Reya membeku saat punggungnya makin terhimpit dinding lift. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Hugo tanpa sedikit pun rasa takut, melainkan menyiratkan peringatan yang teramat dingin."Jangan salah paham, Tuan Hugo," bisik Reya tegas. "Aku berdiri di sini bukan untuk kau goda."Hugo terkekeh rendah, mengikis jarak hingga embusan napasnya yang hangat membakar kulit leher Reya. Mata kelam sang CEO itu bergulir turun, menggigit pelan ujung bibir bawahnya sendiri seraya menatap bibir ranum Reya yang masih sedikit bengkak. Sensasi aura intim itu begitu pekat, namun Hugo tahu batasnya. Ia perlahan menjauhkan tubuhnya saat pintu lift terbuka."Aku tidak akan ingkar janji kemarin," gumam Hugo dingin sebelum melangkah keluar.Reya pun langsung menarik napas dalam-dalam, dan segera ke ruang kerjanya mengabaikan sikap Hugo yang ia anggap biasa saja sebagai sikap klasik seorang playboy.Begitu sampai di ruang kerjanya, Reya mengunci pintu dari dalam. Dengan jemari bergetar, ia buru-buru me
더 보기