LOGINAku menatap Leon, matanya lurus ke depan, tangan mencengkeram setir dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ethan tertidur di kursi belakang, tubuh kecilnya terbungkus jaket Leon yang terlalu besar untuknya. Aku masih gemetar. Entah karena dingin, atau karena apa yang baru saja terjadi. Mungkin karena keduanya."Leon..." suaraku serak."Jangan bicara dulu," potongnya, masih tanpa menoleh. "Aku sedang berusaha untuk tidak berteriak."Aku menutup mulut. Kami melaju di jalanan malam yang sunyi.Mansion itu muncul di kejauhan. Begitu masuk ke gerbang besi besar, Clara sudah berdiri di teras, lengannya bersilang, wajahnya penuh tanya dan kekhawatiran.Aku merasakan perutku mulas. Aku sudah tahu bagaimana ini akan berakhir.Leon turun lebih dulu, membuka pintu belakang untuk menggendong Ethan yang masih tidur. Aku menyusul dengan langkah berat. Clara mendekat, matanya menatap Leon, lalu ke arahku."Apa yang terjadi?" tanya Clara.Leon menghela napas. "Nanti aku jelaskan.""Tidak. Jela
Leon melompat ke arah Richard. Tinjunya menghantam wajah Richard dengan keras, sekali, dua kali, sampai darah mengalir dari hidung Richard. Adrian dan Sebastian menarik Richard dari atas tubuhku dan mendorongnya ke dinding."Kau berani menyentuhnya?" teriak Leon.Richard tertawa, meskipun darah mengalir dari hidungnya. "Kau tidak bisa menyalahkanku, Leon. Dia yang datang ke klubku. Dia yang minum. Dia yang menari dengan pria lain. Aku hanya...""TUTUP MULUT!" Leon hampir meninju Richard lagi, tapi Adrian menahannya."Leon, cukup. Bawa Ana pergi. Kami yang urus Richard."Leon menggendongku. Tubuhku masih lemas, kepalaku masih pusing. Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa memejamkan mata dan membiarkan Leon membawaku pergi.Di apartemen Sebastian, mereka mendudukkanku di sofa. Aku masih lemas, masih pusing, tapi setidaknya aku sudah bisa berpikir sedikit jernih. Leon, Adrian, dan Sebastian berdiri di depanku seperti tiga hakim yang sedang mengadili seorang terdakwa."Apa yang kau
Aku melangkah keluar dari apartemen Sebastian dengan langkah berat.Aku masuk ke klub malam. Bukan klub biasa. Ini adalah salah satu klub paling eksklusif di London-tempat para pengusaha kaya, artis terkenal, dan orang-orang berkuasa berkumpul untuk melupakan masalah mereka. Lampu-lampu disko berputar-putar di atas lantai dansa, menciptakan pola-pola cahaya yang berkedip-kedip. Musik house berdentum keras, menggetarkan lantai, merambat ke tulang-tulang.Aku duduk di bar dan memesan minuman-whiskey, langsung, tanpa es. Aku meneguknya cepat, membiarkan rasa pahit membakar tenggorokanku. Aku ingin melupakan semuanya. Leon, Sebastian, Adrian, pernikahan kontrak, warisan, ancaman Richard, semua masalah yang tidak pernah selesai.Bartender itu, pria muda dengan rambut pirang dan tato di lengannya menatapku."Apa kau baik-baik saja?" tanyanya."Tidak. Tapi aku akan baik-baik saja.""Aku bisa membantu.""Aku tidak butuh bantuan."Dia tersenyum. "Kalau kau berubah pikiran, aku di sini."Aku ti
Aku buru-buru menarik selimut menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Wajahku panas, bukan karena gairah yang belum reda, tapi karena malu setengah mati. Ethan berdiri di ambang pintu dengan mata polosnya, tidak mengerti apa yang baru saja dia lihat. Di belakangnya, Leon berdiri dengan tangan dilipat di dada, wajahnya datar seperti biasa."Mommy, kenapa kamu telanjang?" tanya Ethan.Aku hampir mati malu. "Tidak. Aku tidak telanjang. Aku hanya berganti baju.""Tapi kamu belum ganti baju.""Mommy, sebentar lagi."Ethan mengangguk, tidak curiga. "Aku mau ke kebun binatang besok. Boleh?"Aku menghela napas lega karena topik berubah."Boleh, Sayang. Kita akan pergi.""Semua?"Aku mengerutkan dahi. "Semua?""Leon, Adrian, dan Sebastian. Aku mau mereka semua ikut."Aku menatap Leon. Dia masih berdiri di ambang pintu, masih menatapku dengan mata yang tidak bisa aku baca."Leon," panggil Ethan. "Kamu mau ikut, kan?"Leon mengalihkan pandangannya dari aku ke Ethan. Wajahnya yang tadinya tega
Aku pulang ke apartemen Sebastian dengan perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Sepanjang perjalanan, pikiranku terus berputar di ruang rahasia Leon, tiang kayu itu, tali merah yang masih menggantung, dan tatapan Leon yang penuh arti saat dia bertanya."Apa kau ingin mengulanginya?"Aku tidak menjawab. Aku belum bisa menjawab.Tapi tubuhku menjawab dengan caranya sendiri.Di taksi, di kursi penumpang, aku merasakan sesuatu yang aneh di antara kedua pahaku. Basah. Hangat. Berdenyut. Vaginaku berkedut tanpa aku bisa mengendalikannya. Setiap kali aku membayangkan tangan Leon di tubuhku, setiap kali aku mengingat suara Sebastian yang kasar di telingaku, setiap kali aku membayangkan ciuman Adrian yang lembut di bibirku, kedutan itu semakin kuat.Aku tidak munafik. Aku sangat merindukan sentuhan pria.Sudah bertahun tahun aku tidak disentuh. Sejak aku meninggalkan mereka, tidak ada pria yang menyentuhku. Tidak ada yang menciumku. Tidak ada yang memelukku. Aku hanya bekerja, menjaga Ethan, t
Hari Senin pagi, aku berdiri di depan mansion Leon untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Bangunan itu masih sama, megah, angkuh, dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang tinggi dan taman luas yang selalu terawat sempurna. Tidak ada yang berubah. Air mancur di halaman depan masih menyemburkan air setinggi tiga meter. Pohon-pohon rindang masih berjajar rapi di sepanjang jalan setapak. Bahkan aroma bunga-bunga di taman masih sama seperti dulu.Tapi aku sudah berbeda. Aku bukan lagi pembantu yang menunduk setiap kali melewati pintu ini. Aku bukan lagi istri kontrak yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Aku adalah Ana, ibu dari Ethan, wanita yang datang untuk mengurus hak warisan anaknya.Leon berjalan di depanku dengan langkah tegas. Jas hitamnya rapi, dasinya abu-abu, sepatunya mengilap. Dia tidak menoleh, tidak memperlambat langkah, tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Tapi aku tahu dia sadar bahwa aku di sini. Aku bisa merasakannya dari caranya dia menegangkan
"Jam kerjaku sudah selesai untuk hari ini," kataku."Kau tinggal di rumahku, kau makan di rumahku, kau tidur di rumahku. Selama kau di sini, kau ikut aturanku."Aku tersenyum, bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang sudah sering aku tunjukkan akhir-akhir ini."Aturanmu? Apa aturanmu?Bahwa aku boleh
Akhirnya, setelah lima hari di rumah sakit, aku diperbolehkan pulang.Dokter bilang jahitanku sudah mulai kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Aku masih harus istirahat total setidaknya seminggu lagi, tidak boleh melakukan aktivitas berat, dan tentu saja tidak boleh berhubungan intim.Leon men
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan







