“Boleh saya tahu di mana alamat rumah beliau?” tanya Diana, berusaha menahan getar di suaranya. “Maaf, Bu.Kalau alamat pribadi beliau, kami tidak bisa memberikannya.” Ada jeda sesaat sebelum menambahkan. Kasir itu tampak berpikir sejenak. “Kenapa Ibu tidak menghubungi nomor asistennya langsung?”“Nomornya hilang saat saya ganti ponsel baru.” Alibi Diana cepat.Petugas itu mengangguk paham. “Oh, begini saja, Bu. Setahu saya, Pak Senopati hampir setiap sore dia sering mengecek cafe dan galeri binaannya. Coba Ibu temui di sana saja, WK Artspace & Cafe.”“Baik, terima kasih.” Sambut Diana sopan kemudian berbalik menuju pintu keluar rumah sakit. Tak jauh dari sana, Bibik Nila datang terengah-engah menghampirinya dengan menjinjing kantong keresek putih. “Ibu, maaf, saya agak lama. Tadi ketoprak langganan tutup, jadi saya muter cari makan di luar area rumah sakit.”“Tidak apa-apa, Nila. Kamu makan dulu di sini, habis ini kita pergi dari sini. Kita ke cafe. Saya ada perlu.” Potong Diana, m
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-27 Mehr lesen