Biasanya meja makan dipenuhi canda dan obrolan hangat, tapi tidak dengan malam itu. Keheningan mendominasi, menciptakan suasana yang lebih canggung. Arletha beberapa kali berusaha mencairkan keadaan, tetapi Randu hanya menanggapi seperlunya. Jawabannya selalu singkat, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.Bu Mawar yang duduk di sisi putrinya sesekali melirik Randu dengan tatapan penuh selidik. Semakin lama, ia semakin yakin ada sesuatu yang berubah pada diri menantunya. Hanya saja, ia belum mampu menebak apa penyebabnya.Sementara itu, Alana berdiri tenang di belakang kursi Randu. Sesekali ia memperhatikan gelas minum dan lauk di atas meja, memastikan semuanya tetap tersedia jika sewaktu-waktu dibutuhkan."Alana, tambahkan ayamnya!""Baik, Tuan."Alana baru saja hendak melangkah, tetapi Arletha lebih dulu bangkit dari duduknya."Biar aku saja, Sayang.""Tidak. Biarkan Alana saja." Tatapannya sekilas beralih kepada sang istri. "Bukankah dia memang bekerja untuk melayani kita
Zuletzt aktualisiert : 2026-07-08 Mehr lesen