Share

Part 27

last update publish date: 2026-05-05 21:43:43
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat Zivanya tiba di rumah. Seluruh lampu telah menyala terang. Begitu kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati penghuninya.

Ariyan sedang duduk di sofa sambil merokok. Lelaki itu menunggu istrinya sejak tadi.

Zivanya melihat Ariyan. Tapi ia terus melangkah melewati lelaki itu.

​"Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" tegur Ariyan tidak senang.

Meskipun telinganya mendengar dengan baik pertanyaan suaminya, tapi sama sekali tidak menghentikan lan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Aurora Aurora
TETEP TUHAN YG MAHA PENCIPTA PUNYA KUASA ATAS SEGALA²NYA... DIBIKIN KETEMU BARENG GITU, JENDRA SAMA ZELENA LAGI DINNER, KETEMU SI DAJJAL ARIYAN SAMA SI LONTE AIRA LAGI DINNER JUGA...!!! ATAU LAGI KETEMU "AMPROKANNYA" SAMA ZELENA NYA, SI LONTE AIRA SAMA ARI LAGI KELUAR DR POLI KANDUNGAN...
goodnovel comment avatar
Aurora Aurora
COBA DR DULU GITU ZIVA,, KAGA MAKAN HATI LO, GA BIKIN STRESS LO SNDIRI...!!! THOOORRR... UDAH BIKIN ZIVA LANGSUNG HAMIL AJA, GA USAH ZIVA PAKE TIDUR BARENG BERCINTA LAGI MALEM² SELANJUTNYA SAMA SI DAJJAL ARIYAN INI..!!!! JIJJIIIIKKKKK... IUEEYYY... BEKAS SILONTE AIRA..!!!
goodnovel comment avatar
Yuniw Zz
bagus ziva terus tekan n buat ari cemburu buta
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 192

    ​"Punya lo, lo yang panggang sendiri ya.” Kaivan menggeser piring besar berisi irisan daging mentah yang masih menumpuk ke arah Ariyan. Ariyan menatap penjepit besi di depannya dengan rahang yang mengatup rapat. ​Memori masa lalu tiba-tiba melintas. Dulu, setiap kali mereka makan bersama, Zivanya adalah orang yang selalu sibuk membalik daging, meracik saus, dan memastikan piring Ariyan terisi penuh tanpa pria itu perlu mengotori tangannya. Ariyan terbiasa dilayani bagai seorang raja oleh Zivanya yang kala itu masih sangat mencintainya.​Namun siang ini Ariyan disingkirkan ke sudut meja. Ia dipaksa melayani dirinya sendiri, sementara wanita yang belasan bahkan puluhan tahun mendampinginya sedang diperlakukan dengan begitu penuh perhatian oleh pria lain di depan matanya.Ariyan memandang Zivanya yang asyik menikmati makanannya. Berharap perempuan itu menawarkan diri membantunya. Bukannya membantu, Zivanya sedikit pun tidak ingin menatapnya.​Dengan berat hati Ariyan menyambar penjepit

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 191

    “Kita bawa mobil masing-masing. Biar nanti dari restoran lo bisa langsung balik ke kantor. Nggak perlu repot-repot nganterin Ziva balik ke sini. Takutnya lo kena macet, apalagi jam segini,” putus Ariyan sepihak. “Ziva biar sama mobil gue.”Ide Ariyan tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Zivanya. “Aku bareng Kaivan. Kamu aja yang bawa mobil sendiri.”“Kalau gitu kita berangkat bertiga. Pakai mobil Kaivan.” Ariyan yang tidak ingin kehilangan kesempatan kembali memutuskan.“Boleh,” jawab Kaivan setuju.Setelah berada di dekat kendaraan tersebut, Kaivan membuka pintu penumpang depan dan mempersilakan Zivanya duduk sebelum Ariyan mengambil posisi tersebut. Kaivan memastikan wanitanya duduk dengan nyaman di sebelahnya sebelum ia sendiri memutari kap mobil dan duduk di balik kemudi. Sementara Ariyan dengan terpaksa duduk di belakang sendiri. Padahal tadi ia bermaksud duduk di depan agar Zivanya dan Kaivan tidak berdekatan.​Begitu mobil melaju membelah jalanan kota yang terik, atmosfer di

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 190

    Ketukan di pintu ruangannya terdengar tepat ketika Zivanya sedang meninjau dokumen yang seharusnya sudah ia selesaikan sejak kemarin. "Masuk." Setelah mengatakan itu ia tidak langsung mengangkat kepala untuk melihat siapa yang datang. Matanya masih menelusuri baris-baris angka di depannya. Penanya bergerak otomatis menandai bagian yang perlu direvisi. Barulah ketika tidak ada suara apa pun setelah pintu terbuka, Zivanya mendongak. Ariyan berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih yang lengannya digulung sebatas siku. Warna dan gaya favoritnya. Zivanya meletakkan pena. “Ada perlu apa?" tanyanya formal. Ariyan melangkah lebih dekat lalu tanpa permisi duduk di kursi di seberang meja Zivanya. “Lagi sibuk?” tanyanya melihat meja Zivanya yang dipenuhi oleh kertas. Zivanya menjawab dengan anggukan dan menunggu Ariyan menyampaikan maksud kedatangannya. Tetapi lelaki itu tidak kunjung bersuara sehingga Zivanya kembali bertanya, “Ada yang ingin dibahas tentang pekerjaan?” “Aku cuma mau

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 189

    Di kamar tidurnya yang luas dan sunyi, Zivanya duduk termenung di tepi ranjang memproses semua yang dialaminya hari ini. Perhatiannya kemudian tertuju pada kado dari Kaivan. Zivanya melangkah mendekat, mengambil kado itu.​Dengan hati-hati, Zivanya menarik ujung pita dan membuka kertas pembungkusnya. Di dalam kotak terdapat sebuah wadah kayu berukir. Saat tutup kotak kayu itu terangkat, sepasang mata indah Zivanya seketika melebar. Di atas bantalan kain di dalam kotak tersebut tergeletak sebuah benda logam berwarna silver. Sebuah kunci.​Zivanya mematung selama beberapa detik. Didorong oleh rasa penasaran, Zivanya segera mengambil ponsel. Ia membuka aplikasi pesan dan langsung mencari nama Kaivan.​[Kai, aku baru aja buka kado dari kamu. Ini kunci apa? Kamu nggak salah masukin barang ke dalam kotaknya, kan?]​Hanya dalam hitungan detik, status di bawah nama Kaivan berubah menjadi Online, disusul dengan baris tulisan Typing...​[Belum tidur? Syukurlah kalau udah dibuka. Jawabannya ada

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 188

    Langkah kaki Ariyan terasa begitu berat saat ia melangkah memasuki rumah. Pria bertubuh menjulang itu tampak seperti raga tanpa jiwa. ​Di tangan kanannya, buket bunga mawar merah yang sedianya ia berikan untuk Zivanya tampak merunduk, seolah menjadi saksi bisu hancurnya harapan sang pemilik. Sementara di tangan kirinya, kotak kado berisi perhiasan indah masih tergenggam erat. Zivanya bahkan tidak sudi menyentuh ujung kertas pembungkusnya sedikit pun, dan membiarkannya menggantung sia-sia di udara sebelum akhirnya diusir pergi.​Ariyan mengembuskan napas lelah seraya melangkah menuju ruang keluarga yang lampunya masih menyala. Ia mengira kedua orang tuanya sudah tidur karena waktu telah melewati tengah malam. Namun ternyata, di atas sofa berdesain klasik, Jeandra masih duduk dengan tenang sembari membaca buku.Seolah menyadari langkah kaki yang mendekat, Jeandra mengangkat wajah dari layar handphone. Mata pria tampak gagah di usianya yang tidak lagi muda itu langsung tertuju pada put

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 187

    Seluruh sendi di tubuh Zivanya mendadak mati rasa mendengar untaian kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Ariyan. ​Ia tidak salah dengar, kan? Ariyan baru saja mengajaknya untuk kembali membangun rumah tangga? Menyalakan kembali api yang telah lama padam dan abu yang sudah ia sapu bersih dari hidupnya?​Gila. Ini benar-benar gila.​Hanya dalam rentang waktu beberapa jam di malam yang sama, dunia Zivanya seolah dijungkirbalikkan oleh dua orang lelaki. Baru tadi di restoran, ia memantapkan hati, menepis keraguan, dan menyambut uluran komitmen masa depan dari Kaivan. Pria yang sejak bertahun-tahun selalu ada untuk memeluk dunianya dan Kaisar saat runtuh tak bersisa. Namun kini, di ambang pintu rumahnya sendiri, mantan suaminya datang membawa penyesalan yang terlambat.Saat Zivanya menatap wajah Ariyan lebih lekat, ia bisa melihat betapa putus asanya laki-laki itu. Tetapi hal itulah yang membuat Zivanya merasa segalanya menjadi semakin tidak masuk akal.​Kenapa sekarang? Kenapa sete

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 22

    “Ariyan!” panggil Aira lantaran tidak mendengar suara Ariyan. “Aku mual, nggak sanggup sendiri.”Zivanya menarik napas panjang, membiarkan keheningan malam menambah kesan dingin dalam suaranya. Ia tersenyum tipis saat membayangkan ekspresi Aira di seberang sana.​"Halo, Kak Aira. Maaf ya, Ariyan la

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 21

    Zivanya turun dari atas Ariyan kemudian meninggalkan tempat tidur. Ia mengambil jubah mandi yang tersampir di kursi, mengenakannya, dan mengikat talinya dengan kencang. Ia berdiri di sisi tempat tidur, memandangi Ariyan yang masih berbaring telentang sambil mencoba mengatur napas.​"Kamu kayaknya l

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 20

    Ariyan membiarkan dirinya didorong hingga jatuh terduduk di tempat tidur. Matanya tidak berkedip menatap Zivanya yang kini berdiri di depannya.Pelan-pelan, Zivanya menyingkap gaunnya, menanggalkan kain tipis itu hingga jatuh menumpuk di lantai, menyisakan tubuhnya yang hanya dibalut cahaya lampu t

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 19

    Ariyan masih termangu duduk di tepi tempat tidur memandangi pintu kamar mandi yang tertutup setelah Zivanya masuk ke sana. Pikirannya benar-benar kacau memikirkan kelakuan istrinya yang aneh malam ini.Ia lalu melihat buku tebal yang tergeletak begitu saja. Diambilnya buku itu. Keningnya sontak be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status