"Ada satu lokasi yang Mas minat, tapi nggak tahu kamu suka atau enggak," tutur Bumi tenang. "Ada empat kamar. Yang satu khusus buat Ragil, rencanaku.""Aku?" Ragil menunjuk dadanya sendiri dengan sendok, matanya melotot kaget sampai suapan nasinya tertunda di udara."Iya, siapa lagi," kata Bumi lempeng, menatap adik iparnya itu tanpa kedipan. "Tapi syaratnya kuliah yang bener.""Aku mau ngekos aja kalau udah kerja, Mas. Mana bisa aku ngerusuh terus di rumah Mas Bumi," kata Ragil sungkan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Bumi menaruh sendoknya perlahan. "Kamu bantuin Mbakmu. Mbakmu sebentar lagi mau lahiran, dan dia enggak mau nyari ART yang menetap, cuma mau cari baby sitter. Kamu bisa bantuin Mbakmu masak atau ngapain gitu di rumah. Nggak kasihan kamu sama Mbakmu?" kata Bumi panjang lebar, suaranya tenang namun sarat penekanan yang tak bisa dibantah."Tapi..." Ragil linglung, menoleh menatap Maura dan Bumi bergantian dengan raut serba salah.Maura yang dari tadi asyik mengunyah
더 보기