Ciuman pertama yang awalnya canggung dan dipenuhi kehati-hatian itu, dengan cepat berubah menjadi pagutan yang sangat dalam. Di bawah rintik hujan yang mengetuk atap seng kontrakan, Maya melingkarkan kedua lengannya di leher Wildan. Ia menarik tubuh pria itu lebih dekat, sarat akan kebutuhan emosional yang selama bertahun-tahun nyaris membunuhnya."Wil …," lenguh Maya di sela ciuman mereka, nafasnya memburu cepat."Saya di sini, Mbak. Saya nggak akan ke mana-mana," bisik Wildan dengan suara seraknya.Tangan besar Wildan yang kasar akibat oli mesin kini menangkup wajah Maya, memperlakukan sang nyonya dengan tingkat kehati-hatian yang nyaris menyerupai pemujaan."Buka bajuku, Wil. Sekarang," pinta Maya lugas, menatap langsung ke dalam manik mata pria itu.Wildan menghentikan gerakannya sejenak. "Mbak yakin? Badan Mbak masih penuh memar. Saya takut menyakiti luka-luka itu.""Aku lebih sakit kalau kamu berhenti, Wil. Tolong, sentuh aku."Mendengar permohonan putus asa itu, Wildan mengang
Last Updated : 2026-07-24 Read more