah. Dia tidak tahu di mana Silas berada. Satu-satunya orang yang sering terlihat hanyalah Elliot. Tentu saja, semenjak Silas meminta Elliot melatihnya, dia jadi sering bertemu dengan pria itu. Sampai rasanya Iris benar-benar muak melihat wajahnya. "Berta, apa yang kau tahu soal Elara?" tanya Iris tiba-tiba saat dirinya sedang duduk di sebuah bangku taman belakang. Matanya melirik helipad yang tidak terdapat helikopter. Beberapa hari sebelumnya, Dominic pergi dengan itu. "Elara? Nona Elara Ravenshade?"Iris menoleh. Dia melihat Berta menatap bingung. "Siapa lagi? Memang ada Elara yang kukenal?"Alih-alih tersinggung, Berta hanya tertawa kecil saat nada bicara Iris sedikit ketus. "Saya tidak tahu banyak soal beliau. Saya hanya tahu kalau keluarga Ravenshade memiliki hubungan baik dengan kelu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Perlawanan

    "Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status