INICIAR SESIÓN"Punya lo, lo yang panggang sendiri ya.” Kaivan menggeser piring besar berisi irisan daging mentah yang masih menumpuk ke arah Ariyan. Ariyan menatap penjepit besi di depannya dengan rahang yang mengatup rapat. Memori masa lalu tiba-tiba melintas. Dulu, setiap kali mereka makan bersama, Zivanya adalah orang yang selalu sibuk membalik daging, meracik saus, dan memastikan piring Ariyan terisi penuh tanpa pria itu perlu mengotori tangannya. Ariyan terbiasa dilayani bagai seorang raja oleh Zivanya yang kala itu masih sangat mencintainya.Namun siang ini Ariyan disingkirkan ke sudut meja. Ia dipaksa melayani dirinya sendiri, sementara wanita yang belasan bahkan puluhan tahun mendampinginya sedang diperlakukan dengan begitu penuh perhatian oleh pria lain di depan matanya.Ariyan memandang Zivanya yang asyik menikmati makanannya. Berharap perempuan itu menawarkan diri membantunya. Bukannya membantu, Zivanya sedikit pun tidak ingin menatapnya.Dengan berat hati Ariyan menyambar penjepit
“Kita bawa mobil masing-masing. Biar nanti dari restoran lo bisa langsung balik ke kantor. Nggak perlu repot-repot nganterin Ziva balik ke sini. Takutnya lo kena macet, apalagi jam segini,” putus Ariyan sepihak. “Ziva biar sama mobil gue.”Ide Ariyan tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Zivanya. “Aku bareng Kaivan. Kamu aja yang bawa mobil sendiri.”“Kalau gitu kita berangkat bertiga. Pakai mobil Kaivan.” Ariyan yang tidak ingin kehilangan kesempatan kembali memutuskan.“Boleh,” jawab Kaivan setuju.Setelah berada di dekat kendaraan tersebut, Kaivan membuka pintu penumpang depan dan mempersilakan Zivanya duduk sebelum Ariyan mengambil posisi tersebut. Kaivan memastikan wanitanya duduk dengan nyaman di sebelahnya sebelum ia sendiri memutari kap mobil dan duduk di balik kemudi. Sementara Ariyan dengan terpaksa duduk di belakang sendiri. Padahal tadi ia bermaksud duduk di depan agar Zivanya dan Kaivan tidak berdekatan.Begitu mobil melaju membelah jalanan kota yang terik, atmosfer di
Ketukan di pintu ruangannya terdengar tepat ketika Zivanya sedang meninjau dokumen yang seharusnya sudah ia selesaikan sejak kemarin. "Masuk." Setelah mengatakan itu ia tidak langsung mengangkat kepala untuk melihat siapa yang datang. Matanya masih menelusuri baris-baris angka di depannya. Penanya bergerak otomatis menandai bagian yang perlu direvisi. Barulah ketika tidak ada suara apa pun setelah pintu terbuka, Zivanya mendongak. Ariyan berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih yang lengannya digulung sebatas siku. Warna dan gaya favoritnya. Zivanya meletakkan pena. “Ada perlu apa?" tanyanya formal. Ariyan melangkah lebih dekat lalu tanpa permisi duduk di kursi di seberang meja Zivanya. “Lagi sibuk?” tanyanya melihat meja Zivanya yang dipenuhi oleh kertas. Zivanya menjawab dengan anggukan dan menunggu Ariyan menyampaikan maksud kedatangannya. Tetapi lelaki itu tidak kunjung bersuara sehingga Zivanya kembali bertanya, “Ada yang ingin dibahas tentang pekerjaan?” “Aku cuma mau
Di kamar tidurnya yang luas dan sunyi, Zivanya duduk termenung di tepi ranjang memproses semua yang dialaminya hari ini. Perhatiannya kemudian tertuju pada kado dari Kaivan. Zivanya melangkah mendekat, mengambil kado itu.Dengan hati-hati, Zivanya menarik ujung pita dan membuka kertas pembungkusnya. Di dalam kotak terdapat sebuah wadah kayu berukir. Saat tutup kotak kayu itu terangkat, sepasang mata indah Zivanya seketika melebar. Di atas bantalan kain di dalam kotak tersebut tergeletak sebuah benda logam berwarna silver. Sebuah kunci.Zivanya mematung selama beberapa detik. Didorong oleh rasa penasaran, Zivanya segera mengambil ponsel. Ia membuka aplikasi pesan dan langsung mencari nama Kaivan.[Kai, aku baru aja buka kado dari kamu. Ini kunci apa? Kamu nggak salah masukin barang ke dalam kotaknya, kan?]Hanya dalam hitungan detik, status di bawah nama Kaivan berubah menjadi Online, disusul dengan baris tulisan Typing...[Belum tidur? Syukurlah kalau udah dibuka. Jawabannya ada
Langkah kaki Ariyan terasa begitu berat saat ia melangkah memasuki rumah. Pria bertubuh menjulang itu tampak seperti raga tanpa jiwa. Di tangan kanannya, buket bunga mawar merah yang sedianya ia berikan untuk Zivanya tampak merunduk, seolah menjadi saksi bisu hancurnya harapan sang pemilik. Sementara di tangan kirinya, kotak kado berisi perhiasan indah masih tergenggam erat. Zivanya bahkan tidak sudi menyentuh ujung kertas pembungkusnya sedikit pun, dan membiarkannya menggantung sia-sia di udara sebelum akhirnya diusir pergi.Ariyan mengembuskan napas lelah seraya melangkah menuju ruang keluarga yang lampunya masih menyala. Ia mengira kedua orang tuanya sudah tidur karena waktu telah melewati tengah malam. Namun ternyata, di atas sofa berdesain klasik, Jeandra masih duduk dengan tenang sembari membaca buku.Seolah menyadari langkah kaki yang mendekat, Jeandra mengangkat wajah dari layar handphone. Mata pria tampak gagah di usianya yang tidak lagi muda itu langsung tertuju pada put
Seluruh sendi di tubuh Zivanya mendadak mati rasa mendengar untaian kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Ariyan. Ia tidak salah dengar, kan? Ariyan baru saja mengajaknya untuk kembali membangun rumah tangga? Menyalakan kembali api yang telah lama padam dan abu yang sudah ia sapu bersih dari hidupnya?Gila. Ini benar-benar gila.Hanya dalam rentang waktu beberapa jam di malam yang sama, dunia Zivanya seolah dijungkirbalikkan oleh dua orang lelaki. Baru tadi di restoran, ia memantapkan hati, menepis keraguan, dan menyambut uluran komitmen masa depan dari Kaivan. Pria yang sejak bertahun-tahun selalu ada untuk memeluk dunianya dan Kaisar saat runtuh tak bersisa. Namun kini, di ambang pintu rumahnya sendiri, mantan suaminya datang membawa penyesalan yang terlambat.Saat Zivanya menatap wajah Ariyan lebih lekat, ia bisa melihat betapa putus asanya laki-laki itu. Tetapi hal itulah yang membuat Zivanya merasa segalanya menjadi semakin tidak masuk akal.Kenapa sekarang? Kenapa sete
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







