مشاركة

149.

مؤلف: anfebizha
last update تاريخ النشر: 2026-07-08 16:28:49

Dira, yang sejak tadi mengawasi setiap gerak-gerik Bumi dalam diam, langsung menajamkan pendengarannya ketika melihat pria itu mengambil HP-nya, dan menghubugi seseorang.

"Di mana, Sayang?" suara Bumi terdengar rendah, mengalir begitu alami tanpa paksaan.

Dira memicing.

Mendengar Bumi memanggil 'sayang' kepada orang lain, panggilan yang dulu hanya menjadi miliknya. Membuat wajahnyaa mendadak terasa panas terbakar.

Bumi tampak mendengarkan sejenak, matanya menatap keluar jendela.

"Iya kah? Aku b
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (7)
goodnovel comment avatar
Diah Ramayanti
iya bener krna ada eps brp gtu , maura tanya kok ceo legal mw2nya ngajar sastra yg g ada hubungannya sama legal, trs bumi cm blng rahasia atau apa gtu , jd spekulasi bumi emng udah mendam perasaan ke maura kemungkinan adalah fakta,
goodnovel comment avatar
Virgopurple
Ayo up lagi dong thor heheh ngelunjak yaa aku
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
dengar Dira ngmg gitu, jangan2 dl bumi emang suka Ama Maura dulu,hehe cuma krn masih bocah jadi pindah ke Dira. trus jgn2 bumi jadi dosen sastra juga Krn Maura? secara dia kan sarjana hukum ya, tp ngajar sastra. jadi inget waktu Maura nanya kenapa bisa nyasar jd dosen sastra? hehe..cuma nebak aja ya
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Istri Pengganti Mas Dosen   206.

    "Meeting sama siapa sih, Pak? Tumben ke hotel, biasanya juga ke cafe," bisik Maura curiga saat mereka sudah berdiri di depan meja resepsionis yang megah."Sama klien penting," jawab Bumi tanpa ekspresi apaapun, menyodorkan kartu identitas dan kartu kreditnya pada staf hotel. "Kamar executive suite, ya," ucapnya mulus.Maura yang mendengar itu seketika melebarkan matanya. Dia memegang baju belakang suaminya, "Kok malah pesen kamar?! Katanya ada meeting?!" dia baru 'ngeh'. Ngapain meeting malah pesen kamar?"Iya, meeting privat," bisik Bumi tepat di samping telinga Maura, suaranya berubah menjadi makin berat dan dalam. "Ikut aja, nanti juga tau sendiri." kata Bumi.Maura cuma mencibir, tapi pada akhirnya tetap mengekor pasrah di belakang Bumi.Langkahnya santai melintasi marmer mewah bernuansa elegan sambil matanya berbinar-binar memandangi sekeliling. Mumpung ada di sini, lumayan kan? Maura belum pernah masuk ke hotel semegah dan seluksurius ini.Lampu gantung kristalnya tinggi menjula

  • Istri Pengganti Mas Dosen   205.

    Maura memilih diam. Dia masih sangat jengkel sebenarnya. Mengingat bagaimana beberapa hari ini ia disudutkan, diragukan, dan dipaksa mengalah, dadanya masih terasa panas. Daripada pada akhirnya ia meledak dan marah-marah di dalam mobil, Maura memilih rapat membungkam bibirnya, menatap lurus ke arah jalan raya.Bumi yang sungkan karena suasana makin canggung, akhirnya yang menyahut halus."Bumi sudah berusaha cari pria itu, Pa. Tapi belum ada tanda-tanda ketemu. Karena katanya dia ada di Jerman," kata Bumi tenang, tetap fokus menatap spion dan jalanan di hadapannya.Papa menghembuskan napas panjang, berat dan sarat akan kecewa yang tak bersisa."Iya, Nak... Papa udah pasrah aja. Mau gimana lagi," kata Papa. Pria paruh baya itu menatap Punggung Bumi dengan tatapan bersalah. "Maafin Dira ya, Bum." lanjutnya parau.Bumi cuma tersenyum tipis, mengangguk pelan tanpa menghakimi lebih jauh.Setelahnya, kabin mobil kembali sunyi senyap. Tidak ada lagi percakapan hingga mobil hitam itu akhirnya

  • Istri Pengganti Mas Dosen   204.

    "No- nol persen?" bisik Dira terbata.Dia lalu melirik cek di depannya, lalu menoleh ke Bumi yang wajahnya sudah dipenuhi rona marah yang membakar.Matanya krmudian beralih ke sudut sofa, mendapati Papanya yang tampak menahan murka. Terakhir, Dira kebali menatap dokter Julian.Matanya mengernyit penuh tanya bercampur panik. "Maksud Dokter?" desisnya dengan suara gemetar."Silakan ambil lagi uang Anda. Saya tidak butuh uang," kata Julian dingin tanpa emosi, menatap Dira lurus tanpa goyah sedikit pun."Maksud kamu apa, Dira?!" desis Bumi. Suaranya rendah, mengancam. Ternyata Dira yang sama, bisa jadi sepicik itu."APA-APAAN KAMU, DIRA!!" sedetik setelahnya suara sang Papa melengking dari sisi ruangan, memecah keheningan yang tersisa.Papa bangkit berdiri dengan napas memburu, matanya memerah menatap anak pertamanya itu.Sang Mama buru-buru memegang lengan suaminya, menahannya dengan wajah pucat. Kalau tidak, ruangan itu sudah koyak, jadi ring tinju.Tapi Papa masih terus memaki, meluapk

  • Istri Pengganti Mas Dosen   203.

    Ruangan dokter Julian terbilang sangat luas untuk ukuran ruang praktik poliklinik spesialis. Dinding berpenerangan lembut dan aroma aromaterapi lavender tak mampu mengikis hawa dingin yang menguar dari pendingin udara.Di sudut ruangan, tepat di sofa, Papa, Mama, dan Maura duduk berdampingan. Maura meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, menatap lurus ke arah suaminya. Mencari dusta dari segala hal yang dijanjikan pria itu kemarin-kemarin.Sedang tepat di hadapan meja kerja mahoni yang megah, Bumi dan Dira duduk bersebelahan. Jarak mereka yang dipisahkan oleh hamparan meja kayu tebal terasa bagai benteng pertahanan.Di atas meja, persis di hadapan dr. Julian, sebuah amplop cokelat berstempel resmi laboratorium medis tergeletak tenang. Amplop tipis yang memegang kunci dari seluruh kekacauan keluarga mereka.Suasana mendadak dingin. Keheningan merayap begitu pekat hingga suara detik jarum jam di dinding terdengar bagai dentuman keras.Tak ada yang bersuara. Tatapan mata Papa dan Mam

  • Istri Pengganti Mas Dosen   202.

    "Ya?" sapa Bumi datar.Merekabaru perjalanan pulang. Bumi baru sajamegangkat telepon, yang entah, Mauratak tahu dari siapa.Musik pop santai yang mengalun dari pengeras suara mobil, di kecilkan oleh pria itu.Cengiran jahil yang tadinya menghiasi wajah tampan dosen itu mendadak lumer dalam sekejap. Tatapan matanya menajam, ke arah jalanan."Enggak," kata Bumi sesaat kemudian. Tak ada lanjutan, haya itu.Maura yang ada di kursi penumpang refleks merapatkan bibir. Dia menoleh perlahan, mengamati perubahan raut wajah suaminya.Dari seberang sana, terdengar suara seseorang yang berbicara dengan nada cepat dan penuh desakan. Maura tidak bisa mendengar kata-katanya secara jelas."Ya. Besok sesuai jadwal," balas Bumi lagi, hemat kata.Setelah mendengar beberapa patah kata terakhir dari si penelepon selama dua menit yang terasa begitu lama, Bumi akhirnya mematikan sambungan.Keheningan mendadak melingkupi kabin mobil.Maura mengerjap, menatap suaminya dari samping dengan mata membulat heran.

  • Istri Pengganti Mas Dosen   201.

    Dengan tas ransel yang menggantung santai di bahunya, Maura berdiri menyandar pada salah satu tiang beton di tepian parkiran dosen. Angin sore yang sepoi-sepoi memainkan ujung rambutnya, mengusir hawa panas yang menyengat di setengah sore itu. Matanya sesekali melirik jam di pergelangan tangan, sudah lima belas menit dari jam tiga sore, tapi Bumi belum juga menampakkan tanda-tanda bakal melenggang ke arah mobilnya.Lokasi parkiran dosen yang berbatasan langsung dengan jalur utama menuju parkiran mahasiswa membuat Maura merasa seperti sedang berdiri di atas panggung eksekusi. Setiap derap langkah kaki yang melintas sukses membuat jantungnya melompat panik."Eh, Maura! Belum balik lo?!"Suara itu mengejutkannya. Maura mendongak dan menemukan dua teman seangkatannya, sedang berjalan beriringan sambil mebawa helm masing-masing."Eh- belum, May," sahut Maura cepat, memaksakan senyum paling natural yang dia punya demi menutupi rasa was-was. Dia buru-buru menegakkan tubuhnya, celingukan, tam

  • Istri Pengganti Mas Dosen   111.

    "Lo yakin aman?" kata Risti saat Maura mulai memejamkan mata.Bus baru saja berangkat, Maura duduk tepat di samping Risti, sementara Leon ada di kursi depan mereka, bersama seorang adik tingkat."Aman," gumam Maura, mengubah posisinya agar lebih nyaman."Itu Lo udah gak sakit lagi?""CK." decak Mau

  • Istri Pengganti Mas Dosen   106.

    "Bapak punya?" tanya Maura setengah tidak percaya. Sejak kapan dosen tiran bermuka tembok seperti Bumi menyimpan obat pereda nyeri di ruangannya."Ada," jawab Bumi pendek.Bukannya langsung berbalik mengambil obat, Bumi justru melangkah maju. Langkah kakinya yang lebar memangkas jarak di antara mer

  • Istri Pengganti Mas Dosen   104.

    "Habis dihajar paksu kayaknya, lo ya?!" tebak Risti tiba-tiba. Matanya memicing tajam, senyum jahil mulai terbit tipis di bibirnya.Seperti di tonjok tepat di pipi, wajah gadis itu langsung merona tanpa diminta.Dan tanpa bisa dibantah, itu menjadi konfirmasi kalau tuduhan itu benar."IYA RIS! FIX

  • Istri Pengganti Mas Dosen   94.

    "Ta- tapi cuma-""Seharusnya kita udah sah, kan?" potong Bumi. Suaranya tenggelam dalam intonasi rendah yang begitu dominan.Sebelum Maura sempat menyusun argumen pembelaan, Bumi meraih salah satu tangan Maura yang tadinya menahan dada bidangnya. Pria itu menariknya pelan, lalu mengecup punggung ta

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status