Di depan sang ibu, Ana masih mampu memaksakan seulas senyum. Meski terasa berat, ia tidak ingin Bu Mira melihat betapa hancurnya hatinya. Baginya, ketika ibunya tahu apa yang sedang terjadi, pasti sang ibu ikut bersedih, dan itu akan membuat luka di hati Ana semakin sakit."Ana masuk kamar dulu ya, Bu." pamit Ana setelah makan malam."Baiklah, istirahat yang cukup ya."Ana mengangguk pelan sebelum berbalik menuju kamarnya. Begitu pintu tertutup dan terkunci rapat, senyum yang sedari tadi dipaksakan langsung lenyap. Tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk di lantai, sementara isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan, dada ana sangat sesak.Bayangan Dino yang sedang berada diatas ranjang dengan Dina, sepupunya sendiri, terus berputar di dalam kepala Ana."Kenapa, kenapa harus Dina?" lirih Ana di sela tangisnya.Ana mencintai Dino sepenuh hati. Bahkan ia sudah membayangkan masa depan bersama pria itu. Namun semua impian itu hancur han
อ่านเพิ่มเติม