Deg!!Jantungku rasanya mau copot mendengar tuduhan random-nya."Eh, mana ada, Pak! L-lagian, saya mau ngapain sama istri majikan saya?" balasku terbata-bata, gugup setengah mati."Ya mana tau kalian ada main?" celetuk Pak Husen santai, matanya menyipit penuh selidik."Astaga, Pak Husen!" seruku, benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran bapak-bapak satu ini."Kalian di rumah cuma berdua doang, toh? Anak-anak majikanmu lagi nggak di rumah," timpal Pak Husen lagi, makin menjadi-jadi memojokkanku."Pak, s-saya..." Lidahku mendadak kelu, bingung harus menjelaskan situasinya.Beruntung, Bu Asih langsung menyambar dari balik etalase warung. "Omongan itu dijaga, Pak Husen! Jadi orang kok pikirannya mesum terus! Ini, mie sama berasnya! Jadi dibayarin ndak?!" semprot Bu Asih dengan nada galak.Aku menghela napas lega saat Bu Asih berhasil mengalihkan perhatian Pak Husen.Tanpa membuang waktu lagi, aku pun langsung cabut
続きを読む