تسجيل الدخول"Meeting sama siapa sih, Pak? Tumben ke hotel, biasanya juga ke cafe," bisik Maura curiga saat mereka sudah berdiri di depan meja resepsionis yang megah."Sama klien penting," jawab Bumi tanpa ekspresi apaapun, menyodorkan kartu identitas dan kartu kreditnya pada staf hotel. "Kamar executive suite, ya," ucapnya mulus.Maura yang mendengar itu seketika melebarkan matanya. Dia memegang baju belakang suaminya, "Kok malah pesen kamar?! Katanya ada meeting?!" dia baru 'ngeh'. Ngapain meeting malah pesen kamar?"Iya, meeting privat," bisik Bumi tepat di samping telinga Maura, suaranya berubah menjadi makin berat dan dalam. "Ikut aja, nanti juga tau sendiri." kata Bumi.Maura cuma mencibir, tapi pada akhirnya tetap mengekor pasrah di belakang Bumi.Langkahnya santai melintasi marmer mewah bernuansa elegan sambil matanya berbinar-binar memandangi sekeliling. Mumpung ada di sini, lumayan kan? Maura belum pernah masuk ke hotel semegah dan seluksurius ini.Lampu gantung kristalnya tinggi menjula
Maura memilih diam. Dia masih sangat jengkel sebenarnya. Mengingat bagaimana beberapa hari ini ia disudutkan, diragukan, dan dipaksa mengalah, dadanya masih terasa panas. Daripada pada akhirnya ia meledak dan marah-marah di dalam mobil, Maura memilih rapat membungkam bibirnya, menatap lurus ke arah jalan raya.Bumi yang sungkan karena suasana makin canggung, akhirnya yang menyahut halus."Bumi sudah berusaha cari pria itu, Pa. Tapi belum ada tanda-tanda ketemu. Karena katanya dia ada di Jerman," kata Bumi tenang, tetap fokus menatap spion dan jalanan di hadapannya.Papa menghembuskan napas panjang, berat dan sarat akan kecewa yang tak bersisa."Iya, Nak... Papa udah pasrah aja. Mau gimana lagi," kata Papa. Pria paruh baya itu menatap Punggung Bumi dengan tatapan bersalah. "Maafin Dira ya, Bum." lanjutnya parau.Bumi cuma tersenyum tipis, mengangguk pelan tanpa menghakimi lebih jauh.Setelahnya, kabin mobil kembali sunyi senyap. Tidak ada lagi percakapan hingga mobil hitam itu akhirnya
"No- nol persen?" bisik Dira terbata.Dia lalu melirik cek di depannya, lalu menoleh ke Bumi yang wajahnya sudah dipenuhi rona marah yang membakar.Matanya krmudian beralih ke sudut sofa, mendapati Papanya yang tampak menahan murka. Terakhir, Dira kebali menatap dokter Julian.Matanya mengernyit penuh tanya bercampur panik. "Maksud Dokter?" desisnya dengan suara gemetar."Silakan ambil lagi uang Anda. Saya tidak butuh uang," kata Julian dingin tanpa emosi, menatap Dira lurus tanpa goyah sedikit pun."Maksud kamu apa, Dira?!" desis Bumi. Suaranya rendah, mengancam. Ternyata Dira yang sama, bisa jadi sepicik itu."APA-APAAN KAMU, DIRA!!" sedetik setelahnya suara sang Papa melengking dari sisi ruangan, memecah keheningan yang tersisa.Papa bangkit berdiri dengan napas memburu, matanya memerah menatap anak pertamanya itu.Sang Mama buru-buru memegang lengan suaminya, menahannya dengan wajah pucat. Kalau tidak, ruangan itu sudah koyak, jadi ring tinju.Tapi Papa masih terus memaki, meluapk
Ruangan dokter Julian terbilang sangat luas untuk ukuran ruang praktik poliklinik spesialis. Dinding berpenerangan lembut dan aroma aromaterapi lavender tak mampu mengikis hawa dingin yang menguar dari pendingin udara.Di sudut ruangan, tepat di sofa, Papa, Mama, dan Maura duduk berdampingan. Maura meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, menatap lurus ke arah suaminya. Mencari dusta dari segala hal yang dijanjikan pria itu kemarin-kemarin.Sedang tepat di hadapan meja kerja mahoni yang megah, Bumi dan Dira duduk bersebelahan. Jarak mereka yang dipisahkan oleh hamparan meja kayu tebal terasa bagai benteng pertahanan.Di atas meja, persis di hadapan dr. Julian, sebuah amplop cokelat berstempel resmi laboratorium medis tergeletak tenang. Amplop tipis yang memegang kunci dari seluruh kekacauan keluarga mereka.Suasana mendadak dingin. Keheningan merayap begitu pekat hingga suara detik jarum jam di dinding terdengar bagai dentuman keras.Tak ada yang bersuara. Tatapan mata Papa dan Mam
"Ya?" sapa Bumi datar.Merekabaru perjalanan pulang. Bumi baru sajamegangkat telepon, yang entah, Mauratak tahu dari siapa.Musik pop santai yang mengalun dari pengeras suara mobil, di kecilkan oleh pria itu.Cengiran jahil yang tadinya menghiasi wajah tampan dosen itu mendadak lumer dalam sekejap. Tatapan matanya menajam, ke arah jalanan."Enggak," kata Bumi sesaat kemudian. Tak ada lanjutan, haya itu.Maura yang ada di kursi penumpang refleks merapatkan bibir. Dia menoleh perlahan, mengamati perubahan raut wajah suaminya.Dari seberang sana, terdengar suara seseorang yang berbicara dengan nada cepat dan penuh desakan. Maura tidak bisa mendengar kata-katanya secara jelas."Ya. Besok sesuai jadwal," balas Bumi lagi, hemat kata.Setelah mendengar beberapa patah kata terakhir dari si penelepon selama dua menit yang terasa begitu lama, Bumi akhirnya mematikan sambungan.Keheningan mendadak melingkupi kabin mobil.Maura mengerjap, menatap suaminya dari samping dengan mata membulat heran.
Dengan tas ransel yang menggantung santai di bahunya, Maura berdiri menyandar pada salah satu tiang beton di tepian parkiran dosen. Angin sore yang sepoi-sepoi memainkan ujung rambutnya, mengusir hawa panas yang menyengat di setengah sore itu. Matanya sesekali melirik jam di pergelangan tangan, sudah lima belas menit dari jam tiga sore, tapi Bumi belum juga menampakkan tanda-tanda bakal melenggang ke arah mobilnya.Lokasi parkiran dosen yang berbatasan langsung dengan jalur utama menuju parkiran mahasiswa membuat Maura merasa seperti sedang berdiri di atas panggung eksekusi. Setiap derap langkah kaki yang melintas sukses membuat jantungnya melompat panik."Eh, Maura! Belum balik lo?!"Suara itu mengejutkannya. Maura mendongak dan menemukan dua teman seangkatannya, sedang berjalan beriringan sambil mebawa helm masing-masing."Eh- belum, May," sahut Maura cepat, memaksakan senyum paling natural yang dia punya demi menutupi rasa was-was. Dia buru-buru menegakkan tubuhnya, celingukan, tam
"Lo yakin aman?" kata Risti saat Maura mulai memejamkan mata.Bus baru saja berangkat, Maura duduk tepat di samping Risti, sementara Leon ada di kursi depan mereka, bersama seorang adik tingkat."Aman," gumam Maura, mengubah posisinya agar lebih nyaman."Itu Lo udah gak sakit lagi?""CK." decak Mau
"Bapak punya?" tanya Maura setengah tidak percaya. Sejak kapan dosen tiran bermuka tembok seperti Bumi menyimpan obat pereda nyeri di ruangannya."Ada," jawab Bumi pendek.Bukannya langsung berbalik mengambil obat, Bumi justru melangkah maju. Langkah kakinya yang lebar memangkas jarak di antara mer
"Habis dihajar paksu kayaknya, lo ya?!" tebak Risti tiba-tiba. Matanya memicing tajam, senyum jahil mulai terbit tipis di bibirnya.Seperti di tonjok tepat di pipi, wajah gadis itu langsung merona tanpa diminta.Dan tanpa bisa dibantah, itu menjadi konfirmasi kalau tuduhan itu benar."IYA RIS! FIX
"Ta- tapi cuma-""Seharusnya kita udah sah, kan?" potong Bumi. Suaranya tenggelam dalam intonasi rendah yang begitu dominan.Sebelum Maura sempat menyusun argumen pembelaan, Bumi meraih salah satu tangan Maura yang tadinya menahan dada bidangnya. Pria itu menariknya pelan, lalu mengecup punggung ta







