"Katakan di mana ibuku sekarang, Martha!" tuntut Nayaka. Suaranya bergetar rendah menahan luapan amarah yang membakar dada.Dokter Martha meringis kesakitan, tangan kirinya memegang pergelangan tangan kanan yang masih tertancap pisau milik Lucien. Darah segar mengucur deras, membasahi lantai marmer lorong lantai tiga puluh lima bersama lembaran foto yang berserakan."Kamu... kamu tidak akan pernah bisa menjemputnya hidup-hidup, Aurora," desis Martha dengan tawa sumbang yang tertahan di tenggorokan.Lucien melangkah maju, sepatu botnya menginjak kertas foto yang menampakkan wajah Sofia Wijaya dengan penekanan yang lambat namun mematikan. Ia mencengkeram rahang Martha, memaksa wanita paruh baya itu mendongak menatap langsung ke dalam manik matanya yang sedingin es."Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain tebak-tebakan dengan wanita sekarat," ujar Lucien. Tenang, tapi tersirat ancaman mutlak. "Satu kebohongan lagi keluar dari mulutmu, aku pa
Last Updated : 2026-05-24 Read more