"Iya, Dek. Gapapa kan ya? Biar enak aja nyelip-nyelip gitu.”Novaria hanya mengangguk. Dia kemudian naik ke jok belakang, tapi mengambil posisi duduk yang agak jauh dariku. Kedua tangannya bahkan diletakkan ke belakang, bertumpu pada behel pegangan motor. Jarak di antara kami jadi terasa renggang.‘Duh, kok dia duduknya gini amat, ya? Malah berasa jadi pasutri yang lagi berantem!’ batinku."Dek, nggak kemunduran duduknya? Entar jatuh loh," tegurku, merasa aneh.Mendengar itu, Novaria bergeser maju sedikit.Iya, benar-benar hanya sedikit.Jarak di antara kami tetap saja terasa renggang.Saking renggangnya, kalau seandainya ada tuyul gabut di pinggir jalan, dia pasti bisa ikutan nyelip duduk di tengah-tengah kami.Aku akhirnya hanya bisa menghela napas panjang, berusaha memakluminya.‘Mungkin dia nggak terbiasa boncengan sama cowok,’ pikirku.Sebenarnya aku juga ingin menyuruhnya memeluk pinggangku, daripad
続きを読む