Wajah Jetro yang berstruktur tegas terlihat jelas di bawah pencahayaan ruangan kerjanya yang mewah. Setelah lama tak bertemu muka, pria itu kini kelihatan jauh lebih matang dan berwibawa.Namun, yang paling membuat orang merinding adalah sepasang mata elang gelapnya.Tatapan mata Jetro tampak jauh lebih tajam, dingin, dan menusuk, seolah mampu menembus batasan layar digital. Bahkan, Sabiya merasa lelaki itu mampu menembus setiap rahasia terdalam yang ia sembunyikan.Begitu melihat latar belakang kamar hotel yang jelek, raut wajah Jetro seketika menegang "Kau tidak seharusnya berada di tempat seperti itu," ucap Jetro tanpa basa-basi. Suara baritonnya yang berat bergema dengan nada mutlak. Pria itu bahkan sudah bergerak, hendak meraih jas wolnya yang tersampir di sandaran kursi kerja."Jangan, Paman! Tolong jangan sekarang!" Sabiya langsung memotong dengan terburu-buru.Sabiya tahu betul di mana Jetro saat ini. Pria itu sedang berada di kota Monela, pusat tertinggi dari seluruh keraja
더 보기