Walau kondisinya masih lemah, Sabiya menggeser tubuhnya perlahan di atas kasur brankar. Lalu, dengan tangan yang tidak terpasang infus, ia meraih mangkuk bubur ayam di atas meja nakas. Sebenarnya, lidah Sabiya masih kebas, sama sekali tidak ada selera makan. Baginya, bubur itu tak lebih dari sekadar gumpalan putih yang hambar tanpa rasa.Namun, Sabiya memaksa dirinya sendiri. Pasalnya, jika ia menuruti ego dan menolak makanan ini, tubuhnya akan tetap lumpuh tanpa daya. Untuk menghadapi badai besar esok hari, ia membutuhkan pasokan tenaga. Maka, Sabiya memutuskan untuk menghabiskan bubur tersebut hingga tandas.Merasa energinya sedikit pulih, Sabiya mencoba menurunkan kedua kakinya ke lantai. Jemari pucatnya mencengkeram tiang besi penyangga infus untuk dijadikan tumpuan. Namun, begitu telapak kaki telanjangnya menyentuh permukaan ubin, lutut Sabiya mendadak gemetar. Persendian kakinya terasa begitu lunak, bak sepasang lilin yang meleleh di bawah suhu panas.Kakinya sama sekali tida
더 보기