Jenny terpaku di tempatnya, lidahnya mendadak kelu mendengar rentetan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Sandra. Ada rasa panas tidak nyaman saat menyaksikan sahabat terdekatnya sendiri mengakui hal tersebut secara terang-terangan. “San—” “Dengerin aku dulu!” potong Sandra cepat. “Aku tahu kamu pasti bakal marah besar sama aku, tapi aku beneran enggak punya pilihan lain, Jen.” Jenny menggelengkan kepalanya pelan, mundur satu langkah. “Kamu punya pilihan, San!” bentak Jenny, meskipun ia masih berusaha menahan volume suaranya agar tidak memancing perhatian orang sekitar. “Dari awal aku udah menolak dengan jelas, tapi kamu malah terus-terusan maksa.” “Kalau kamu memang suka sama pria brengsek itu, harusnya kamu jujur sama aku dari awal,” lanjut Jenny, sepasang matanya menatap tajam. “Kemarin itu kamu sengaja menjebakku, kan? Cuma demi menuruti kemauan pria enggak jelas itu!” Gurat wajah Sandra seketika berubah tegang. Garis rahangnya mengeras rapat, dan ia mulai melangkah maju
Last Updated : 2026-07-13 Read more