Air hujan yang dingin terus menghantam wajah Nayaka, tetapi pandangannya tidak bergeser dari tali nilon yang menegang di hadapannya. Di bawah sana, Hendrawan bergelantungan dengan wajah pias, berseru parau memohon belas kasihan kepada anak yang pernah ia buang. “Aurora! Jangan potong talinya! Aku tahu… aku punya banyak salah. Aku minta maaf!” jerit Hendrawan, suaranya pecah ditelan gemuruh ombak. Nayaka diam. Ia menggeser mata pisau komando, menempelkannya tepat di atas serat tali nilon yang mulai terkikis oleh gesekan besi buritan. Satu gerakan kecil saja, dan riwayat pria tua itu akan berakhir di gulungan laut hitam. “Dia sengaja mengulur waktu, Aurora. Potong saja,” ujar Lucien sambil melangkah mendekat. Tatapannya dingin dan kosong. Hendrawan semakin panik melihat Lucien memihak Nayaka. Tangannya yang tua bergetar, tenaganya hampir habis menahan berat tubuh di tengah guncangan badai. “Lucien! Kalau aku mati, aset Wijaya Group di Swiss tidak akan pernah bisa dibuka! Hanya aku y
Last Updated : 2026-05-21 Read more