MasukSosok berkacamata itu berjalan mendekat menghampiri Zivanya yang masih mencoba menguasai diri mengendalikan keterkejutannya.“Hai, Ziva, selamat ya atas acara syukurannya. Aku ikut senang deh.”“Makasih. Siapa yang ngundang kamu ke sini, Kak?”Seulas senyum tipis terukir di bibir Aira yang dipulas lipstik berwarna burgundy."Nggak perlu ada yang mengundangku, Ziva. Rumah ini, kan, sudah seperti rumahku sendiri," jawab Aira santai dengan suara mengalun rendah yang menusuk. Ia melangkah lebih dekat hingga hampir tidak berjarak dengan Zivanya lalu melirik perutnya. "Lagian, sebagai sesama perempuan yang sedang mengandung, aku tentu harus menunjukkan dukunganku, kan?" lanjut Aira setengah berbisik, sembari sebelah tangannya mengusap permukaan perutnya sendiri di balik blus longgar yang ia kenakan."Kak Aira, aku nggak tahu apa tujuanmu datang ke sini. Tapi tolong pergi dari sini sebelum–”"Sebelum apa, Ziva? Sebelum Mama mertuamu melihat?" potong Aira cepat lalu tertawa lepas. "Aku ma
Acara syukuran kehamilan Zivanya akhirnya tiba. Kediaman mewah mereka hari itu dibanjiri oleh para tamu dan anak-anak dari panti asuhan. Lantunan ayat-ayat suci dari puluhan anak yatim bergaung khidmat yang menambah kesakralan acara tersebut. Orang tua dan mertua Zivanya tampak begitu bahagia. Senyum ceria tidak habis-habis dari wajah mereka. Di balik penampilannya yang anggun, Zivanya merasa sangat bersalah telah membohongi orang-orang. Gara-gara Ariyan, ia berdosa. Tangannya yang dingin terus meremas jemarinya sendiri. Setiap kali ada tamu yang menyalami dan mendoakan kandungannya yang sudah masuk lima bulan, jantung Zivanya berdegup dua kali lebih cepat. Ia melirik Ariyan yang berdiri di sisinya. Pria itu tampak teramat tenang, sesekali mengulas senyum tipis seolah tidak ada beban bom waktu yang sedang mengintai mereka. Setelah sesi doa bersama selesai, para tamu dipersilakan menikmati hidangan. Kesempatan itu digunakan Zivanya untuk memisahkan diri dari Ariyan. "Selamat
Ariyan membalas tatapan Aira jauh lebih tajam dari yang perempuan itu berikan. Selamat ini Aira berada di bawah kendalinya. Ariyan memenuhi semua kebutuhannya, selalu menuruti apa pun yang ia inginkan. Tapi entah mengapa kali ini perempuan itu melawan.“Kita akan ke Singapura, tapi tunggu dulu setelah acara itu selesai,” kata Ariyan membujuk, berharap Aira akan luluh.“Aku nggak mau. Aku maunya lusa,” tolak Aira lugas.“Kamu kenapa sih, Ra? Aku cuma minta sabar sedikit. Apa susahnya?” Aira betul-betul menguji kesabaran Ariyan. “Dari dulu aku sabar. Dan sekarang kesabaranku sudah habis. Aku tetap akan datang ke acara itu dan bicara sama Mama.”“Jangan, Ra. Aku bilang jangan. Jangan hancurkan semuanya karena kecemburuan kamu. Kalau memang kamu ingin acara syukuran seperti Zivanya aku akan kasih lebih dari itu.”Aira tertawa terpingkal-pingkal bersama cengkeraman Ariyan yang ia lepaskan dari tangannya dengan paksa."Uang lagi? Kemewahan lagi? Kamu pikir semua itu bisa menutup mulut ora
“Mami mau bikin acara syukuran kehamilanku. Mami dan lain mikir kandunganku udah lima bulan. Aku nggak tahu harus bilang apa kalau anakku belum lahir di bulan ke sembilan menurut mereka.” Zivanya langsung mengadu saat Ariyan pulang hari itu. “Tenang aja,” jawab Ariyan ringan yang kemudian duduk di dekat Zivanya. “Gimana aku bisa tenang? Empat bulan lagi mereka bakal nuntut aku untuk melahirkan! Sementara kandungan asliku baru tujuh bulan." "Jangan khawatir. Aku yang cari solusi.” Zivanya ternganga. Ia menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Maksud kamu solusi apa?” Ariyan mengambil napas sebelum menjawab. Ia terlihat tetap tenang seolah tidak ada masalah apa-apa. “Empat bulan lagi masih lama, Ziva. Masih ada waktu. Biar aku yang cari cara. Kamu tinggal duduk manis jaga kandungan. Jangan sampai anakmu yang satunya juga ikut gugur.” Zivanya tertegun mendengarkan untaian kata yang meluncur dari bibir suaminya. Rasa sakit menohok hatinya, tapi ia memilih untuk tidak m
Saat Zivanya melangkah keluar kamar di hari berikutnya, ia mendapati suaminya tidak sendirian. Di ruang tengah, seorang wanita paruh baya sedang duduk di hadapan Ariyan.Mendengar langkah kaki bersandal mendekat, Ariyan yang semula sedang bicara langsung menoleh. Ekspresi datarnya seketika mencair, berganti dengan gurat kehangatan yang mendadak terpasang."Eh, kamu sudah bangun, Sayang?" sapa Ariyan. Ia melangkah mendekat, lalu dengan natural melingkarkan tangannya di punggung Zivanya, menuntun istrinya dengan gestur yang teramat lembut.Zivanya sempat menegang akibat kontak fisik yang tiba-tiba itu, namun ia menahan diri untuk tidak memberontak saat menyadari ada sepasang mata lain yang sedang memerhatikan mereka."Ziva, kenalin, ini Bi Jumi. Mulai hari ini Bi Jumi akan tinggal di sini untuk mengurus semua kebutuhan rumah dan bantu jaga kamu kalau aku nggak ada.”Bi Jumi segera membungkuk hormat dengan senyum yang terkembang di wajah keriputnya.
Aira tersentak saat menyadari kemunculan istri kekasihnya. Ia buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk di tengah kasur. Namun, alih-alih merasa bersalah karena tertangkap basah, ia malah menyapa Zivanya dengan ramah."Oh, udah pulang?" tanyanya begitu santai.Ia merapikan pakaiannya sedikit lalu turun dengan gerakan lambat. "Maaf ya, Ziva. Tadi aku agak pusing, jadi numpang rebahan sebentar di sini."Zivanya tidak mendengarkan rentetan kalimat Aira. Matanya bergerak lambat, menatap sprei yang kini sedikit kusut karena bekas tubuh wanita lain. Sudut matanya terasa panas. Memanas bukan karena air mata kesedihan, melainkan oleh harga diri yang diinjak-injak hingga lumat di rumahnya sendiri."Nggak punya sopan-santun ya kamu? Ini kamar suami istri, bukan penginapan selingkuhan. Keluar sekarang sebelum aku seret kamu!” usir Kaivan yang juga muak pada Aira. Aira kaget mendengar bentakan keras Kaivan, namun ia tetap berusaha menegakkan kepalanya. Ia merasa aman karena tahu Ariyan ada d







